Energi Apresiasi dan Motivasi, Kajian Literasi Spiritual

oleh : Wahyudin
Pengawas PAI Kemenag Kab. Bekasi

Setiap orang pasti membutuhkan apresiasi dan motivasi. Dua hal ini merupakan bagian dari aktualisasi diri dalam ranah psikologis. Seseorang bangga bila mendapat apresiasi. Terbit lah motivasi tinggi untuk berkarya lebih monumental dirasakan manfaatnya oleh setiap insan.

Makna apresiasi menurut KBBI yaitu penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu. Sedangkan motivasi menurut KBBI adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Antara apresiasi dan motivasi berjalan secara linier. Dalam hal beragama pun sudah banyak dijelaskan dalam Alquran dan Alhadits. Orang yang berbuat baik akan diberikan fadilah berupa kebaikan. Orang yang beramal shalih akan bahagia hidupnya di dunia dan akhirat dan seterusnya. Ini bagian dari apresiasi. Karena mendapat apresiasi atau _reward_ akhirnya seseorang termotivasi untuk meningkatkan kualitas amaliah dalam hidupnya.

Dalam konteks menulis, sangat dibutuhkan apresiasi dan motivasi. Seperti saat saya mengikuti tantangan menulis 14 hari tanpa jeda (27 Maret - 09 April 2020) yang digagas KPPBR, sesungguhnya sangat berat. Karena membutuhkan waktu, pemikiran, buku rujukan, tenaga dan konsistensi untuk terus menulis. Terlebih dengan masih mewabahnya _Corona Virus Disease_ sangat berat untuk 'ajeg' menulis. Saya melihat sahabat penulis selalu mengapresiasi karya sehingga energi motivasi bangkit kembali. Maka lahirlah karya tulis terus mengalir tak terbendung laksana air deras yang tiada henti.

*Otentisitas Karya Tulis*

Teringat dengan pesan Hernowo Hasim dalam bukunya _Quantum Writing_ mengutip pemikiran Arvan Pradiansyah bahwa "menulis sesungguhnya adalah ekspresi hati dan curahan jiwa kita yang terdalam. Karena itu, keaslian sesungguhnya merupakan kata kunci di sini. Bagi seorang penulis sejati, perasaan autentik sangat penting dan keautentikan itulah sesungguhnya yang hendak dikomunikasikan seorang penulis kepada setiap pembaca tulisannya".

Lebih lanjut Hernowo Hasim menyampaikan pesan kepada saya dengan tulisan tangan langsung, saat Almarhum mengirim buku "Flow di Era Socmed", beliau berpesan kepada saya : Untuk Bapak Wahyudin, _Semoga buku ini dapat membantu Bapak dalam menjalankan kegiatan membaca ngemil dan mengikat makna._ Pesan ini beliau tulis di Bandung pada tanggal 05 Oktober 2016 langsung ditandatangani bukunya.

Pesan dan motivasi luar biasa, sehingga saya pribadi terus termotivasi untuk belajar menulis. Baik melalui surat kabar, majalah, buku Antologi, web.kemenag dan juga berita online. Semuanya saya lakukan dengan ikhlas. Karena menulis bagi saya merupakan kewajiban dan bagian dari dakwah. Setelah kita diwajibkan untuk 'iqra' membaca selanjutnya wajib pula 'menulis'.

Much. Khoiri (2016: 3) dalam bukunya SOS [Sapa Ora Sibuk] menuturkan "jangan atasnamakan kesibukan untuk tidak menulis, karena menulis itu panggilan yang sama wajibnya dengan membaca". Haidar Bagir dalam sebuah pengantar dalam buku "Free Writing" buah karya Hernowo Hasim mengutarakan bahwa "membaca dan menulis adalah sebuah kegiatan berpikir. Kegiatan berpikir senantiasa mencari jalannya sendiri menuju kecanggihan yang lebih tinggi, dan akhirnya menuju kesempurnaan". Dua pernyataan ini sangat menghentakkan pikiran, ternyata kewajiban membaca satu paket dengan menulis. Hasil bacaan kemudian dituliskan. Sehingga melahirkan karya tulis yang otentik. Asli hasil buah pemikiran yang didukung referensi secukupnya. Sangat  nikmat dan berkah bukan?

*Apresiasi dan Motivasi Bagian Nilai Spiritual*

Membahagiakan orang lain itu bagian dari ibadah. Mengapresiasi dan memotivasi bisa berenergi dahsyat saat melahirkan karya yang bermanfaat. Rasullah SAW berpesan "Manusia terbaik itu yang paling bermanfaat bagi sesama". Inilah dahsyatnya literasi spiritual yang dikemas dengan apresiasi dan motivasi.

Saya bersyukur saat hari ke-14 memenuhi tantangan menulis bisa dituntaskan. Serta merta saya sujud syukur. Karena ini bagian dari prestasi hidup saya. Hampir tidak percaya, bisa menyelesaikan dengan baik. Kalau kita 'intip' di WAG KPPBR anggotanya ada 177 orang. Tetapi yang selesai menuntaskan tulisan selama 14 hari berjumlah 28 personal sesuai dengan yang di-infite di WAG Tantangan Menulis.  Artinya apresiasi dan motivasi memiliki energi super canggih, sehingga akhirnya mampu menyelesaikan tugas. Saya berharap, karya yang ditorehkan bermanfaat. Aamiin.

Jelaslah, energi apresiasi dan motivasi sungguh luar biasa untuk membangkitkan spirit menulis yang konsisten. Sehingga kita semua terus menuai karya untuk mengisi peradaban dari masa ke masa. Khazanah keilmuan terus kita bingkai dan abadikan. Insya Allah menjadi amal jariyah. Aamiin.

Penulis tinggal di Cikarang Bekasi. Buku Perdana : Jejak Mualaf Literasi.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Energi Apresiasi dan Motivasi, Kajian Literasi Spiritual"

  1. Makmum literasi, semangat penulis yang hebat, karyanya jadi amal ibadah, amin

    ReplyDelete
  2. Saya setuju bahwa apresiasi dan motivasi merupakan energi untuk terus meningkatkan kualitas literasi, sehingga ingin dan ingin berkarya terus

    ReplyDelete