MEWARISI PUISI
Oleh: Édyar RM*

Konon, puisi adalah salah satu karya sastra tertua dalam sejarah manusia. Puisi tertua adalah Epos Gilgames, dari milenium ke-3 SM di Sumeria (Mesopotamia, sekarang Irak) yang ditulis dalam naskah tulisan kuno berbentuk baji pada tablet tanah liat dan, kemudian, papirus. Puisi dan syair-syair mitologi lainnya seperti  epos Iliad dan Odyssey karya Homerus, epik nasional Romawi, Virgil Aeneid, epos Ramayana dan Mahabharata di India, juga kitab-kitab kebijaksanaan Tao dan Konfusius, atau tradisi sastra lokal seperti pantun, gurindam, seloka, dsb., semuanya disajikan dalam syair-syair yang indah.

Berbicara tentang syair, kita mungkin mengenal beberapa pujangga legendaris semisal Kahlil Gibran, Jalaludin Rumi, Nizar Qabbani, Ernest Hemingway, William Shakespeare, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, Widji Thukul, Joko Pinurbo, dan sejumlah nama besar lainnya. Tidak sedikit syair karya mereka dijadikan quotes sebagai kata-kata bijak atau kata-kata mutiara.

Saya --barangkali Anda juga-- sangat terpukau dengan Chairil Anwar. Lihat saja, sarjana sastra Indonesia asal Belanda yang bernama A. Teeuw mendeskripsikan Chairil sebagai "penyair yang sempurna”, sementara Raffel mendiskripsikannya sebagai "tokoh sastra terbaik di Indonesia". Bahkan, tanggal kematiannya, 28 April, dirayakan sebagai Hari Puisi Nasional.

Apa pasalnya? Mati muda (1922–1949). Namun, sajak-sajak Chairil mendobrak tatanan perpuisian era Balai Pustaka dan Pujangga Baru yang masih mempertahankan pakem-pakem puisi lama seperti pada syair dan pantun. Cobalah perhatikan sajak Chairil yang ditulis pada awal kepenyairannya berikut ini:

NISAN
untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.

Oktober 1942

Chairil membebaskan diri dari aturan-aturan bait dan rima/ persajakan. Sajak Chairil padat kata, tetapi juga kuat dan bertenaga. Tak heran bila HB Jasin menyebut Chairil sebagai pelopor Angkatan ’45 sekaligus pelopor Puisi Modern Indonesia.

Ah, saya tidak bermaksud untuk memuji-muji Chairil Anwar habis-habisan pada tulisan ini. Hanya saja, semenjak era Chairil lahirlah puisi-puisi bebas dan lebih ekspresif. Nah, apalagi pada sekitar tahun 1970-an mulai populer puisi-puisi kontemporer yang bentuk dan gayanya lebih aneh lagi. Liar dan bebas. Silakan baca-baca puisi Sutardji Calzoum Bachri. Ini satu sebagai contoh.

SEPISAUPI

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupoi
sepikul diri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya ke dalam nyanyi

1973

Fashion selalu berputar. Celana cutbray yang dulu kuno kini bisa tren lagi. Pun dengan puisi. Puisi bebas yang diusung Chairil seolah diputarbalikkan kembali oleh puisi-puisi mantra Sutardji. Mantra adalah puisi kuno. Kesamaan rima dan pengulangan-pengulangan kata dalam mantra sebagai penguat sugesti dimanfaatkan dengan cerdas oleh Sutardji sehingga menghasilkan puisi mantra sakral tetapi lebih segar.

Lalu apa lagi?
Nah, ini yang menarik. Seiring dengan budaya kebebasan berekspresi dan kemajuan teknologi informatika, urusan menulis dan mengapresiasi puisi kini tidak lagi didominasi oleh para penyair kawakan yang telah mapan dalam dunia sastra. Hampir setiap orang bisa mempublikasikan karyanya kepada khalayak melalui blog, facebook, dan media sosial lainnya. Komunitas sastra siber banyak bermunculan.

Jenis-jenis puisi lama versi baru pun bermunculan. Ada yang gila berpantun dengan segala aturan mainnya. Ada yang senang puisi kuno dari Jepang yang terikat rumus semisal haiku, senryu, juga tanka. Ada pula jenis puisi baru yang sengaja diciptakan walaupun terinspirasi dari puisi lama, semisal akrostik, sonian, nainos, lipatdus, pattidusa, dan sebagainya. Penasaran dengan jenis-jenis puisi tersebut? Silakan googling dengan kuota sendiri.

Bagi saya, puisi-puisi model tersebut cukup menarik, terutama sekali bisa dimanfaatkan sebagai sarana syiar puisi di sekolah. Pelajar yang masih awam terhadap puisi bisa dikenalkan lebih dahulu dengan puisi-puisi model begini. Ia akan merasa tertantang dengan berbagai aturan yang mengikat, sekaligus melatih diksi dan imajinasinya.

Kemudian apa lagi?
Nah, ini yang lebih menarik. Program literasi mulai digalakkan dengan serius oleh pemerintah. Masyarakat kita terutama sekali guru-guru dan para pelajar dituntut banyak membaca. Di sisi lain, buku-buku bacaan langka sekali, juga mahal. Maka, hal ini dibaca dengan baik oleh pihak tertentu sebagai peluang. Selain dunia maya, puisi pun akhirnya membanjiri dunia percetakan. Penerbit-penerbit indie mulai bermunculan.

Dapat kita saksikan beberapa tahun belakangan ini marak orang menerbitkan buku sendiri tanpa harus was-was diseleksi ketat terlebih dahulu. Memang secara kualitas bisa sangat dikhawatirkan. Namun, tentunya para penulis pemula akan bertumbuh dan berkembang, belajar banyak dari buku pertamanya. Keberanian memulai hal baru menjadi poin terpenting. Cukuplah kita lihat sisi baiknya. Budaya baca-tulis semakin subur. Pilihan bahan bacaan bertambah banyak.

Lalu, apa yang bisa disimpulkan?
Jelas, puisi bukan lagi hanya milik para pujangga. Kini, semua orang boleh menulis puisi, asalkan mau. Tak harus menunggu jadi pujangga, semua kita boleh menyulam kata. Memang, puisi harus kembali pada masyarakat seperti halnya masa dahulu pantun menjadi tradisi masyarakat kita. Asalkan kita siap mewarisinya. Puisi melatih kita untuk lebih sadar melihat diri, lebih awas melihat masalah, lebih peka membaca semesta. Mari berpuisi.

___________________________
*ÉDYAR RAHAYU MALIK. Guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Ciawi. Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA Kab. Bogor. Pegiat Musikalisasi Puisi.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to " "