RINTIH BOCAH DI POJOK LANGIT GAZA


AKU
karya : M I Firdaus*

Siapa aku?
tanyaku pada penjaga toko buku.
Ia bilang: aku tak punya cermin.
masuklah ke dalam, ada beribu rak buku.

Sambil tersedu kaki melaju
aku baca banyak buku Penyair di situ.
tiada sekalipun tersebut namaku.

Aku pandang rak pojok itu
buku-buku besar berjejer berdesak menyatu
disela-selanya, ada debu.
itulah kau!
kata penjaga toko buku sambil berlalu.

Bogor, 11 Januari 2018




GADIS LAMA
karya : M I Firdaus

Ini kali aku ingat cinta lama
Wajahnya bersemayam di gelanggang kalbuku.
Waktu berlalu sudah lama
wajahnya tetap merayu di setiap malamku.

Bantalku sunyi mengantar pada mimpi
Aku bertemu dengan gadis lamaku
Depanku ia berseri-seri
Tertegun badanku kaku batu.

Ia cantik bak bidadari
Rambutnya elok gelombang aurora
di matanya pelangi girang menari-nari
Senyumnya permata pelipur lara.

Tiba arunika terbangun aku
Damainya malam telah pergi
Aku berkata pada sukmaku:
Aku mau mimpi jadi abadi.

Bogor, 11 April 2018




AKU ADALAH SUNYI
Karya : M I Firdaus

Aku pergi, Sayang.
Menyerahkan segala luka kepada malam.
Kau, tidurlah, langit sepi sudah larut
Tak usah kau harapkan aku pulang lagi
nanti kau luka nganga lebar.
Tidurlah, Sayang.
Lupakan luka, kau tak sendiri.

Aku adalah sunyi di setiap malam yang kau lalui

Bogor, 06 Juni 2018




RINTIH BOCAH DI POJOK LANGIT GAZA
Karya : M I Firdaus

Aku tak pernah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sejarah.
Setiap waktu berburu cinta
tetapi yang aku temui hanya rasa sakit, nanah, dan darah.

Langit memerah
Merajalela kesedihan
merusak ayat-ayat perdamaian.
waktu pernah bicara:
Sejarah adalah rumahmu, dan keluargamu.

Ayah dan bunda mati, dimutilasi kebiadaban yang menjadi-jadi.
Adik dan kakak mati, dikoyak-koyak cakar kehewanan.
Sedangkan rumahku adalah keresahan
beratap langit merah, yang disesaki nyawa-nyawa yang terbang.

Deru rudal bertalu-talu
mengoyak hari-hari yang sepi
mengubah rumah-rumah jadi prasasti
yang bertuliskan bahasa-bahasa penderitaan.
Oooh!
Penderitaan!
dan tangisan.

O, ke mana saudaraku?
ke mana tempat berlindungku?

Sebelum aku mati,
Tengoklah olehmu halaman rumahku
mayat berserak, gersang perdamaian.
Dengarlah olehmu tangisan kawan-kawanku
tersedu sedan, meminta rasa kemanusiaan.

Kelak,
Waktu akan berbisik padamu:
Sejarah adalah rumahnya, keluarganya, juga dia.

Lihatlah aku dan gazaku, sebelum waktu mengubahnya menjadi elegi masa lalu.

Bogor, 27 Mei 2018

*Mohammad Ikhsan Firdaus. Siswa kelas XI di SMA Negeri 01 Megamendung. Aktif dalam ekskul sastra di sekolahnya yang bernama SAMUDRA (Sanggar Pemuda Bersastra). Ketua komunitas sastra di Bogor, yaitu Saung Sastra Bogor.



MERANGKAKI REMANG CAHYA PURNAMA
karya : M I Firdaus

Ini malam mata terjaga,
nada sumbang harmonika
mendengkur dari mulut aku punya.
Mengoyak sunyi, air mata bertakhta.
Angin masuk berderu lewat jendela yang terbuka
Lalu pergi lagi, membawa sedu sedanku
juga air mata.
aku melangkah, dan hanya termangu menghadap jendela:
Biarlah mereka bersenang-senang di manapun singgahnya.

Dan dalam benak terdapat suara:
Yang datang sekejap, mendidikku untuk tegar, setegar-tegarnya.

Aku merangkaki remang cahya purnama
dan aku berkata: aku 'kan cari cahya hidup yang aku punya.
Ooh! Akan ku cari, tak ada batasnya!
Ke pelosok mata, ke ujung suara, ke mana saja ia berada.
Karna fajarku musti terbit dengan maha terangnya!

Bogor, 07 Januari 2018

*Mohammad Ikhsan Firdaus. Siswa kelas XI di SMA Negeri 01 Megamendung. Aktif dalam ekskul sastra di sekolahnya yang bernama SAMUDRA (Sanggar Pemuda Bersastra). Ketua komunitas sastra di Bogor, yaitu Saung Sastra Bogor.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "RINTIH BOCAH DI POJOK LANGIT GAZA"

Post a Comment