Dahsyatnya Pengaruh Pendidikan Informal

 
A. Proses Pendidikan Informal
Mengapa proses pendidikan informal itu penting? Sebab, perannya jauh lebih besar daripada proses pendidikan formal. Lalu, bagaimana dampak pendidikan informal itu?
Sesungguhnya adalah sangat manusiawi kita ini tidak suka digurui oleh orang lain (proses seperti yang terjadi dalam pendidikan formal). Namun begitu, pendidikan formal ini merupakan kebutuhan yang sangant manusiawi dan tak terelakkan saat ini. Yakni, kita masih butuh (harus) berguru dari orang lain (proses informal). Yang jelas manusia itu tidak senang diajari, tetapi senang beajar.
Sebagai gambaran proses informal, seorang ayah masih bisa meragukan apakahia sungguh-sungguh bapak dari anaknya, jika ia kebingungan melihat prilaku anaknya. Namun seorang ibu, tidak bisa meragukan apakah seseorang itu anaknya atau bukan. Meskipun seorang ibu kebingungan melihat prilaku anaknya yang nakal, sulit diatur, dan menjelek-jelekan dirinya, namun ia tetap tidak bisa mengatakan: “ Apakah itu anak saya? Apa anak saya itu bukan anak sesat?”Mestinya dia bertanya, apa yang salah dengan saya, apa yang telah saya lakukan, apa yang saya buat dengan rumah saya, sehingga saya menjadi begitu?
Menurut Sutyas Prihanto, intinya bapak biologis selalu bisa dipertanyakan, namun ibu biologis akan selalu jelas dari rahim siapa seorang anak di lahirkan? Memang di zaman era ultrabioteknologi ini semua kebijaksanaan tradisional tersebut sudah kacau. Bapak biologis bisa diambil dari donor sperma, ibu biologis belum tentu adalah ibu anak pada saat ia menjadi “ surrogate mother “  (penyewaan rahim), das. Meskipun demikian, kebijaksanaan tradisional janganlah ditinggalkan.
Untuk itu, sesungguhnya dunia pendidikan itu sebenarnya dihayati oleh semangat keibuan, makanya disebut almamater (ibu kedua), bukan alma pater. Semua yang terkait dengan dengan kesuburan dan kehidupan akan selalu dikaitkan dengan sosok ibu. Dialah “Ibu pertiwi” (negara), “ ibu kota” (negara dan propinsi), dsb.
Jadi, dalam dunia pendidikan kayanya keliru apabila kita menyalahkan peserta didik dan mantan peserta didik atau alumnus, yang tidak puas dengan almamaternya. Itulah hakikat proses pendidikan informal.
B. Pengaruh Pendidikan Informal Terhadap Lingkungan
Berikut ini adalah ungkapan yang menggambarkan bagaimana dahsyatnya dampak pendidikan informal itu, yaitu:
Jika anak-anak dibesarkan dalam dunia yang penuh kritik, maka mereka akann belajar mencaci maki.

Jika anak-anak dibesarkan dalam dunia yang penuh kekejaman, maka mereka akan belajar berkelahi.

Jika anak-anak dibesarkan dalam dunia yang penuh olok-olok, maka mereka akan belajar untuk menjadi pemalu.
Jika anak-anak dibesarkan dalam dunia yang penuh tuduhan, maka mereka akan belajar untuk merasa bersalah.
Jika anak-anak hidup dalam dunia yang disemangati teloransi, maka mereka akan belajar untuk menjadi sabar.
Jika anak-anak hidup dalam dunia yang disemangati dorongan nyang membesarkan hati, maka mereka akan belajar untuk mempunyai kepercayaan.
Jika anak-anak hidup dalam dunia yang disemangati pujian, maka mereka akan belajar untuk menghargai.
Jika anak-anak hidup dalam dunia yang disemangati keadilan, maka mereka akan belajar untuk berlaku bijaksana.
Jika anak-anak hidup disemangati keamanan, maka mereka akan belajar untuk mempunyai iman 
dan keyakinan.
Jika anak-anak hidup dalam dunia yang disemangati dukungan, maka mereka akan belajar untuk menyangai diri sendi.
Jika anak-anak hidup dalam dunia yang disemangati sikap penerimaan dan persahabatan, maka mereka akan belajar untuk menemukan cinta di dunia.
Jadi, kalau kita renungi ungkapan tersebut sungguh luar biasa dasyatnya dalam proses pendidikan anak-anak kita. Untuk itu jangan main-main dengan proses pendidikan ini. Baik yang dilakukan di rumah maupun sekolah. Pokoknya, anak-anak itu akan belajar dari dunia yang membesarkannya, baik dirumah, sekolah, dan lingkungan.**

PROFIL PENULIS

Warmadi, S.Pd., M.Si lahir di Indramayu, 12 Februari 1962, Riwayat Pendidikannya Sekolah Dasar (SD) di Desa Tempel Kec. Lelea, Kab. Indramayu, melanjutkan ke jenjang berikutnya ke SMP PGRI Cikedung, Kec. Cikedung Kab. Indramayu, kemudian meneruskan ke SMA PGRI Indramayu Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), setelah lulus kemudian penulis masih belum bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dan penulis juga sempat bergaul dengan masyarakat luas dengan berbagai macam komunitas. Nah dari situlah penulis merasa punya tantangan untuk merubah sikap dan perilaku sebelumnya.
Hanya modal semangatlah, karena penulis tidak seperti anak-anak pada umumnya karena kedua orang tua sudah meninggal dunia sejak umur ± 3 tahun hanya hidup sederhana didampingi 7 saudara kakak, yang sangat menyayangi penulis.
Penulis dengan niat yang kuat daftar ke Perguruan Tinggi yaitu di Universitas Wiralodra (UNWIR) Indramayu, dan Alhamdulillah lulus S1 jurusan B. Indonesia dan Sastra.
Penulis akhirnya dengan bekal S-1 mampu beradaptasi untuk berkiprah di dunia pendidikan.
Berkompetisi dengan teman-teman yang lain tentunya berkompetisi sehat untuk mengangkat dunia pendidikan sampai dengan diberi kepercayaan disamping guru juga tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah.
Ada kebanggaan tersendiri sebagai anak petani juga yatim piatu tapi mampu mengikuti Pendidikan sampai dengan S2 dan Kepala Sekolah, itulah sebagai motivasi kepada generasi muda, bahwa kesuksesan itu bukan karena harta semata tetapi karena berjuang keras dan punya tekad yang kuat.
Mudah-mudahan pembaca tidak puas atas karya penulis ini dan penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar tulisan berikutnya bisa lebih sempurna lagi, semoga pembaca sukses, Aamin



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dahsyatnya Pengaruh Pendidikan Informal"

Post a Comment