Menyongsong Hari Bahasa Ibu Internasional:

WONG CIDENOK DAN BAHASA IBU

Catatan Asikin Hidayat/Guneman Majalengka
Cidenok memang denok. Eksotik. Tiba-tiba saja saya menjadi betah di lembur antah-berantah ini. Setidaknya anggapan saya tentang “keantah-berantahan” desa di kawasan Kecamatan Sumberjaya ini terbukti ketika saya harus menempuh perjalanan naik sepeda motor kurang lebih satu jam dari rumah saya. Perjalanan bisa lebih lama kalau saya menempuhnya dengan mengendarai mobil, atau jalan memutar dari Majalengka ke Jatitujuh dan kemudian menembusnya lewat Ligung dan Leuweunghapit. Yang jelas, menempuh jalan mana pun dari arah Majalengka, anda akan bersentuhan dengan jembatan Tol Cipali yang membelah dan memisahkan Bongas dengan Cidenok, baik jalan atas maupun jalan bawah.
Antah-berantah desa ini, karena memang letaknya terpisah jauh di Utara Sumberjaya itu sendiri. Lokasinya justru lebih dekat dengan perbatasan Indramayu dan Cirebon. Sebutlah kampung-kampung yang bersentuhan langsung dengan Cidenok, seperti Susukan, Tangkil, dan Budur adalah tiga kampung yang masuk wilayah Kabupaten Cirebon, ditambah Bondan di wilayah Indramayu. Sementara itu, Leuweunghapit dan Lojikong yang satu kabupaten dengan Cidenok terpisahkan petak-petak sawah dan tegalan yang cukup jauh. Bahkan, dengan wilayah satu kecamatan pun, Cidenok terpotong tol Cipali, yang menyebabkan desa ini seolah tidak terhubung dengan Kecamatan Sumberjaya atau Kabupaten Majalengka yang menaunginya.
Karena dikepung oleh desa dan kampung-kampung yang berada di wilayah Cirebon dan Indramayu, maka tidak heran jika bahasa sehari-hari di Cidenok yang juga dikepung oleh pipa-pipa gas Pertamina ini penduduknya berbahasa Jawa Cirebon. Setiap kali saya mendengar ujaran orang-orang Cidenok, maka setiap kali juga saya mengembangkan daun telinga untuk bisa mendengarnya dengan jelas. Namun, sejauh ini hanya satu dua kata saja yang saya pahami makna ujarannya, sebagian besar blank.
Hal yang menarik dari fenomena ini adalah bahwa hampir 100% dari keluarga di Cidenok berbahasa Jawa Cirebon. Bahasa ini menjadi bahasa ibu yang sangat kuat, tidak hanya orang tua, tetapi juga sampai kepada anak-anaknya, bahkan sampai anak balita sekalipun. Sehari-hari mereka bertutur kata bahasa Jawa Cirebon dengan logat khas dan kental dengan medok-nya. Seperti halnya wong Cirebon dan Indramayu, mereka mengucapkan setiap kata dan kalimat dengan tekanan berat dan keras pada bagian tenggorokan. Terkadang, saya sebagai orang Sunda, mendengar mereka bercakap-cakap, seolah sedang mendengar mereka bertengkar. Padahal demikianlah memang karakter wong pantura.
Bagi saya, ini menarik, ketika di Jawa barat banyak kalangan mengkhawatirkan punahnya Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu karena banyak keluarga Sunda yang sudah tidak Nyunda lagi, maka di sini justru sebaliknya. Di tempat saya bertugas, di SMP Negeri 4 Sumberjaya yang berlokasi di Cidenok, hampir tidak pernah saya mendengar anak-anak bercakap menggunakan Bahasa Indonesia. Justru mereka tampak gagap ketika ada guru mengajak mereka memakai bahasa nasional. Mereka lebih suka diajak berbicara menggunakan bahasa ibunya.
Fenomena penyebab kuatnya bahasa ibu di kawasan ini memang harus dikaji lebih jauh, apakah karena lokasi yang terpisah dari kawasan kota, atau ada hal lain. Yang jelas, sekarang Cidenok sudah mulai dikepung pabrik-pabrik industri besar. Proses move on dari kampung antah-berantah menuju urban development sedang berlangsung. Tentu, aspek perubahan kultural akan melanda masyarakat Cidenok yang eksotik ini. Apakah kemudian akan berimbas pula kepada bahasa ibu wong Cidenok, dan kemudian dengan sendirinya bahasa ibu menjadi terabaikan?
Kita tunggu ...!***

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menyongsong Hari Bahasa Ibu Internasional:"

Post a Comment