ANGGUN SANG PEMAAF

oleh Angga, S. Pd.

“Bu, Pak Arka bicara apa saat Ibu ke sekolah?” tanyaku penasaran. Ibu terlihat sibuk memotong sayuran untuk membuat sayur sop, menu makan malam kami.
“Pak Arka bilang, Putri mau meminta maaf kepada Anggun dan Ibu,” jawab Ibu sambil tangannya terus memotong sayuran dan memasukannya ke dalam panci. Tak perlu waktu lama, aroma sayur sop buatan Ibu sudah tercium harumya dan membuat perutku menjadi lapar.
“Tapi Anggun masih tidak berani pergi ke sekolah, Bu!” rengekku.
“Mengapa Anggun? Kamu masih takut dengan Putri,” Ibu bertanya kepadaku. Aku tak langsung menjawabnya dan pergi ke ruang makan. Aku bantu Ibu membawa sayur yang telah Ibu masak tadi dan meletakkannya di atas meja makan.
“Bu, apakah kita harus memaafkan Putri? Padahal Putri sudah berbuat tidak baik kepada Anggun,” kataku. Ibu melihat kepadaku, tangannya terlihat sedang berusaha untuk mematikan kompor. Kemudian, Ibu menyuruhku untuk duduk di meja makan.
“Anggun, memaafkan orang lain adalah perbuatan baik. Jika kita tidak menerima maafnya, justru kita yang akan berdosa, Nak!” Ibu memberikan penjelasan panjang lebar kepadaku tentang keharusan meminta maaf dan memaafkan sesama.
***
Beberapa hari yang lalu ….
“Putri, ayo mengaku! Berapa uang yang telah kamu minta dengan paksa dari Anggun. Dia sampai sekarang takut ke sekolah, takut kepadamu, Putri!” Pak Arka mendesak Putri. Semua anak yang ada di dalam kelas, terdiam.
“Lima ratus, Pak!” jawab Putri sangat pelan hampir tidak terdengar. “Apa lima ratus?!” nada Pak Arka meninggi, kaget dengan jawaban Putri. Putri menunduk kembali.
“Jika lima ratus, tidak mungkin orang tuanya Anggun datang ke sini kemarin, ia menangis sesenggukan. Ibunya Anggun berkata bahwa kamu sudah mengambil paksa uangnya sampai lima ribu rupiah,” tegas Pak Arka kepada Putri. Putri tidak melihat wajah gurunya yang sudah merah padam menahan amarah yang kian memuncak. Putri terus menunduk, semakin takut kepada gurunya ini.
“Urusan bapak dengan kamu belum selesai, Putri! Bapak akan kembali nanti!” Pak Arka pergi ke luar meninggalkan kelas. Dia membasuh wajahnya di kamar mandi agar tidak terlihat merah padam. Dia tidak mau semua guru tahu bahwa dirinya tengah emosi dengan masalah Putri ini.
“Pak Arka, Putri adalah anak korban broken home. Dia tinggal bersama ibu dan bibinya. Sementara, ayahnya tidak tahu entah dimana keberadaannya sekarang. Mungkin ayahnya sudah menikah lagi dan tidak membiayai hidup dan sekolahnya Putri,” penjelasan Bu Intan. Pak Arka mendengarkan cerita Bu Intan dengan seksama, ia membayangkan hari-hari yang Putri lalui. Tumbuh kembangnya tidaklah sempurna, tidak lengkap tanpa didikan atau ajaran ayah dan ibunya. “Begitulah nasib anak korban perceraian, sama dan selalu sama seperti ini,” gumam Pak Arka.
“Tidak heran jika Putri berperilaku seperti itu, Pak. Dia kekurangan ekonomi dan panutan yang baik. Putri tumbuh menjadi anak yang bermasalah dalam bersosial. Akhirnya dia melakukan segala cara untuk memenuhi semua keinginannya. Tanpa adanya kontrol yang benar.” Penuturan Bu Intan membuat Pak Arka termenung lagi, sikap apa yang harus ia ambil terhadap Putri?
Pak Arka masuk ke dalam kelas kembali. Anak-anak masih terdiam. Pak Arka melihat wajah Putri pelan-pelan. Dia perhatikan dengan seksama dan mendekat padanya. “Putri ikut bapak ke kantor,” titahnya.
“Putri, perilaku yang kamu lakukan tidak baik, Nak. Merampas barang punya temanmu itu adalah sebuah perilaku yang buruk. Meminta uang kepada Anggun dengan paksa, itu juga perilaku yang buruk dan termasuk sebuah kejahatan,” nasihat Pak Arka. Dia coba untuk tidak emosi lagi.
“Sekarang, kamu minta maaf kepada Anggun, kepada ibunya juga. Kamu berjanji tidak akan melakukan itu lagi. Bagaimana, maukah kamu meminta maaf kepada mereka?” pinta Pak Arka.
“Baik Pak, Putri akan meminta maaf. Putri janji tidak akan berbuat itu lagi,” jawaban Putri kepada gurunya ini. Putri juga berjanji tidak akan berkelahi, membuli, dan bersikap buruk kepada temannya.
***
“Assalamu’alaikum,” ucapan salam terdengar dari balik pintu depan. Ku tengok sedikit dengan membukakan gorden jendela. Ada Putri yang sedang berdiri di depan pintu.
Aku tidak cepat-cepat membuka pintu tersebut. Aku berlari menghampiri Ibu yang sedang duduk di ruang makan.
“Bu, Putri ada di luar rumah. Mau apa ya, Putri? Terus Anggun harus berbuat apa, Bu?” tanyaku borongan membuat Ibu bingung.
“Kamu harus menemui Putri, Anggun. Sepertinya Putri ingin meminta maaf kepada Anggun dan Ibu. Cepat bukakan pintunya!” Aku pun dengan sedikit ragu memenuhi perintah Ibu untuk membukakan pintu.
“Wa’alaikum salam,” jawabku pelan dan sedikit terlambat rasanya untuk menjawab salam Putri tadi.
“Maafkan Putri, ya Anggun. Putri menyesal sudah melakukan hal yang tidak baik. Putri mengaku salah,” pinta Putri.
Aku tidak bergegas menerima maaf dari Putri. Sebenarnya aku masih marah dengan perlakuan Putri di sekolah kepadaku. Tapi, aku melihat Ibu tersenyum padaku. Matanya seolah membujukku untuk mau memaafkan Putri.
“Gun, kamu mau kan memaafkanku?” pinta Putri sekali lagi. Aku merenung kembali mengingat sikap Putri di sekolah. Aku juga ingat nasihat Ibu untuk selalu memaafkan orang lain jika berbuat salah kepada kita. Aku bingung ….
“Aku sudah memaafkan kamu, Put. Tapi jangan diulangi lagi ya,” kataku.
“Terima kasih Anggun. Besok kamu masuk sekolah ya. Pak Arka selalu bertanya kapan kamu masuk sekolah lagi,” ucap Putri.
“Ibu Anggun, Putri juga mau minta maaf ya! Mohon maafkan Putri. Putri janji tidak akan mengulanginya lagi”, pinta Putri kepada Ibu. Ibu mengangguk dari belakang tanda sudah memaafkannya.
Putri pun berlalu meninggalkan rumah dengan wajah tersenyum. Aku tak percaya telah memaafkan Putri. Padahal, ku tahu Putri sudah memalak uangku di sekolah kemarin.
“Gun, kamu adalah anak Ibu yang cantik dan baik hatinya. Kamu sudah rela memaafkan orang lain yang berbuat salah kepadamu. Itu sulit, Gun,” kata Ibu sambil menepuk pundakku yang tadi tengah diam termenung.
“Anggun sudah melakukan hal yang benar ya, Bu?” tanyaku meyakinkan sikapku.
“Tentu, Nak. Karena sesama manusia haruslah saling memaafkan. Jadi besok kamu akan masuk ke sekolah lagi? Pak Arka sudah menanyakan terus,” lanjut Ibu.
“Tentu, Bu. Besok Anggun akan berangkat ke sekolah. Karena Anggun sudah memaafkan Putri. Dan Putri pun sudah menyesali perbuatannya,” jawabku mantap.
“Bagus, itu baru anak Ibu. Anggun yang pemaaf.”

Penulis bernama Angga, S.Pd. Kelahiran Bandung, 7 April 1988. Putra ketiga dari almarhum Bapak Rohib dan Ibu Yati Rohyati. Penulis tinggal di Kp. Legok RT. 01 RW. 08 Ds. Sukarame Kec. Leles, Garut, Jawa Barat. Penulis merupakan lulusan Universitas Pasundan Bandung S1 jurusan PGSD. Sekarang, Penulis mengajar di SDN 1 Sukarame. Penulis senang menulis berbagai tulisan, karena menulis itu seperti bernafas yang dapat dilakukan setiap saat. Belajar menulis bagi Penulis adalah sepanjang hayat.

Akun FB Penulis yaitu: Ang Saja. Penulis dapat dihubungi di kontak 083825261718 dan memiliki nomor rekening Bank BJB atas nama ANGGA dengan nomor 0063742600100.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "ANGGUN SANG PEMAAF"

Post a Comment