NAMAKU CEMPLON

Oleh : Aat Sumiati, S.Pd.

Kenalkan namaku Cemplon. Pedagang cilok keliling kampung. Aku masih single. Tenang saja karena sejatinya aku bertampang keren hanya kurang beruntung. Aku belum lah beruntung dalam hal jodoh. Ah tidak apa-apa mungkin karena aku tak sekaya Amir yang anaknya orang terkaya di kampungku. Hingga bisa memperistri Ayu kembang desa kami.

Aku terlahir dengan nama Cemplon, secemplon cemplonnya tanpa ada  nama berikutnya. Aku tidak bisa menolak pemberian mendiang ayahku. Aku terlahir sebagai anak tunggal. Dari seorang ibu rumah tangga biasa dan seorang ayah supir truk angkutan pasir. Ibuku sosok yang lembut penuh bijaksana sedang ayahku pekerja keras. Tapi sayang aku tak lama merasakan kasih sayangnya karena ayah mendahului kami. Semoga ayah senang di sana. Doaku tiap malam.

Malam ini seperti biasa setelah shalat isya aku membuat cilok buat kujual besok. Jadwal itu mau tidak mau harus aku kerjakan. Dari mana lagi kami dapat uang untuk membeli makanan penyambung hidup. Selalu ku kerjakan dengan senang berharap besok cilokku terjual habis seperti hari-hari sebelumnya.

Pernah karena  hujan besar jualan cilokku masih utuh sama sekali.  Sedih sekali, rasanya Tuhan tidak adil padaku yang sudah semalaman berkutat menahan kantuk yang mendera demi menjual cilok.

Tapi tidak malam itu. Aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku yang semalaman dengan semangat tanpa kantuk sedikitpun. Apa ini gara-gara aku mau berjualan di blok B di salah satu rumah di sana ada seorang gadis yang lugu, lucu dan ayu. Aku jadi ingin kenal dengannya. Semoga aku besok bisa ketemu.

“Cilok, cilok, cilok, De, Mas, Mbak ...” tawarku kencang di blok A. Beberapa anak kecil langgananku mendekat. Mereka berkerumun seperti biasa. Ada sekitar enam anak. Satu persatu kulayani mereka dengan tawa riang dan canda. Mang cemplon aku 3000 ya. Aku 2000 saja. Aku 3000 ya. Begitu terus mereka mengantri memesan.

Setelah selesai aku berbelok menuju blok B. Sesuai harapan gadis lugu, lucu dan ayu itu sedang menyapu teras rumah yang berhalaman luas itu. Segera kusapa dia dengan senyum malu- malu dia memandangku. “Ya mang cemplon aku beli ciloknya”. Tunggu ya aku ambil uang dulu. Sambil masuk ke dalam rumah.

Diulurkannya uang 5000 rupiah dari tangan halusnya yang bersih itu. Lalu segera kuyalani dia. Dua porsi cilok kuberikan padanya. Ini neng. Yang satu buat neng. Gratis dari saya. Sebagai perkenalan kita. Panggil saja saya Mas Cemplon jangan Mang cemplon yah. Kataku sambil memberikan cilok.

Kalau neng mau lagi besok kita ketemu lagi ya. Di sini. Jam segini.
Tambahku. Dengan senang diterimanya dua porsi cilok itu. Matanya berseri- seri. Berbinar. Tanda suka. Yes,  batinku.
Hari ini Mang Cemplon  berjualan keliling kampung seperti biasanya. Hanya saja serasa ada yang kurang ketika tak ditemukannya sesosok gadis lugu, lucu dan ayu itu. Siapa lagi kalau bukan neng Sarti idamannya. Yang seminggu ini selalu dia  mimpikan.

Karena kemarin Mang Cemplon sudah merangkai kata-kata indah sekedar mengajak idaman hati menonton pasar malam. Tapi ternyata kecewa yang didapatnya, tak juga nampak sosok yang dia harapkan. Wah gagal sudah rencanaku, batinnya. Padahal jauh-jauh hari Mang Cemplon sudah menabung dari hasil jualan ciloknya itu. Untuk mentraktir semangkok mie ayam dan segelas es kelapa segar.

Tiba-tiba buyar lamunan Mang Cemplon, tatkala segerombol anak-anak  mulai mengelilinginya, membeli cilok kesukaan mereka. Betapa tidak mereka sangat tertarik lantaran Mang Cemplon suka memberi hadiah permen atau biskuit atau kue lain saat mereka bisa menjawab atau menebak pertanyaan Mang Cemplon. Memang jitu taktik mang Cemplon ini. Hal ini dikerjakannya dengan tujuan menarik perhatian anak-anak membeli ciloknya.

Sekitar sejam lamanya, Mang Cemplon menunggu Sarti keluar rumah. Tapi tak nampak batang hidungnya. Dengan kecewa Mang Cemplon meneruskan jualan ciloknya ke blok C.

Seminggu kemudian tidak seperti hari biasanya Mang Cemplon tampak sangat tidak bersemangat. Teriakannya saja tidak senyaring biasanya seperti hari yang lain kalau menawarkan dan mengundang para pelanggan kecilnya.
Ada apa denganku. Batin Mang Cemplon. Pasti ini gara-gara Neng  Sarti yang tidak muncul beberapa hari ini. Apa ini yang namanya rindu ? Atau jangan-jangan Neng Sarti sakit ya. Duganya tak karuan.

Buktinya semalam dia bermimpi bertemu Neng Sarti. Mereka duduk di taman penuh bunga warna warni menghadap kolam yang dipenuhi ikan mas yang berenang. Seperti di sinetron saja. Baru saja digenggamnya tangan Neng Sarti, Mang Cemplon dikejutkan teriakan ibunya yang membangunkan untuk shalat subuh ke mushola.
“Aduh emakku, mengganggu saja”. Hampir saja aku mengatakan isi hati. Bayangan neng Sarti sudah lari ditelan pagi.

Rasa penasaran Mang Cemplon terjawab sudah. Dari ibu-ibu tetangga Neng Sarti, yang mengabarkan kalau pak Burham, omnya Neng Sarti sedang opname. Sudah sekitar seminggu karena serangan jantung. Pantas saja Neng Sarti selama itu pula tidak kelihatan.
“Alhamdulillah ...” Mang Cemplon berujar. Neng Sarti tidak apa- apa. Rupanya selama ini dia menunggu omnya di rumah sakit

Seperti dapat energi baru. Suara Mang Cemplon memecah blok B menuju blok C. “Cilok... cilok... cilok... enak...ayo beli sebelum kehabisan”.

Ini adalah hari ke-10, begitu Mang Cemplon hitung pada kalender yang bertanda silang merah, dia tidak bertemu Neng Sarti.
Tiba-tiba perasaan malas menghantui mang cemplon untuk keliling kampung hari itu. Terasa badannya agak meriang. Apa ini mala rindu. Oh tidak ... Neng Sarti ... Neng Sarti ….

Dengan duduk di dipan yang tak berkasur itu. Tiba-tiba tangannya mengambil secarik undangan. Berkali-kali dibacanya undangan itu. Dibacanya lagi dan lagi. Terlihat jelas nama Sarti dan Reza anak Pak Mamat akan menikah besok. Matanya terbelalak.
“Mak... Emak...” jeritnya hampir memekik.
“Apa benar, ini undangan menikah Sarti dan Mas Reza ?” Tanya cemplon dengan nada kecewa. Seperti yang kau lihat Cemplon. “Mereka serasi ya” ujar Emaknya. Cantik dan ganteng.

“Lalu aku bagaimana Mak. Jerit cemplon sejadinya. Aku suka, aku sayang Sarti mak. Kenapa Tuhan tidak berpihak kepadaku Mak. Apa salahku mak ?” jerit Cemplon tapi hanya dalam hati. Biarlah hanya hatinya saja yang tahu dan merasakan betapa sakitnya.

Hari itu Cemplon benar- benar sakit. Bukan sakit lantaran keliling kampung berjualan. Tapi sakit hati ditinggal Sang idaman.

Sebulan teriakan Mang Cemplon tak terdengar di setiap blok A, B, maupun C. Tak ada lagi anak-anak kecil penuh ceria tawa canda mengelilinginya. Mang Cemplon kini sudah pergi meninggalkan kampungnya. Membawa hati luka tercabik cinta gadis lugu, lucu dan ayu.

Langkahnya pasti, mengobati hati, membalut luka, ke kota mencari harapan baru pada sosok sarti lain yang ia ingin temui di kota. Mengukir karirnya. Selamat jalan cemplon semoga kau temukan cinta sejatimu seperti yang kau cari.
Selesai.

Profil Penulis

Aat Sumiati, S.Pd.
Lahir di Indramayu, 12 Desember 1971. Bungsu dari delapan bersaudara.
Menikah dengan Ir. Sabar, M.Pd, guru di SMK N 2 Indramayu.  Mempunyai seorang anak perempuan  kelas XII, di SMA Negeri1 Sindang, Indramayu. Mengajar sebagai guru Bahasa Inggris sejak tahun 1997, di SMPN 2 Sindang. Menjadi PNS sejak tahun 2000 dan ditempatkan di SMP N 3 Kertasemaya. Mulai tahun 2002 mengajar di SMP N 1 Jatibarang hingga sekarang.


















Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "NAMAKU CEMPLON"