Ramadanku Tanpa Tarawih Berjamaah di Mesjid

Oleh Badriah

Ramadan menawarkan peluang untuk menjadi penganut Islam yang lebih baik. Beberapa ulama sepakat menamai bulan puasa sebagai bulan penuh ampunan, bulan penuh berkah, bulan dari seribu bulan. Pemberian nama itu untuk merujuk bahwa bulan Ramadan merupakan waktu yang tidak seperti bulan-bulan lainnya. Pemberian nama ini tentu memberikan efek positif. Para penganut Islam yang taat akan lebih meningkatkan ketaatannya tergiur dengan ganjaran yang berlipat-lipat nanti di akhirat jika melakukan kebaikan di bulan ini. Mereka yang sebelumnya kurang taat, akan memaksakan diri untuk lebih taat. Di luar itu, ada juga yang melihatnya bulan ini kesempatan untuk mendapatkan manfaat kesehatan.
Para ahli kesehatan ramai-ramai mengumumkan manfaat ramadan untuk memberikan jeda kepada perut untuk memperbaiki sistem kerjanya. Ada juga yang menyebutkan untuk memperbaiki kinerja tubuh secara keseluruhan. Apapun manfaat yang diajukan, yang menarik, ada yang melegitimasi bahwa ibadah puasa dapat membantu melangsingkan tubuh.

Memang benar, beribadah pada bulan Ramadan mendapatkan penghargaan tersendiri dari Allah. Allah menjanjikan kelahiran kembali jika lulus melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya di bulan Ramadan. Salah satu ibadah yang baik sekaligus khas adalah beribadah shalat tarawih yang dilakukan secara berjamaah di mesjid. Untuk saya, yang perempuan biasanya shalat tarawih di rumah Kyai.

Tarawih untuk perempuan, khusus di kampung saya,  diawali dengan bersiap berangkat ke rumah kyai mulai pukul 7.00. Tetangga saya, Ma Iha selalu tepat waktu menjemput untuk berjalan bersama-sama menuju rumah kyai yang berada di belakang mesjid tempat para lelaki bertarawih. Biasanya, saya dan anak perempuan saya berangkat dengan membawa mukena dan sajadah masing-masing.

Ma Iha akan bercerita tentang makanan khas pembuka puasa. Dia mengeluhkan perubahan jenis makanan yang dijual hanya khas pada bulan puasa. Kini muncul menu baru seperti Cilor, Keripik Setan, Sop buah, Bacil dan makanan-makanan lain yang tidak sehat.  Kami yang mendengarkan penjelasan Ma Iha,  hanya senyum-senyum saja. Memang tidak mudah mendapatkan makanan yang sehat, mulai dari bahan, pengolahan sampai penyajian ketika makanan itu dibuat untuk dijual. Saya juga tidak menyalahkan jika Ma Iha merasa kelimpungan dengan makanan baru yang aneh-aneh yang pasti ditolak lidahnya. Memang harus diakui, cara manusia memandang makanan, dan cara menikmati makanan tidak lagi seperti sebelumnya.

Kini, karena Korona, saya dan keluarga tidak berangkat keluar rumah untuk bershalat tarawih. Saya mendengar ada tarawih dari suara loudspeaker. Saya tidak tahu, siapa dan berapa orang yang bertarawih. Saya tidak mendengar suara orang-orang yang lewat depan rumah untuk tarawih. Tahun lalu, juga tahun-tahun sebelumnya, saya bisa mengetahui serunya berangkat tarawih dari suara-suara kaki bersandal melewati jalan depan rumah saya. Biasanya anak-anak sangat ramai mengobrol dan sesekali menyalakan petasan diikuti sumpah serapah para orangtua yang kaget mendengar suara petasan yang dekat sekali ke tubuhnya.
 Kini, sepi.

Tarawih berjamaah selalu menjadi bagian penting dalam  ibadah puasa. Anak-anak sekolah dengan semangat mengikuti shalat tarawih. Pada saat mereka sangat enggan pun untuk bertarawih, mereka memaksakan diri datang. Anak-anak sekolah mendapatkan tugas untuk bershalat tarawih sebagai bahan penilaian mata pelajaran agama. Biasanya anak-anak sekolah diberi buku Amaliah Ramadan yang harus diisi setiap hari. Salah satunya adalah tarawih. Mereka membawa buku Amaliah Ramadan dan ditandatangan oleh kyai jika mereka melakukan amal yang disyaratkan dikerjakan selama bulan puasa.

Korona mengubah buku Ramadan yang harus ditanda tangan Kyai menjadi hanya selembar kertas  yang cukup diisi dengan centang. Berikut contoh kartu amaliah yang harus diisi anak saya yang bersekolah di SMP 2 Cianjur.

Walaupun tidak ada tarawih berjamaah di mesjid atau di rumah Kyai, puasa tetaplah puasa. Para ibu selalu kembali pada urusan pelik domestik. Memikirkan menu berbuka dan sahur yang dari tahun ke tahun seolah tidak pernah menemukan daftar menu yang bisa dijadikan patokan.

Diluar urusan tarawih, saya kembali ingat bahwa hari ini, bertepatan dengan hari Malaria Sedunia. Mungkin orang tidak terlalu memikirkannya. Perhatian kini terpusat pada Virus Korona. Malaria sama mematikannya dengan Korona. Bedanya, Malaria ada obatnya dan Indonesia telah mencanangkan 2030 bebas malaria.

Semoga Allah menjauhkan kita semua dari segala sakit penyakit.
Godspeed!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ramadanku Tanpa Tarawih Berjamaah di Mesjid "

Post a Comment