ADIT, SENIMAN KELAS KITA

oleh Angga, S.Pd.

Langit mendung mulai menggelayuti sekolah. Perlahan-lahan gerimis pun turun dan berganti dengan rintik-rintik hujan. Semakin lama hujan semakin deras, air hujan pun mulai menggenangi seluruh halaman dan parit sekolah.

“Dit, maafkan aku! Aku tidak sengaja merobek gambarmu!” ucap Afgal memecah kebekuan di antara guyuran hujan.

Adit tidak memperhatikan ucapan Afgal sedikit pun. Dia malah beranjak pergi ke luar kelas. Adit memperhatikan sekeliling, ia menatap sendu hujan deras yang mengguyur sekolahnya.
“Dit, ayo masuk, sebentar lagi Pak Arka datang!” Afgal membujuk Adit, namun usahanya tidak berhasil. Afgal merasa bersalah kepada teman sebangkunya itu.

“Dit, apa yang kamu lakukan?” Afgal kaget dan menarik tangan Adit. Adit meremas-remas semua gambarnya dan menenggelamkannya ke dalam kubangan air hujan yang ada di parit koridor sekolah.

“Lepaskan tanganku, Bang!” bentak Adit. Adit marah dan menatap Afgal dengan penuh emosi. Matanya mulai memerah kemudian menangis bersamaan dengan air hujan yang turun.

Afgal bingung melihat kondisi Adit sekarang. Dia merasa bersalah karena tidak sengaja merobek salah satu gambar milik Adit.

Setelah puas meremas gambar-gambarnya sambil menangis dan menenggelamkan seluruh gambar buatannya itu, Adit menatap kembali air hujan yang turun. Tangannya ia tengadahkan ke atas, mencoba menghalau turunnya hujan, akhirnya bajunya basah terkena cipratan hujan. Kemudian, Adit memandang jauh ke sana, ke hari kemarin. Hari di mana semuanya dimulai ….
***

“Bu, bagaimanakah wajah ayah?” tanya adit kepada ibunya yang tengah sibuk menyetrika baju seragam anaknya tersebut. Sementara Adit sedang asyik menggambar pemandangan alam yang dilihatnya dari balik jendela rumah.
“Ayahmu sangat baik, Nak. Dia juga tampan, sama sepertimu” jawab ibu Adit sekenanya.
“Apakah kamu tidak ingat wajah ayahmu, Nak”? Ibu Adit kembali bertanya kepada anak semata wayangnya ini.

Adit mulai mencoba untuk mengingat wajah ayahnya. Namun usahanya gagal. Pada saat itu, usia Adit baru menginjak tiga tahun. Sulit untuk Adit mengingat seperti apa wajah almarhum ayahnya itu. Ayahnya Adit meninggal karena kecelakaan saat bekerja.

“Ini foto ayahmu, Nak!” Ibu Adit menyodorkan sebuah foto yang sudah usang kepadanya. Dalam foto itu, nampak seorang laki-laki muda tengah menggendong bayi mungil. Semua orang yang melihatnya bisa menerka bahwa foto itu adalah Adit waktu bayi dan ayahnya.

Adit tersenyum manis, ia melihat seksama wajah laki-laki yang ada di foto itu. Dia kemudian mencoba menggambar foto tersebut di buku gambarnya semirip mungkin. Adit menggambar dengan penuh rasa bahagia dipayungi oleh langit biru yang begitu indahnya. Tetapi perlahan-lahan, gurat wajahnya berganti menjadi sebuah gurat kesedihan.
***

“Dit, mana gambarmu? Gambarmu sudah selesai?” tanyaku memecah keheningan lamunan anak kecil yang tengah menatap jauh ke luar jendela, ia terus menatap hujan yang turun siang ini. Namun, pandangannya seperti melayang jauh entah kemana. Baju anak ini pun basah.
Adit diam saja. Dia tidak menghiraukan pertanyaan gurunya ini. Sesekali kuperhatikan wajahnya, nampak ada pancaran kesedihan dalam sorot matanya.

“Aku tak mau menggambar lagi, Pak!” Ucap Adit dengan nada keras. Aku pun tiba-tiba kaget mendengarnya.
Aku heran dengan pernyataan Adit barusan. “Apakah aku tidak salah dengar? Tidak mungkin seorang Adit tidak ingin menggambar lagi” gumamku.

Adit adalah seorang anak yang memiliki kemampuan seni cukup tinggi dibandingkan anak lainnya di kelas. Dalam setiap pelajaran kesenian dan prakarya, Adit selalu mendapatkan nilai tertinggi. Karya-karya Adit sangat memukau. Karena itu, aku juluki ia sebagai “Seniman Kelas”.

“Semua ini salahku, Pak” celetuk Afgal dengan wajah bersalah. Afgal adalah teman sebangku Adit yang jahil dan sering berbuat onar.
“Mengapa kamu merasa bersalah, Afgal?” tanyaku penasaran.
“Aku tak sengaja merobek gambar ini, Pak” jelas Afgal sambil menunjukkan sebuah gambar milik Adit yang sudah rusak.

Aku amati gambar yang disodorkan Afgal tersebut. Sedikit basah, namun aku tahu ini adalah gambar buatan Adit. Terlihat sesosok lelaki muda di sana, ia sedang tersenyum sambil menggendong bayi mungil yang lucu.
Aku pun menghampiri Adit yang tengah duduk termenung melihat hujan di koridor kelas. Di sekeliling tempat ia duduk, berserakan gambar-gambar yang basah kuyup oleh air hujan.

“Kamu kenapa, Dit?” tanyaku padanya. “Maafkanlah Afgal, Nak!” pintaku. Adit masih duduk termenung.

“Pak, mengapa ayahku meninggal?”
Pertanyaan Adit membuatku sedikit tersentak. Aku tertegun cukup lama, tidak tahu jawaban apa yang harus kuutarakan padanya. Hal ini mendadak sekali bagiku, aku tak punya persiapan.

“Nak, setiap orang di dunia ini punya takdir dan jalan hidupnya masing-masing. Begitupun dengan almarhum ayah kamu” jawabku memberikan penjelasan padanya.

“Aku iri melihat teman-temanku, Pak. Mereka masih mempunyai seorang ayah. Kemarin setelah aku selesai menggambar wajah ayahku yang ada dalam foto, aku menjadi sedih, Pak. Aku berpikir mengapa ayahku jahat, mengapa ia meninggalkanku?” perkataan Adit meluap-luap seolah mempertanyakan segalanya kepadaku. Kami berdua termenung. Suasana mendadak hening, walaupun hujan turun deras di sekitar kami.
“Dit, coba sekarang kamu lihat teman sekelasmu. Ada Bima dan juga Alma. Bima tidak mempunyai ibu dan tak pernah melihat wajahnya sejak bayi. Lalu, Alma juga yang telah kehilangan ayahnya kemarin. Kedua temanmu itu selalu ceria dan semangat, Dit. Kamu juga pasti bisa, Nak!”
Nasihatku sedikit panjang, mencoba memberikan semangat kepada Adit. Adit sekarang terdiam. Dia merenungi segala hal yang aku katakan barusan.
“Adit, kamu punya bakat menggambar. Bakat seperti ini jarang dimiliki oleh anak yang lain. Kamu beruntung sekali, Nak. Dengan bakatmu, cobalah membuat kenangan indah bersama ibumu dan almarhum ayahmu. Kamu juga bisa menggambarkan kenangan indah tentang sekolahmu, gurumu, dan juga teman-temanmu. Asahlah bakatmu itu, Nak! Kamu pasti akan menjadi anak yang sukses kelak” nasihatku kembali.

Adit masih diam seribu bahasa. Dia pun masuk ke dalam kelas. Hujan siang ini akhirnya reda dan tanpa terasa jam pelajaran pun telah usai. Kami semua pulang ke rumah, menghindari genangan air hujan di sepanjang jalan.

Keesokan harinya, aku merasa terkejut dengan gambar-gambar indah yang berjajar di atas meja. Ada gambar keluarga bahagia di sana. “Ayah, Adit, dan Ibu”. Itulah judul gambar tersebut. Gambar yang luar biasa, memukau, dan seperti nyata bagiku.

Aku tahu kalau gambar-gambar ini pasti buatan Adit. “Kamu memang berbakat, Nak” pujiku. Di sana, nampak juga gambar anak-anak yang sedang belajar bersama gurunya. “Pak Arka dan Murid-muridnya”.
Aku terharu melihat semua gambar yang berjajar indah ini. Kutatap wajah Adit di sana. Dia duduk manis, wajahnya berseri. Ia tersenyum padaku. Kuacungkan dua jempol padanya. “Hebat, kamu Dit. Tetaplah tersenyum seperti ayahmu, Nak. Jadilah seniman hebat yang membanggakan. Seniman kebanggaan keluargamu!”




Penulis bernama Angga, S.Pd. Kelahiran Bandung, 7 April 1988. Putra ketiga dari almarhum Bapak Rohib dan Ibu Yati Rohyati. Penulis tinggal di Kp. Legok RT. 01 RW. 08 Ds. Sukarame Kec. Leles, Garut, Jawa Barat. Penulis merupakan lulusan Universitas Pasundan Bandung S1 jurusan PGSD. Sekarang, Penulis mengajar di SDN 1 Sukarame. Penulis senang menulis berbagai tulisan, karena menulis itu seperti bernafas yang dapat dilakukan setiap saat. Belajar menulis bagi Penulis adalah sepanjang hayat.

Akun FB Penulis yaitu: Ang Saja. Penulis dapat dihubungi di kontak 083825261718 dan memiliki nomor rekening Bank BJB atas nama ANGGA dengan nomor 0063742600100.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "ADIT, SENIMAN KELAS KITA"

Post a Comment