WABAH

Fazri Sobari
Guru IPS di SMPN 1 Jonggol

Adanya wabah virus corona (Covid-19) dan berstatus pandemik belakangan ini terasa berdampak nyata pada kehidupan sosial kita. Ruang gerak sosial kita terpaksa harus dibatasi. Seluruh kita dan bahkan dunia berada pada situasi yang tak normal. Atau bisa juga kita katakan ini adalah keadaan normal yang dipicu oleh sesuatu yang tidak normal. Konon jika benar, virus ini muncul dari hasil mutasi genetika makhluk mikroorganisme akibat adanya aktivitas manusia yang tidak normal. Seperti memburu, meperjual belikan, bahkan mengkonsumi hewan-hewan yang jelas tidak lazim dan tergolong ekstrim. Maka dapat disimpulkan, ketidaknormalan itu diawali oleh ulah manusia.

Kalau boleh saya katakan, ini adalah semacam tulisan keresahan. Resah sekaligus bingung apakah kita harus tetap optimis atau perlukah mengakui secara pelan-pelan sebuah kepesimisan yang justru semakin hari kita perlihatkan. Soal masa depan dunia yang setiap hari kita perebutkan, faktanya harus kita tunda sejenak larinya, sebab ada situasi nyata dan kegentingan global yang masuk ke sela - sela tersempit ruang hidup kita sebagai makhluk sosial. Sebagai mana kita tahu bahwa situasi ini mampu memangkas jarak kehidupan sosial kita. Walau secara maya kita masih bisa menyapa, menanyakan kabar sambil saling mendo’akan, lalu berbagi informasi bermanfaat lainnya.

Beruntung dengan adanya akses dan media informasi yang cepat seperti sekarang ini. Setidaknya interaksi lewat dunia maya dengan segala fiturnya dapat mengobati konsekuensi jarak yang mesti kita telan saat ini. Namun, jika kita berkaca pada keadaan nyata yang sedang terjadi, mungkin kita tidak menyangka sebelumnya bahwa ada virus yang membuat dunia ini terasa renggang dan terlihat kerepotan menghadapinya. Bahkan, bukan tidak mungkin dunia maya yang telah kita miliki saat ini pun kelak akan terganggu dan terhenti oleh apa yang disebut dengan ‘virus’ itu sendiri, juga akibat dari perilaku dan kecerobohan manusia sebagai pemeran utamanya.

Wabah bukanlah pengalaman baru bagi peradaban umat manusia. Keadaan semacam ini pun telah berkali - kali manusia lalui dan terekam baik dalam sejarah. Dalam keberlangsungannya manusia membawa memori baik secara psikologis maupun sains (ilmu pengetahuan). Lalu hari - hari ini kita seperti sedang sampai kembali pada pengalaman itu, dengan tambahan alat dan perangkat baru bernama teknologi dan embel-embel lainnya. Dari sana kita perlu sadari bahwa dunia memang tengah menghadapi situasi berbahaya dengan penyebaran virus yang tergolong sangat cepat dan meluas ini.

Belum lagi korban meninggal dunia pun kian berjatuhan di berbagai negara yang terjangkit, termasuk Indonesia. Seperti yang kita ketahui, semua pihak sedang berupaya keras untuk mengontrol dan memutus rantai penyebaran virus ini. Memang bukan hal yang mudah melakuan social distancing yang belakangan dipilih sebagai salah satu cara mengantisipasi virus corona ini. Apalagi kalau kita mau jujur akui, tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat kita termasuk masih amat rendah. Bahkan Italia yang merupakan negara maju dengan tingkat pengetahuan masyarakatnya yang tinggi, bisa lengah dan kewalahan oleh wabah virus ini.

Dalam keadaan itu kita dipaksa untuk tenang dan tidak panik. Bagi saya secara psikologis bahwa dengan situasi seperti ini wajar dan secara alamiah kita akan membawa rasa kekhawatiran. Bahkan mereka yang menghimbau untuk jangan panik, artinya secara bersamaan mereka pun mengakui keberadaan rasa panik itu dalam dirinya. Bahwa tidak boleh berlebihan, ya kita setuju. Yang lebih kita khawatirkan lagi adalah jika ada manusia yang terlalu acuh dan terkesan meremehkan persoalan ini. Sebab kita tidak akan menemukan apa - apa pada kasus yang semacam ini. Selain klaim tidak mau pusing, pura - pura tegar atau merasa paling tawakal.

Pada orang yang masih memiliki rasa cemas justru kita masih bisa berharap bahwa ia akan lebih mampu merawat kehidupan, karena yang paling natural dari manusia adalah takut terhadap kematian. Sebab kematianlah sebagai pemutus segala bentuk kenikmatan dunia. Di dalam Islam pun bahkan terdapat konsep dakwah yang berisikan ajakan-ajakan supaya kita banyak mengingat tentang kematian, gunanya agar kita lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, sehingga terus meningkatkan ibadah dan amalan. Secara qadar yang telah ditetapkan Allah, tentu kita perlu terima dengan penuh rasa tawakal, sambil memaksimalkan akal sebagai alat termewah yang dimiliki manusia untuk upaya menangkal.

Wabah virus ini merupakan ujian bagi manusia di zaman kita saat ini. Manusia modern dengan kemampuan artificial intelligence. Wabah ini harus diselesaikan dengan kecerdasan dan ikhtiar yang serius. Apabila tidak, maka yang akan terancam adalah eksistensi manusia itu sendiri. Sebab upaya mempertahankan eksistensi itulah yang membawa manusia tiba pada era seperti sekarang ini. Semakin manusia mengalami kecemasan, insting untuk bertahan seharusnya akan semakin kuat. Seperti dahulu, saat manusia berhadapan dengan binatang buas yang sewaktu-waktu dapat menyerang, lalu manusia mencemaskan eksistensinya terganggu, maka manusia membuat peralatan untuk berburu.

Wallahu a’lam.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "WABAH"

Post a Comment