Ramadhanku Tanpa Papajar

Oleh Badriah

Ramadhan tahun 2020 menjadi bulan puasa yang dilaksanakan dan dirasakan dengan cara yang tidak biasa. Wabah coronavirus-19 (Covid-19) merebak di seluruh dunia. Sampai tanggal 23 April 2020 di Indonesia dilaporkan Menteri Kesehatan terdapat 7.775 kasus, dengan jumlah korban terinfeksi yang wafat sejumlah 647 orang. Hari ini, sudah dipastikan angka itu berubah semakin besar.

Wabah Covid-19 mengubah pelaksanaan cara berpraktik puasa di Indonesia, demikian juga di kota kecil tempat saya tinggal, Kabupaten Cianjur. Salah satu yang sangat terasa pada hari pertama menjelang puasa adalah tidak ada Papajar. Apa itu Papajar?

Papajar bukan Pa Pajar yang mengacu pada orang bernama Pajar. Papajar adalah mikro-kultur masyarakat Cianjur dalam menyambut bulan puasa. Umumnya Papajar dimulai antara 3 atau 2 hari sebelum hari pertama puasa, atau Munggah. Masyarakat melakukan Papajar dengan cara menyisihkan waktu sehari khusus untuk berpiknik ke sebuah tempat bersama keluarga, teman, atau saudara. Di tempat piknik tersebut mereka akan menghabiskan hari dengan bersenang-senang, bermain sepuasnya, dan yang inti adalah makan sepuasnya. Pada saat bulan puasa, bersenang-senang, bermain dan makan diatur. Oleh karenanya mumpung belum diatur, semuanya dipuaskan pada saat Papajar.

Papajar tentu tidak sama dengan piknik. Piknik, botram, bancahan bisa dilakukan kapan saja. Papajar  hanya dilakukan pada saat menjelang bulan puasa saja. Kata Papajar tidak akan didengar selama 11 bulan. Kata Papajar akan mendadak dipakai pada bulan Rewah (Syaban) atau satu bulan sebelum bulan puasa.
Tradisi Papajar harus diistirahatkan tahun ini. pemerintah dengan tegas melarang melakukan bepergian. Pergi Papajar ke kota yang red zone yaitu daerah yang sudah ada infeksi antar penduduk, bukan lagi karena akibat pendatang. Jakarta, Bogor, dan Sukabumi yang biasa menjadi tujuan Papajar sudah ditandai sebagai tempat berbahaya untuk dikunjungi.

Himbauan pemerintah berubah dari hari ke hari. Khusus untuk urusan keagamaan, himbauan dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Secara lengkap himbauan dari MUI  mencakup lima hal. Pertama, setiap orang wajib berusahan menjaga kesehatan dan menjauhi segala hal yang akan mengakibatkan terpapar Covid-19.

Hal kedua, jika terpapar Covid-19 wajib mengisolasi diri agar tidak menulari orang lain. Ketiga, bagi yang merasa sehat, jangan memasuki daerah yang telah menjadi pusat penularan atau oleh pemerintah ditandai sebagai daerah bahaya wabah. Berdasarkan poin ketiga inilah, muslim disarankan untuk sahat di rumah. Termasuk shalat Jumat, dan shalat Tarawih. Tujuannya tiada lain adalah agar tidak terjadi kontak antara orang yang menjadi pembawa virus (carrier) dengan orang yang sehat sehingga berakibat orang sehat tadi menjadi sakit.

Keempat, haram hukumnya melaksanakan shalat sunat secara berjamaah, misalnya Shalat Jumat dan Shalat Tarawih jika daerah itu ditetapkan sebagai tempat wabah yang penularannya tidak lagi terkendali. Keenam, bahwa petunjuk pelaksanaan tata cara peribadahan di masa Covid-19 harus mengacu pada fatwa MUI.  Ketujuh, pengurusan jenazah diatur secara khusus mengikuti protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang.

Umat Islam harus mendekatkan diri kepada Allah dan tidak panik atau melakukan tindakan lain yang merugikan publik. Itulah sepuluh hal yang difatwakan oleh MUI terkait palaksanaan ibadah bagi umat Islam pada masa Covid-19.

Hari pertama puasa, bagi saya pribadi, terasa berbeda. Saya dan keluarga telah berdiam di rumah sejak tangga 17 Maret 2020. Saya, sebagai PNS, harus mengikuti aturan Work From Home atau bekerja dari rumah. Sedangkan anak saya yang masih pelajar harus melakukan belajar dari rumah. Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, menyiapkan pembelajaran dengan bantuan TVRI.

Menyambut puasa tahun ini dengan cara yang tidak sama. Tidak ada Papajar, tidak ada belanja untuk Munggahan,  tidak ada kegiatan yang menunjukkan kemeriahan menyambut bulan yang penuh ampunan.

Bagi keluarga lain yang tinggal sekampung dengan saya, tentu berbeda juga dalam menyambut bulan puasa tahun ini. Saya dan keluarga melaksanakan work from home  dan study from home. Tetapi tidak untuk para tetangga saya. Mereka tetap berkegiatan seperti biasanya. Saat saya menulis tulisan ini, saya bisa mendengar dengan jelas teriak kegirangan anak-anak yang dapat menggoda orang lain dengan membunyikan petasan. Suara orang mengaji dari mesjid-mesjid kecil saling bersahutan. Bahkan, siang tadi, para lelaki melakukan shalat Jumat berjamaah, Alasannya takut jadi murtad dan kafir karena sudah 7 Jumat tidak shalat Jumat. Dan barusan, terlihat serombongan orang pulang tarawih. Mereka yakin bahwa di Cianjur tidak ada virus Korona, dan orang beriman tidak akan kena wabah. Himbauan pemerintah juga menteri agama hanya menjadi bagian dari berita yang menghiasi keseharian. Masalah pelaksanaan sebagai bukti bertanggung jawab pada kesehatan dirinya juga orang lain, tidak menjadi urusan mereka. 
Semoga Allah melindungi kita semua.
Godspeed!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ramadhanku Tanpa Papajar "

Post a Comment