RAMADHAN DI RUMAH SAJA DI ANTARA CORONA

Oleh Sri Sunarti

Marhaban ya Ramdahan….
Nuansa Ramadhan terasa berbeda di tahun ini. Suasana wabah Covid 19 membuat gerak kami terbatas. Sesuai dengan himbauan pemerintah untuk di rumah saja. Kami berada di kota yang masuk jalur merah sehingga untuk kegiatan tarawih dilaksanakan di rumah secara berjamaah dipimpin oleh suami.

Kami hanya bertiga dengan putri cantik di rumah  karena bekerja dari rumah , sehingga melaksanakan KBM bagi siswanya di  SMA melalui google clsassroom. Putri kami yang satunya sedang berjuang di garda terdepan menjadi dokter di Pulau terluar Sulawesi Tengah. Dua putra kami bertugas di pedalaman Sumatra Utara dan Kupang . Ketiga anak-anak kami tidak mudik tahun ini sesuai anjuran pemerintah. Bagi kami keselamatan masyarakat lebih penting daripada kepentingan keluarga. Melalui  video call saja ,kami merasa cukup bahagia untuk mengatasi rasa kangen karena tidak dapat mudik.

Kami melakukan kegiatan Ramadhan seperti biasanya, aktifitas puasa dan sahur dengan sukacita. Suasana yang penuh rahmat tersebut kami manfaatkan dengan tidak lupa melakukan kegiatan baksos di komplek perumahan dengan mengumpulkan dana kas komplek dan sumbangan  spontan yang hasilnya  pada  dititipkan salah satu komunitas pecinta sedekah di kota kami. Kami juga ikut andil melaku kan penggalangan dana di Espero 82 , komunitas alumni SMP dengan baksos APD, masker di salah satu rumah sakit di kota kami dan 100 nasi kotak untuk dhuafa. Semuanya tidak terlepas dari keprihatinan kami, begitu banyak saudara-saudara kita yang terkena dampak covid 19. Hal tersebut disebabkan karena pencari rejeki harian yang lesu dan korban PHK yang menimpa mereka.

Suasana cuaca yang mendukung Ramadhan hingga tidak terasa mengisi hari-hari berpuasa. Kami memiliki target kataman dan kebiasaan waktu anak-anak masih kecil bila di antara mereka berhasil katam maka ada reward sebagai motivasi untuk melaksanakan kegiatan religi .Hal tersebut, waktu masih kanak-kanak terasa seru dan menjadi penyemangat, tetapi setelah dewasa berubah menjadi suatu kewajiban . Namun apa salahnya reward tetap diberikan kepada putri kami .

Pada hitungan hari kedua Ramadhan, terdengar azan maghrib memecahkan suasana hening menjelang berbuka. Sejumput kurma dan segelas air hangat melepas dahaga. Selain itu sebungkus “Ragit” kunikmati , salah satu makanan khas Indramayu yang dijual satu tahun sekali yaitu selama Ramadhan saja. Makanan tersebut dibuat dari tepung beras dengan bumbu khas dan disiram santan, sehingga terasa gurihnya hingga suapan terakhir. Setelah itu kami  menuju gelaran sajadah memenuhi panggilan-Mu untuk sholat maghrib. Wajah ceria merekah mewarnai suami dan putri kami untuk menyantap makanan berat selepas tarawih.Kerinduaan suasana tarawih di Masjid  sempat mengusik lamunan saya. Semoga Allah swt segera membawa Corona pergi dari muka bumi ini. Betapa kami merindukan suasana Ramadhan kembali normal seperti biasanya.Kami juga sulit membayangkan nanti tanpa ada takbir keliling menjelang Idul Fitri. Suasana haru di rumah dengan bertakbiran bersama keluarga. Apalagi mengingat beberapa anak-anak dan masyakat Indonesia yang tidak mudik di Idhul Fitri..




















J
Hj. Sri Sunarti,M.Pd., Lahir di Indramayu 24.Mei 1965. Alumni Pascasarjana UPI Bandung, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia. Dia sebagai Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kab. Indramayu dan Fasilitator Nasional PPK ,GTK Kemendikbd. Selain itu, Dia juga Pegiat Literasi di Kolider (Komunitas Literasi Dermayu). Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen, dan karya ilmiah, dibukukan  sebanyak 20 buku persama penulis lain serta 2 buku tungga.l .Dia kepsek berperestasi Tk Jawa Barat 2014, Motivator Sanitasi Jawa Barat 2013, dan  Education Award  2013. Alamatnya Simpang Lima Regency D/3A Rt 037 Rw 013 Pekandangan Indramayu  Kode Pos 45216 , Jawa Barat
Email: srisunartie 245@gmail.com No. HP    : 081324600493
Pengumpulan naskah terakhir tanggal 30 April 2020, ke email asyik_ah_67@yahoo.com  naskah  konfirmasi ke WA 082233554444.









Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "RAMADHAN DI RUMAH SAJA DI ANTARA CORONA"