Guru Merdeka dalam Pementasan Sandiwara

Dr. RASTO, M.Pd.

Ketrampilan Abad 21 dan Guru Merdeka
Keterampilan abad 21 tumbuh hasil analisis kebutuhan meningkatkan daya saing generasi muda dalam perkembangan ekonomi global, maka setelah Amerika menetapkan menjadi kebijakan pendidikannya, maka dengan serta merta banyak negara yang mengadopsi kebijakan itu, termasuk Indonesia. Fokus utama kajian  adalah adalah membekali generasi mudanya agar memiliki kompetensi yang paling mereka perlukan di saat ini dan di saat mendatang melalui penumbuhan keterampilan berbasis inquiry, belajar secara digital, dan meningkatkan kesadaran hidup pada konteks global. Paradigma baru dalam  konsep pembelajaran sangat dibutuhkan.
Perubahan paradigma dalam menelaah proses belajar peserta didik dan interaksi antara peserta didik dan guru. Sudah seyogyanyalah kegiatan belajar mengajar juga lebih mempertimbangkan peserta didik. Peserta didik bukanlah sebuah botol kosong yang bisa diisi dengan muatan-muatan informasi apa saja yang dianggap perlu oleh guru. Selain itu, alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju peserta didik. Hal ini sejalan dengan tagline kementerian pendidikan.
Pasca terpilihnya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, salah satu program unggulannya adalah “Merdeka Belajar” dan salah satu faktor terpenting dalam program tersebut adalah guru yang merdeka.  Guru merdeka adalah guru yang berani berimajinasi secara positif serta mampu menemukan formula yang tepat antara tuntutan kurikulum, kebutuhan peserta didik, ketersediaan sarana prasarana, dan situasi kondisional keuangan orang tua peserta didik. Dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Terisi, saya mengaplikasikan model Role-Play dengan pementasan sandiwara (salah satu kearifan local kabupaten Indramayu).

Model Pembelajaran Role Play dan Sandiwara
Role-Play adalah salah satu model pembelajaran, yaitu suatu aktifitas pembelajaran terencana yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang spesifik. Role-play  berdasarkan pada tiga aspek utama dari pengalaman peran dalam kehidupan sehari-hari, yang meliputi mengambil peran (Role-taking), membuat peran (Role-making) dan tawar-menawar peran (Role-negotiation). Tiga aspek dalam role play ada dalam pementasan sandiwara.
Menurut Ki Hajar Dewantara, sandiwara adalah ajaran, nasihat, atau anjuran melalui perlambangan. Menurut ensiklopedia sandiwara atau disebut lakon (bahasa Jawa) atau pertunjukan adalah suatu jenis cerita, bisa dalam bentuk tertulis maupun tidak tertulis, dan cara penyampaiannya dipentaskan di atas panggung yang berisi cerita mengenai kebudayaan di daerah setempat. 

Gambar Foto bersama setelah Pementasan Sandiwara
Manfaat Role Play
Manfaat menggunakan metode role play antara lain; dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa, di samping menjadi pengalaman yang menyenangkan juga memberi pengetahuan yang melekat dalam memori otak, sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan membuat kelas menjadi dinamis dan antusias, membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan, dan peserta didik dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan dibahas dalam proses belajar. 

Sandiwara di Youtube Akun rastohabibi
Pementasan sandiwara yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Terisi adalah wujud kolaborasi guru sejarah dengan guru mata pelajaran seni budaya dan Bahasa  Indonesia sebagai bahan penilai ujian sekolah. Saat pementasan kemudian direkam dan dibuat sinopsis videonya dan di upload di akun rastohabibi. Judul pementasan sandiwara yang sudah di upload  antara lain: Perang Bubat, Ciung Wanara, Misteri Ratu Rambut Kasih, Siluman Asam Rungkad dan masih banyak lagi yang belum dituliskan. 
Pemanfaatan akun rastohabibi tidak hanya dimanfaatkan oleh peserta didik SMA Negeri 1 Terisi – Indramayu saja, tapi juga sudah dimanfaatkan masyarakat “youtuber” di dunia maya, hal ini terbukti sampai dengan tanggal 10 Mei 2020 tercatat 6. 310 subscriber yang sudah berkunjung. 






Gambar Video Bermain Peran Pemanfaat IT dalam pembelajaran Sejarah di Akun: rastohabibi 

Penutup
Pementasan sandiwara sebagai implementasi model pembelajran role play, berdasarkan pengalaman yang telah dilaksanakan di SMA Negeri 1 Terisi, berdampak positif. Ketrampilan abad XI yang dituntut dari implementasi kurikulum 2013 yaitu ketrampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi dan kolaborasi, tanpak dalam pementasan sandiwara. Sandiwara bisa jadi salah satu alternatif bagi guru sejarah, karena dua kompetensi inti pengetahuan (KI 3) dan ketrampilan (KI 4) dapat dilakukan dalam penilaian. Pembelajaran di era revolusi 4.0, yang dituntut adalah guru merdeka dan merdeka belajar. Pementasan sandiwara yaitu wujud model pembelajaran yang menempatkan guru sebagai fasilitator dan membimbing siswa untuk memanfaatkan sumber-sumber belajar yang berbasis IT seperti akun youtube rastohabibi.


DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Rasto, lahir pada tanggal 02 Oktober 1977  di Indramayu, Jawa Barat. Penulis menempuh S1 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) lulus  2001. Studi S2 di Universitas Kuningan (UNIKU) lulus 2011.  S3 di Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung dan lulus 2018.

Disela-sela kesibukannya sebagai seorang guru, Penulis juga menulis artikel di media masa dan media online, publikasi Jurnal dan buku Antologi diantaranya berjudul “8 Karya Inspiratif Menarik Perhatian Anak Didik” tahun 2018, “Budaya Profesional untuk kemajuan pendidikan” dan “Karya Terbaik Guru Kreatif” tahun 2020. Buku solo yang pernah dibuat dengan judul “Kapitulasi Kalijati, Catatan Sejarah tentang Pendudukan Jepang di Indonesia” tahun 2019, dan buku kedua dengan judul “Pembelajaran Sejarah Indonesia Bermutu (Implementasi Kurikulum 2013 pada Sekolah Pilot Project di Kabupaten Indramayu)” tahun 2020. Kontak yang bisa dihubungi WA 085224618550 atau E-mail: rasto.mayone@gmail.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Guru Merdeka dalam Pementasan Sandiwara"

Post a Comment