SURAT CINTA NATISA, MURIDKU TANPA SUARA


oleh Angga, S.Pd.
Sudah beberapa hari, Natisa tidak masuk sekolah. Kemarin alasannya sakit. Tetapi hari ini, hal mengejutkan datang kepadaku. “Pak, Natisa ingin berhenti sekolah.” Aku kaget mendengar perkataan Key. Key adalah teman terdekatnya, hanya Key yang bisa mengajak Natisaberbicara.
Sudah dua tahun, aku mengajari anak-anak ini. Bagiku, semua murid adalah unik. Aku mengetahui murid pandai dan murid yang suka mengganggu. Aku juga tahu murid yang minder dan kurang menguasai pelajaran, seperti Natisa.
Siang ini, aku berkunjung ke rumah Natisa. Key menunjukkan rumah sahabatnya ini kepadaku. Jalanan menuju rumah Natisa sangatlah sempit dan kumuh. Aku berjalan perlahan sampai dekat sekali dengan rumahnya. Kulihat dua sosok anak perempuan sedang bermain congkak di teras. Salah satu anak itu adalah Natisa.
Assalamu’alaikum!” sapaku. Natisa kaget, tak menjawab salamku, dan berlari ke rumah.
Saat bermain congkak bersama temannya tadi, Natisa banyak bicara. Sikapnya berbeda sekali ketika berada di rumah.
“Mohon maaf, Pak! Perkenalkan saya Hasna, bibinya Natisa. Ibunya Natisa berjualan di Jakarta. Sementara, ayahnya entah dimana? Natisa tinggal disini dan sudah saya anggap anak sendiri,” penjelasan bibinya Natisa.
“Setiap pulang sekolah, Natisa sering bercerita, ia diejek teman-temannya. Kursinya disembunyikan dan dibentak-bentak,” lanjut bibinya Natisa.Aku hanya terdiam mendengar perkataan bibinya Natisa. Natisa berdiam diri di kamar, ia enggan menemuiku.
“Di sekolah, Natisa tidak bicara sama saya, Bu. Tapi saya sering memperingatkan murid-murid lain untuk tidak mengejeknya. Saya juga meminta Key untuk bermain dengannya.” Begitu belaku.Aku pun pulang meninggalkan rumah Natisa dengan wajah lesu. Natisa masih saja diam di kamar. Dia enggan menghampiriku, meskipun hanya sesaat, sampai aku pamit.
Aku menyadari sebagai guru tidak memberikan bimbingan pada Natisa, tidak memberikan motivasi khusus padanya, bahkan aku tidak memutuskan rantai bulian teman-temannya. Hari-hariku dihabiskan dengan pengembangan diri, tanpa melihat perkembangan diri muridku. Malam harinya, aku tidak bisa tidur. Masalah Natisa terus berputar di pikiranku. Aku gagal menjadi seorang guru.
Aku berpikir cukup lama. Aku bertanya kepada Key mengapa ia menjauhi Natisa? Jawaban Key membuatku terkejut. Key juga diejek dan dijauhi oleh teman-temannya.Dampak dari bully sungguh mengerikan. Natisa ingin berhenti sekolah dan Key menjauhi Natisa karena diejek oleh murid lain. Aku pun merenung kembali dan harus melakukan sesuatu.
“Anak-anak sampai hari ini, Natisa tidak masuk sekolah. Bapak ke rumahnya kemarin, katanya Natisa sering diejek, Natisa minder, ia ingin berhenti sekolah.”
Semua murid tertunduk malu. Suasana kelas mendadak hening tanpa suara. Sampai Key mengacungkan jari, ia mengusulkan agar kita semua meminta maaf dan membujuk Natisa.
“Anak-anak, kita semua akan menulis ‘Surat Cinta untuk Natisa’. Kita tulis permintaan maaf kepada Natisa lewat surat,” kataku. Suasana kelas menjadi gaduh.
“Natisa tidak bisa baca, Pak,” celoteh salah satu anak.
“Tidak apa-apa dia akan berusaha membaca suratnya. Kita tempelkan gambar penuh cinta dalam suratnya. Natisa pasti tertarik dan belajar membaca surat itu,” jawabku.
Teruntuk Natisa….
Natisa, ini Key, Pak Arka, dan teman-teman. Maaf, jika kami menjauhimu. Kami ingin menjadi temanmu. Nanti kita main dan belajar bersama lagi. Kembali ke sekolah Natisa…! Pliiiss…!
Keesokan harinya, Natisa masih belum sekolah. Usaha kami gagal. Aku terduduk lesu, penuh kecewa. Pelajaran kubuka dengan ucapan salam dan menyapa anak-anak. Kemudian, aku bertanya kepada Key tentang surat yang ia berikan kepada Natisa kemarin.Key hanya menggelengkan kepala.
“Apa ini…?!”
Aku menemukan sekuntum bunga kertas, berada di laci meja. Ada suratnya….
Terima kasih, Pak Arka! Bapak adalah guru yang terbaik bagiku. Aku senang sekali dengan Pak Arka dan teman-teman juga. Aku memaafkan semuanya.
Kemudian pintu kelas terbuka. “Assalamu’alaikum, Pak!”
Nampak seorang ibu dan anak perempuan masuk ke dalam kelas. Ibu itu tidak banyak bicara, hanya tersenyum dan memohon izin untuk pulang. Mereka berdua adalah Natisa dan bibinya.
“Pak, Natisa sekarang mau sekolah lagi!” ucap Natisa.
Wajahku sumringah karena baru kali ini ia berkata kepadaku langsung. Aku pun memeluk Natisa tanpa berbicara kepadanya.
Natisa duduk di kursi yang sudah hampir seminggu ia tinggalkan. Semua teman sekelas menghampirinya. Dan meminta maaf sambil bersalaman.
Kulihat lagi tulisan di bunga kertas tadi. Ini memang tulisan Natisa tetapi ia belum pandai menulis, apalagi membuat surat seperti ini. Aku mengangkat surat itu dan mengarahkannya kepada Key. Key tersenyum kecil. Aku mengerti maksudnya…. Siang itu, kelasku menjadi cerah, secerah langit biru.

Biodata Penulis
Penulis bernama Angga, S.Pd. Kelahiran Bandung, 7 April 1988. Putra ketiga dari almarhum Bapak Rohib dan Ibu Yati Rohyati. Penulis tinggal di Kp. Legok RT. 01 RW. 08 Ds. Sukarame Kec. Leles, Garut, Jawa Barat. Penulis merupakan lulusan Universitas Pasundan Bandung S1 jurusan PGSD. Sekarang, Penulis mengajar di SDN 1 Sukarame. Penulis senang menulis berbagai tulisan, karena menulis itu seperti bernafas yang dapat dilakukan setiap saat. Belajar menulis bagi Penulis adalah sepanjang hayat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SURAT CINTA NATISA, MURIDKU TANPA SUARA"

Post a Comment