JADILAH SEKUAT BIMA!

Bima, Werkudara, Wayang, Cute, Cartoon
oleh Angga, S.Pd.
“Bima, masuk!” suara keras terdengar dari dalam rumah. Kemudian, seorang anak laki-laki bertubuh gempal itu berlari ke dalam rumah, ia bergegas masuk dan duduk di ruangan tengah. Di atas kursi sofa yang berjajar rapi, tengah duduk seorang kakek tua dengan tangan menyilang di dada. Dia Nampak serius dengan tatapan yang tajam. Dia memperhatikan anak kecil yang baru masuk tadi dengan seksama.
“Sudahkah kamu mengerjakan PR sekolah dari Pak Arka tadi?” tanyanya pada anak kecil itu. Anak kecil itu terdiam sebentar, ia tak mampu menjawab. Kemudian, anak kecil itu memberanikan diri untuk menatap laki-laki tua yang tengah duduk di depannya.
“Belum Opah,” jawab anak kecil itu pelan.
“Mengapa belum? Cepat kerjakan!” perintah kakek tua itu dengan nada agak tinggi.
Bima adalah salah satu murid laki-laki di kelasku. Setiap hari Bima diantar oleh kakeknya ke sekolah. Kakek Bima adalah seorang pensiunan militer. Dia memperlakukan Bima seperti anaknya sendiri dengan didikan militer pastinya.
Ibunya Bima meninggal ketika melahirkannya. Sementara ayah Bima, dia bekerja di Bandung dan tinggal disana. Bima kini tinggal di rumah kakek dan neneknya. Dia tinggal di sebuah rumah mewah, Bima seperti burung di dalam sangkar emas.
“Pak Arka, perlakukanlah Bima seperti anak laki-laki yang kuat,” titah Kakek Bima kepadaku.
“Tentu saja, Pak! Semua anak saya perlakukan sama. Saya juga membimbing Bima untuk bisa selalu mengikuti setiap pelajaran yang saya berikan. Tapi …,” belum selesai dengan kalimatku, Kakek Bima sudah memotong pembicaraan.
“Tapi apa? Cucu saya lamban!” kata Kakek Bima, terasa seperti sebuah gertakan bagiku.
Bima adalah salah satu anak yang lamban dalam mengerjakan setiap lembar kerja dan tugas-tugas pelajaran yang ku berikan. Terkadang, ia hampir menangis dan marah-marah jika tertinggal oleh temannya yang lain.
“Bima, ayo lekas kerjakan semua tugas yang Bapak berikan! Kamu bisa menanyakan kepada teman sekelompokmu,” perintahku kepada Bima.
Bima tidak terlalu menggubrisku. Dia malah asyik memainkan pensilnya, ia melamun entah ke mana.
“Bima, ayo kerjakan!” titahku sekali lagi, aku jadi kesal melihat Bima selalu seperti ini. Bukan hanya sekali Bima terlambat mengumpulkan tugas-tugasnya. Ku lihat hampir setiap saat ia terlambat mengerjakan tugas. Bima tidak selalu mengumpulkan tugas-tugasnya, sering ia membawa tugas sekolah tersebut ke rumah. Bisa dihitung olehku, Bima adalah salah satu anak yang tidak banyak mendapatkan nilai tugas dariku.
Siang ini, sebelum pulang sekolah Bima menangis histeris. Bima masih cengeng jika ada anak yang usil padanya, ia juga sering kali menangis saat tertinggal pulang oleh teman-teman sekelasnya. Dan siang ini, ia benar-benar menangis, ia juga mengamuk, melemparkan buku dan tasnya. Bima pulang ke rumah dengan keadaan menangis keras dan setiap orang yang melihatnya di sepanjang perjalanan pulang, bertanya kepadanya. Bima tidak menjawab, malah tangisannya semakin menjadi.
“Maafkan saya, Pak! Bima tadi pulang dalam keadaan menangis!” ungkapan maafku terlontar kepada Kakek Bima. Si Kakek menatapku tajam. Ia setengah melotot saat memandangiku.
“Bima sudah menceritakan semua padaku, Pak Arka! Aku cukup faham,” kata Kakek Bima.
“Tapi Pak Arka tidak usah berperilaku lembek padanya. Bima dididik keras di rumah ini,” penjelasan Kakek Bima selanjutnya. Aku tertegun ketika mendengar perkataan Kakek Bima barusan. “Bima sering dididik dengan tegas di rumah. Namun, mengapa ia sering menangis di kelas? Mengapa ia menjadi anak laki-laki yang cengeng?” gumamku dalam hati.
“Bima adalah anak yang kekurangan kasih sayang, Pak Arka. Semenjak lahir sampai dengan sekarang, ia belum pernah mendapatkan asuhan seorang ibu. Dia juga tidak memiliki panutan seorang ayah. Karena semenjak lahir, pengasuhan Bima ada di kami, kakek dan neneknya”. Itulah penuturan dari Nenek Bima ketika kami bercengkrama di ruang tamu, saat sang kakek izin pergi ke kamar mandi.
“Maafkan suami saya, Pak Arka! Saya harap Pak Arka memahami gaya mendidiknya kepada Bima, ia memperlakukan Bima seperti prajurit militer saja,” kata Nenek Bima melanjutkan penjelasannya sambil sedikit tersenyum, malu.
Sekarang, aku mulai faham mengapa Bima terlihat sangat cengeng, karena memang ia dididik keras di rumah oleh kakeknya. Namun, naluri anak kecil pasti merindukan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Tapi itu tidak didapat oleh Bima. Bima tidak punya sosok ayah dan Ibu untuk dirinya berkeluh kesah. Sementara, kakeknya mendidik Bima seperti itu. Karena itu, mengapa Bima sering terlihat penuh emosi dan menangis histeris? Jawabannya tentu saja karena alam bawah sadar dan karakter Bima menyampaikan kepada orang di sekelilingnya, bahwa Bima sangat memerlukan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.
Setelah siang itu, Bima tidak masuk sekolah, sudah dua hari ia sakit. Aku pun kembali menengok ke rumahnya.
“Bima, sabar ya Nak! Cepat sembuh! Kamu adalah anak yang kuat”. Doaku saat menjenguk Bima di kamarnya. Di tembok kamar terlihat foto-foto Bima dengan kakek dan neneknya. Tak terlihat di sana foto ayah dan mendiang ibunya. Tanyaku muncul, “Kemana foto-foto mereka berdua?”
“Terima kasih, Pak Arka! Bapak sudah mau menjenguk Bima. Alhamdulillah, Bima sudah mulai membaik, esok lusa Bima akan masuk ke sekolah,” kata Nenek Bima kepadaku seraya menyampaikan rasa terima kasihnya.
Beberapa hari kemudian, Bima masuk ke sekolah. Wajahnya sekarang nampak lebih sumringah. Padahal biasanya, Bima selalu cemberut. Raut diwajahnya itu tercipta dan menggambarkan bahwa ia tidak senang dengan kondisi yang menimpanya.
“Pak, saya sudah menyelesaikan semua tugas dari Bapak,” kata Bima membuyarkan sedikit lamunanku tentangnya tadi.
Ku lihat semua tugasnya, benar saja Bima menyelesaikan semuanya tanpa ada kesalahan. Aku sedikit heran dengan perubahan sikap Bima setelah sembuh dari sakitnya.
“Pak terima kasih telah menjengukku. Kemarin lusa, setelah Bapak pulang dari rumah. Opah memberikanku mainan yang banyak. Opah juga membelikanku banyak sekali buku bacaan. Bahkan Opah tidur semaleman di kamarku. Dia membacakan cerita-cerita seru,” cerita Bima penuh semangat.
Ku lihat Bima dari ujung kaki sampai dengan ujung kepala. Aku menepuk bahunya. Dan sedikit membuat dia untuk menunduk di depanku. Ku katakan kata-kata sakti padanya.
“Bima, kamu harus menjadi anak yang ceria ya, Nak. Anak yang mandiri, kuat, dan sabar. Pak Arka, Opah, dan Omah percaya bahwa Bima akan menjadi anak yang berbakti dan sukses saat dewasa nanti,” nasehatku kepada Bima, sambil meniup ubun-ubun kepalanya.
“Satu hal lagi, jadilah sekuat Bima! Kamu tahukan, nama Bima itu adalah tokoh dalam pewayangan yang sangat kuat dan sakti mandraguna. Bapak yakin nama itu adalah nama pemberian kakekmu yang menjadikan doa agar kamu selalu menjadi anak yang kuat dan tegar di dalam kehidupan,” kataku.
Bima tersenyum padaku. Dia menatap diriku, dalam. Masih ku rasakan sedikit tatapan sendu darinya. Bulir air mata tanpa terasa menetes dari kelopak mataku, meluncur kencang ke pipi. Ku seka dengan cepat agar Bima dan anak yang lainnya tidak melihat drama ini.
“Terima kasih, Pak Arka! Bapak sudah bicara kepada Opah,” lirih Bima pelan. Dia pun kembali ke tempat duduknya dengan tersipu malu, wajahnya berkembang, dihiasi senyum simpul nan manis. Pertama kalinya, ku lihat Bima tersenyum seperti itu, manis sekali.
***


Penulis bernama Angga, S.Pd. Kelahiran Bandung, 7 April 1988. Putra ketiga dari almarhum Bapak Rohib dan Ibu Yati Rohyati. Penulis tinggal di Kp. Legok RT. 01 RW. 08 Ds. Sukarame Kec. Leles, Garut, Jawa Barat. Penulis merupakan lulusan Universitas Pasundan Bandung S1 jurusan PGSD. Sekarang, Penulis mengajar di SDN 1 Sukarame. Penulis senang menulis berbagai tulisan, karena menulis itu seperti bernafas yang dapat dilakukan setiap saat. Belajar menulis bagi Penulis adalah sepanjang hayat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "JADILAH SEKUAT BIMA!"

Post a Comment