PUTRI, KAMU BUKANLAH SEORANG PUTERA!

oleh Angga, S.Pd.
“Putri, benarkah kamu merampas uangnya Anggun?” pertanyaanku sedikit membentak. “Tidak, Pak!” lirihnya. “Lantas mengapa Anggun tak mau masuk sekolah?” tanyaku geram menahan amarah. Putri diam saja ia tidak menggubris pertanyaanku lagi. Dia memalingkan wajahnya ke arah yang lain.
“Pak Arka, kemarin orang tua Anggun ke sini. Dia berkata kalau Anggun tak mau masuk sekolah. Ibunya Anggun menangis sesenggukan, Pak!” kata Syahfa melaporkan kejadian kemarin.
Aku tertegun sebentar mendengar perkataan Syahfa. Tadi pagi, aku sudah mendengar kabar tidak sedap ini dari Bu Intan, teman sejawatku. “Putri, lagi-lagi dirimu memberikan hadiah spesial untuk gurumu ini, Nak. Padahal, gurumu ini baru pulang dari pelatihan,” gumamku.
Putri adalah salah satu murid perempuan di kelasku. Dia mempunyai sifat yang tomboy, seperti anak laki-laki. Hampir setiap hari, ada saja anak laki-laki yang ia ajak berkelahi. Sudah tentu, anak perempuan lainnya tak ada yang berani melawannya. Bahkan, hal yang paling membuatku geram adalah ketika Putri sering membuli Natisa sampai ia tidak tahan dan ingin berhenti sekolah. Dan sekarang pelampiasannya berganti kepada anak yang lain, salah satunya Anggun.
“Pak, aku juga pernah dipaksa Putri untuk memberikan uang padanya, dua ribu rupiah,” Syahfa membuat pengakuan. Syahfa adalah anak lainnya yang menjadi target pemalakan Putri.
“Putri, apakah benar apa yang dikatakan oleh Syahfa?” tanyaku memburu. Putri diam saja, ia menunduk takut.
“Syahfa, berapa kali uangmu dipalak oleh Putri?” tanyaku kembali dengan nada meninggi.
“Sekali, Pak!” Syahfa menjawab pelan, ia melirik ke arah Putri. Aku melihat pandangan Syahfa. Putri yang semula menunduk, sedikit bangkit, matanya melotot ke arah Syahfa seolah memberikan ancaman.
“Putri, ayo mengaku! Berapa uang yang telah kamu minta dengan paksa dari Anggun. Dia sampai sekarang takut ke sekolah, takut kepadamu, Putri!” aku sedikit mendesaknya. Semua anak yang ada di dalam kelas, terdiam.
“Lima ratus, Pak!” jawab Putri sangat pelan hampir tidak terdengar. “Apa lima ratus?!” nadaku meninggi lagi, kaget dengan jawaban Putri. Putri menunduk kembali.
“Jika lima ratus, tidak mungkin orang tuanya Anggun datang ke sini kemarin, ia menangis sesenggukan. Ibunya Anggun berkata bahwa kamu sudah mengambil paksa uangnya sampai lima ribu rupiah,” tegasku kepada Putri. Putri tidak melihat wajahku yang sudah merah padam menahan amarah yang kian memuncak. Putri terus menunduk, semakin takut kepadaku.
“Urusan bapak dengan kamu belum selesai, Putri! Bapak akan kembali nanti!” Aku pergi ke luar meninggalkan kelas. Ku basuh wajahku di kamar mandi agar tidak terlihat merah padam. Aku tidak mau semua guru tahu bahwa aku tengah emosi dengan masalah Putri ini.
“Pak Arka, Putri adalah anak korban broken home. Dia tinggal bersama ibu dan bibinya. Sementara, ayahnya tidak tahu entah dimana keberadaannya sekarang. Mungkin ayahnya sudah menikah lagi dan tidak membiayai hidup dan sekolahnya Putri,” penjelasan Bu Intan. Aku mendengarkan cerita Bu Intan dengan seksama, ku bayangkan hari-hari yang Putri lalui. Tumbuh kembangnya tidaklah sempurna, tidak lengkap tanpa didikan atau ajaran ayah dan ibunya. “Begitulah nasib anak korban perceraian, sama dan selalu sama seperti ini,” gumamku.
“Tidak heran jika Putri berperilaku seperti itu, Pak. Dia kekurangan ekonomi dan panutan yang baik. Putri tumbuh menjadi anak yang bermasalah dalam bersosial. Akhirnya dia melakukan segala cara untuk memenuhi semua keinginannya. Tanpa adanya kontrol yang benar.” Penuturan Bu Intan membuatku merenung, sikap apa yang harus ku ambil terhadap Putri?
Aku masuk ke dalam kelas kembali. Anak-anak masih terdiam. Ku lihat wajah Putri pelan-pelan. Ku perhatikan dengan seksama dan mendekat padanya. “Putri ikut bapak ke kantor,” titahku.
“Putri, perilaku yang kamu lakukan tidak baik, Nak. Merampas barang punya temanmu itu adalah sebuah perilaku yang buruk. Meminta uang kepada Anggun dan Syahfa dengan paksa, itu juga perilaku yang buruk dan termasuk sebuah kejahatan,” nasehatku. Aku coba untuk tidak emosi lagi.
“Sekarang, kamu minta maaf kepada Anggun, kepada ibunya juga. Kamu berjanji tidak akan melakukan itu lagi. Bagaimana, maukah kamu meminta maaf kepada mereka?” pintaku.
“Baik Pak, Putri akan meminta maaf. Putri janji tidak akan berbuat itu lagi,” jawaban Putri kepadaku. Putri juga berjanji tidak akan berkelahi, membuli, dan bersikap buruk kepada temannya.
Keesokan harinya, Anggun sudah masuk sekolah. Ia duduk di barisan depan. Aku tersenyum lega. “Alhamdulillah, Anggun sudah masuk. Akhirnya masalah ini selesai,” gumamku seraya mengucap syukur. Namun, Putri tidak ada di kelas. Kemana dia? Mungkinkah?
“Pak, Putri sudah meminta maaf kepada Anggun dan ibunya. Putri menyesal, Pak!” ungkapan Putri membuyarkan tanyaku. Putri berkata langsung kehadapanku, setelah ia pergi ke kamar mandi.
“Bagus Putri. Kamu sudah melakukan hal yang baik, Nak!” begitulah nasehat singkatku kepada Putri. Hari itu, aku kembali membuka pelajaran dengan penuh senyum dan semangat. Semoga masalah ini tidak akan terjadi lagi. Semoga Putri dapat merubah sikapnya. Ikhlas akan kodratnya sebagai seorang puteri. Dan selalu bersabar akan kondisi keluarganya. Semoga kelak Putri bisa mengubah keluarganya menjadi lebih baik lagi. “Putri, kamu bukanlah seorang putera, Nak!”
Penulis bernama Angga, S.Pd. Kelahiran Bandung, 7 April 1988. Putra ketiga dari almarhum Bapak Rohib dan Ibu Yati Rohyati. Penulis tinggal di Kp. Legok RT. 01 RW. 08 Ds. Sukarame Kec. Leles, Garut, Jawa Barat. Penulis merupakan lulusan Universitas Pasundan Bandung S1 jurusan PGSD. Sekarang, Penulis mengajar di SDN 1 Sukarame. Penulis senang menulis berbagai tulisan, karena menulis itu seperti bernafas yang dapat dilakukan setiap saat. Belajar menulis bagi Penulis adalah sepanjang hayat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PUTRI, KAMU BUKANLAH SEORANG PUTERA!"

Post a Comment