KURSI RODA BUAT MBAK SUMI

Oleh : Vera Verawati

Sekali lagi kupandangi kursi roda disudut ruang makan yang terbungkus rapi, hadiah yang sengaja kubeli untuk ema, yang kini telah tiada tanpa sempat menggunakan kursi roda pemberianku. Pergulatan itu lagi-lagi menggema, ketika terbayang tagihan SPP aa yang sudah 3 bulan ini belum juga terbayar, sebuah ide sempat terlintas untuk menjual kursi roda itu untuk melunasi SPP aa di sekolahnya, sepertinya akan tersisa untuk menambah uang belanja beberapa minggu kedepan. Namun disisi lain hatiku terenyuh saat saat siang kemarin pak Uung bercerita tentang seorang tetangganya yang memiliki anak cacat sejak lahir hingga usianya hampir 43 tahun ini tidak lagi bisa menikmati matahari pagi setiap harinya dan begitu membutuhkan kursi roda namun tiada kemampuan untuk membelinya.

Ketukan dipintu mengagetkanku, kubaka pintu kutemukan wajah asing dengan nada bingung aku menyapa, “ maaf ada yang bisa dibantu ?”. sambil mengangguk sopan lelaki setengah baya dengan setelan seragam PNS bertanya” maaf, dengan teh vera, saya melihat iklan online tentang kursi roda yang mau dijual, soal harga saya tidak masalah, benar disini”. Sedikit terkejut aku membalas anggukan dan menjawab,” iya benar pak, saya vera, sebelumnya saya minta maaf karena lupa menghapus iklan tersebut, saya telah membatalkan untuk menjual kursi roda tersebut,sekali lagi saya minta maaf”. Dengan sedikit menyesal bapak tersebutpun akhirnya pulang.

Poto-poto mbak sumi yang terbaring lemah menari-nari dimataku, dengan mantap kupijit beberapa nomor di handphoneku, tak lama suara diseberang menjawab. Minggu sore itu menjadi kisah terindah untuk mbak sumi. Ketika akhirnya aku dan pak uung datang mengantarkan kursi roda untuknya, sambutan hangat keluarga sederhana itu begitu membekas. Tubuh ringkih itu beratnya tak lebih dari 30 kg, bau pesing menyengat hidung sepertinya belum sempat dimandiin, mulanya terlihat ketakutan dimatanya, kupasangkan kursi roda didepannya kuminta kang dudi adiknya mbak sumi untuk mengangkat dan membawa bak sumi kekursi roda, ringkih tulang berbalut kulit itu awalnya berontak, mulutnya hanya mampu histeris tanpa bisa dimengerti. Sepersekian detik kubisikan beberapa kalimat ditelinganya, perlahan dia terlihat tenang, walau ragu kulihat senyum tipis itu tersungging diwajahnya.

Pagi ini dalam sujud duha kuhatur syukur mengingat wajah-wajah bahagia keluarga mbak sumi dan almarhumah ema yang terlihat tersenyum di mimpiku tadi malam, akhirnya mbak sumi bisa menikmati keindahan mentari pagi hari ini, esok  dan seterusnya. Tinggal aku, ditepian asa berdoa “Tuhan beri aku cukup untuk melunasi SPP sekolah aa yang belum terbayar hingga hari ini,amin (Kuningan, Februari 2020)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KURSI RODA BUAT MBAK SUMI"

Post a Comment