Ceritaku Sore Hari Ini


Oleh: Aat Sumiati, S.Pd.

Sore ini, seperti sore-sore yang lain, selepas shalat asar kami berjalan-jalan berolah raga ke pematang sawah yang berada di belakang rumah kami. Tidak begitu jauh, sekira 3 km bolak- balik, jarak yang biasa kami tempuh. Sekedar mengisi waktu luang. Karena libur corona yang tiba-tiba saja datang.

Ada yang berbeda dengan sore kali ini. Dengan baju olah raga seadanya, kaos,  celana training dan sepatu olah raga. Kami menapaki jalanan yang penuh tanah kadang-kadang juga berbatu kecil di sisi kanan kiri jalan. Cuaca cerah saat itu. Malah sempat aku menjemur baju sebelum kegiatan rutin sore ini.

Hamparan padi yang hampir menguning di sisi kanan dan kiri kami membuat kami berjalan dengan penuh riang dan semangat.  "Kiranya setengah bulan lagi padi itu siap di panen" Begitu ujar suamiku kala melihat sepetak padi yang sudah merunduk penuh isi. Kalau begitu kita lihat nanti sekitar 12 April mendatang, seperti saat terakhir libur corona habis" begitu timpalku.

"Lihat Bu, itu tetangga kita sudah berjalan jauh sama anaknya" kata suami sambil menunjuk ke arah depan sana. Seorang bapak dengan anaknya yang masih TK   sudah empat kali ini kami temui, berjalan-jalan ke sawah juga. Kemudian kami menghampiri, menyapa, bertegur sapa dan mengajak anaknya berjalan sampai ke suatu gubuk, tempat biasa kami beristirahat untuk sekedar duduk melepas lelah di sana.

Anaknya sangat lucu, bertubuh agak gemuk. Tapi tidak segemuk dulu sebelum ia masuk TK. Disuruhnya anak itu belari oleh bapaknya.Karena kebetulan aku bawa Hand Phone. Kuabadikan momen itu. Dua jepretan foto tersimpan di hpku. Bagus kurasa. Kutunjukkan gambar itu padanya, anak kecil itu senang dan tersenyum lebar.

Kususul suamiku yang sudah berjalan sepuluh meter kira-kira jauhnya dari aku. Kunikmati sore itu dengan senang, karena aku bisa berswa foto, beberapa pose dengan latar bekakang padi menguning. Tak peduli ada orang yang lewat bermotor melewati kami. Tiba-tiba dari arah berlawanan ada tiga orang tetanggaku juga yang naik motor. Mereka berboncengan. Mengingatkan kita cuaca yang tiba-tiba berubah, langit hitam. Mendung. “Pa guru, mau ke mana, mendung, hujan" teriaknya sambil lewat. Terlihat langit hitam di sebelah utara. Tapi masih ada cerah di sisi yang lain. Karena itu pula, walau tinggal sekitar sepuluh meter menuju gubuk, kami tidak meneruskan perjalanan. Kami berbalik arah setelah yakin kalau hujan segera akan turun.

Beberapa jepteran foto masih kulakukan dengan memotret aktifitas orang sekitar. Ada yang sedang  membetulkan jalannya air, ada yang mencari rumput buat pakan kambing, ada lagi yang sedang memperbaiki jalan tanah yang rusak. Oh... harmonisnya lingkunganku. Tenang, tentram dan damai.

Gerimis mulai terasa setelah foto terakhir. Segera kuamankan hand phoneku di saku celana training sebelah kanan. Berharap tak terjadi apa-apa dengan barang berharga pemberian suamiku tersayang.

Kemudian hujan semakin besar, besar dan besar. Oh tidak. Tidak kusangka sama sekali. Di luar dugaan. Ini teradi begitu saja. Secepat kilat. Hingga membuat jalan tanah sawah licin dilalui. Suamiku segera mengambil dua lembar daun pohon jati yang cukup lebar, buat kami gunakan sebagai payung. Alhamdulillah bisa membuat kami melindungi kepala kami dari derasnya hujan.

Berjalan dibawah hujan deras, beriringan dengan suami berpayung daun jati, indah sekali. Terimakasih Tuhan sudah karuniakan kami, keadaan  dalam kebaikan ini. Karenanya kami tidak lupa bersyukur, memujiMu sepanjang langkah kami. Kami ingat salah satu doa terkabul adalah saat hujan.

Di mulut gang menuju sawah, kami bertemu seorang saudara kami yang berpayung. Dan menawarkan payung itu pada kami. Tapi kami menolak karena kami sudah terlanjur basah kuyup.

Lain lagi dengan Mang Mulus, orang yang mengurus sawah kami. Begitu kami sampai di rumah rupanya dia meminta 3 payung pada anakku untuk menjemput kami. Oh indahnya sore itu.

Dua lembar daun jati, payung kami, yang berjasa tadi cukup jadi pelindung kami hingga sampai ke rumah. Mengalahkan niat baik Mang Mulus menjemput kami.

Segera kami membersihkan diri. Anakku membuatkan minuman jahe penghangat badan kami. Lagi-lagi kami bersyukur kepadaMu telah memberikan kami orang-orang yang sayang dan peduli pada kami. Segera kutulis cerita ini, hingga jadi satu memori. Ceritaku sore ini bersamamu suamiku.

Begitu duduk santai didepan tv. Kubuka hand phoneku. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Kubuka foto-fotoku tadi yang kukirim ke grup familyku. Ternyata anakku mengkhawatirkan kami. Begitu dekatnya kami bertiga hingga dengan santai ia ketik woy sampa mana ?
Begitulah wa nya. Kujawab saja woy woy woy dengan tanda titik-titik tiga ...
Saat itu dia seperti temanku saja.
Oh anakku. Tidak sama sekali kunilai ketidaksopanan dalam hal ini. Itulah karena betapa dekatnya kami.
Itulah ceritaku sore hari ini. Mana ceritamu?


Profil Penulis

Aat Sumiati, S.Pd.
Lahir di Indramayu, 12 Desember 1971. Bungsu dari delapan bersaudara.
Menikah dengan Ir. Sabar, M.Pd, guru di SMK N 2 Indramayu.  Mempunyai seorang anak perempuan  kelas XII, di SMA Negeri1 Sindang, Indramayu. Mengajar sebagai guru Bahasa Inggris sejak tahun 1997, di SMPN 2 Sindang. Menjadi PNS sejak tahun 2000 dan ditempatkan di SMP N 3 Kertasemaya. Mulai tahun 2002 mengajar di SMP N 1 Jatibarang hingga sekarang.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Ceritaku Sore Hari Ini"