Ketika Berpisah Meninggalkan Sepenggal Kisah

Oleh Wiwi Widuri

Jika ada pertemuan pasti ada perpisahan. Disaat ada yang datang tentu ada pula yang pergi. Bertemu-berpisah, datang-pergi, kata yang berantonim layaknya kehidupan manusia di dunia. Kata lainnya seperti, hidup-mati, kesedihan-kebahagian, kesulitan-kemudahan, kekurangan-kelebihan, dan masih banyak kata berantonim lainnya. Jika melihat kata-kata berlawanan tersebut, hanya ada dua pilihan yang dimiliki manusia. Dua pilihan itu menjadi keharusan setiap manusia untuk memilihnya. Itu artinya ada dua hal yang biasa manusia rasakan dan pasti itu terjadi. Contoh nyata musibah yang terjadi di dunia saat ini. Tentunya kita semua yakin ketika ada kesulitan, kesedihan pasti di depan ada kemudahan dan kebahagiaan.

Pertemuan dan perpisahan,  entah berpisah untuk sementara ataupun selamanya memiliki rasa berbeda. Bertemu biasanya rasa bahagia yang ada, sebaliknya berpisah lebih pada rasa emosi kesedihan yang menyelinap dalam sanubari.

Sepenggal kisah perpisahan yang tak dikehendaki telah terjadi. Disaat semuanya sudah dipikirkan, dirancang, disusun, bahkan hanya satu langkah lagi menuju puncak kelulusan, tapi itu tidak terjadi. Masya Allah, manusia hanya berencana, Allah lah yang mengendalikan semuanya termasuk rencana yang telah disusun dengan sebegitu rapi akhirnya rapuh terurai bersama ketidakpastian dan ketidakjelasan, seperti ketadakpastian kapan mewabahnya virus covid 19 akan berakhir dan lenyap di muka bumi ini. Virus itu telah merampas semua harapan dan kesan angkatan 2020 dalam menikmati masa akhir sekolah jenjang menengah atas ataupun menengah pertama.

Angkatan 2020 dengan sepenggal kisahnya menjadi nyata bahwa kata-kata adalah doa. _Kereteg hate_ ketika mengatakan sesuatu, walaupun tanpa satu kata terucap, Allah Swt. Tentunya Maha mengetahui yang akhirnya Allah mengabulkan apa yang ada dalam hati yang tak sempat terucapkan. "ingin segera keluar dan lulus".

Angkatan 2020 dengan sepenggal kisah yang berpisah tidak pada waktunya. Berpisah dengan diam seribu bahasa, sejuta rasa, dan segenggam harapan dengan segala asa yang ada dalam dada. Inilah mungkin doa mereka yang sudah gerah dengan aturan, geram dengan nasihat, gatal dengan semua tugas, dan gelisah oleh keadaan yang mengharuskan mereka kembali pada keluarga mereka masing- masing.

Angkatan 2020 dengan sepenggal kisah berpisah dengan beban belajar secara daring. Berpisah tanpa kelulusan penuh kesan. Berpisah walaupun dengan
 kelulusan tanpa ujian. Berpisah dengan beban dan mungkin ketidakpastian serta ketidakjelasan dalam kelulusan mereka. Sepenggal kisah itu terjadi salah satunya sebelum ada kebijakan dan keputusan dari menteri pendidikan.

Setelah semuanya terjadi atas keputusan dan kebijakan pemerintah terkhusus menteri pendidikan, akhirnya menambah cerita kelulusan bagi siswa sekolah menengah pertama dan menengah atas. Walaupun ada kebahagiaan yang terpancar di raut wajah anak bangsa dengan ditiadakannya ujian nasional, tetapi tetap saja kelulusan melalui ujian bagi sebagian siswa sangat diharapkan tetap diadakan. Kelulusan tanpa ujian terasa menjadi lulusan yang tak berkualitas, itu salah satu pendapat mereka. Walaupun memang kelulusan ditentukan oleh nilai raport dan tugas-tugas mereka selama pembelajaran di sekolah, tetapi tetap saja lulus tanpa ujian tidak berkesan.

Berpisah dengan sepenggal kisah akibat covid 19 menyimpan kesan mendalam dalam benak mereka. Seolah menjadi pengingat, bermuhasabah dalam menginstrospeksi diri bahwa selama ini mungkin sedikit pembangkangan demi pembangkangan, keterlambatan demi keterlambatam baik ketika masuk kelas maupun pengumpulan setiap tugas, menjadikan guru bukan sebagai guru, sering menyakiti hati guru dan orangtua serta meremehkan ajaran dan nasihat guru mereka lakukan. Hanya penyesalan yang akhirnya ada dalam diri mereka.  Kesediahan dan penyesalan juga mereka rasakan karena ternyata pembelajaran tatap muka dengan sosok guru jauh lebih seru, lebih berkesan daripada pembelajaran melalaui online. Ternyata IT tidak menjamin segalanya dalam hal pembelajaran. Tetap saja sosok guru dibutuhkan oleh mereka yang ingin belajar dengan melihat guru mengajar secara langsung, cara menjelaskan materi melalui kasih sayang dan tutur kata yang menyentuh qalbu serta merindukan keteladanan seorang guru di saat mereka bisa melihat bertatap muka dalam proses pembelajaran.

Berpisah dengan sepenggal kisah akan terus berlanjut hingga waktu yang belum ditentukan.


7/4/2020*literasiSelasapagi

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ketika Berpisah Meninggalkan Sepenggal Kisah"

Post a Comment