INTEGRASI MATEMATIKA DENGAN NILAI-NILAI AGAMA

oleh Nilam Agustin
Mahasiswi Prodi Pendidikan Matematika Universitas Kuningan, Jawa Barat

Apa yang kamu pikirkan ketika akan mengeluarkan selembar uang untuk bersedekah? Apakah pernah berpikir uang kamu akan menjadi berkurang dan habis? Coba kita test ketika ada 2 lembar uang kertas di dalam dompet, uang pertama bernilai Rp10.000,- dan uang yang kedua bernilai Rp1.000,- lembaran uang mana yang akan kamu keluarkan untuk bersedekah?.

Kebanyakan orang berpikir jika mengeluarkan uang Rp10.000,- yang tersisa Rp1.000,-. Hal ini tidak salah ketika dihitung dalam perhitungan matematika manusia, akan tetapi lain halnya dengan matematika Allah SWT. “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-An’am [6]:160).
Kita garis bawahi ketika seseorang berbuat baik, Allah akan melipatgandakan 10 kali lipat amalnya. Dalam matematika manusia 11.000-10.000 =1.000, namun dalam matematika Allah 11.000-10.000 = 10.000 x 10 = Rp100.000.

Pertanyaannya bukan “tinggal berapa” namun “menjadi berapa”. Hal ini belum ditambah dengan pergantian 700 kali lipat pergantian berupa surga, pergantian berupa ampunan, pergantian berupa ditutupnya pintu neraka dan pergantian konversi dari hasil sedekah.

Ketika berniat untuk bersedekah sudah berpikir jauh ke sana pasti seseorang akan berlomba untuk mengeluarkan sedekah dengan jumlah yang tidak sedikit. Aku mempunyai kisah hikmah dari bersedekah, simak yu!.

Setahun yang lalu, saat aku duduk di kelas XII-SMA, seorang guru yang berbagi pengalamannya. Selain sebagai seorang guru, beliau juga mempunyai sampingan membuka usaha kecil-kecilan yaitu terima pesanan kaos. Beliau bercerita, ketika sedang melaksanakan shalat jumat di sebuah mesjid beliau merasa lapar.

Ketika di masjid, pandangannya tertuju pada satu kotak amal, beliau merasa bingung isi dompetnya hanya tersisa selembar uang lima ribu rupiah, jika dibelikan makanan cukup untuk mengganjal perutnya. Tapi, beliau juga ingin mengisi kotak amal itu, tanpa berpikir panjang akhirnya lebih memilih membiarkan perutnya yang lapar dan mengeluarkan uang lima ribunya di masukan ke dalam kotak amal.

 Suatu malam tepatnya beberapa hari setelah kejadian itu, suara handphonenya berdering, beliau menerima telpon dari salah seorang teman yang berniat memesan kaos dengan jumlah yang cukup banyak. Dari pesanan kaos itu beliau mendapatkan keuntungan 5 juta rupiah.

Beliau langsung teringat perihal kejadian sebelumnya waktu shalat Jum’at. Beliau berpikir mungkin ini balasan dari Allah, dan beliau sangat bersyukur atas apa yang telah berikan kepadanya. MasyaAllah kedatangan rezeki benar-benar datang dari arah yang tak terduga. Nikmat Allah mana lagi yang akan kamu dustakan?. Sungguh luar biasa bukan, dengan mengeluarkan selembar uang lima ribu rupiah dikembalikan oleh Allah sampai 1.000 kali lipat.

Dari kisah di atas apa yang bisa kita petik? Tentu sangat banyak. Ketika kita mempunyai keterbatasan materi untuk disedekahkan, keluarkanlah walaupun hanya sedikit. Maka, Allah SWT pasti membalasnya, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)Nya.” (QS al-Zalzalah [99]: 7).

Ketika kita sama sekali tidak mempunyai materi sedikitpun yang bisa di sedekahkan, ingat bahwa sedekah tidak hanya berupa materi, juga bisa berupa sesuatu yang dianggap ringan tapi itu merupakan suatu bentuk dari sedekah. Misalnya mengucap kalimat tasbih (subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), dan takbir (Allahu akbar).

Nabi SAW bersabda, "Hendaklah masing-masing tiap pagi bersedekah untuk persediaan badannya. Maka tiap kali bacaan tasbih itu sedekah, setiap tahmid, setiap takbir juga sedekah, menyuruh kebaikan dan melarang kejahatan itu sedekah dan sebagai ganti itu semua, cukuplah mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat.” (HR Muslim, Ahmad, dan Abu Daud).

Itulah salah satu contoh hitung perkalian dalam matematika berbasis nilai-nilai agama. Jika seorang guru matematka dapat menjelaskan dan mengaitkan pelajaran matematika dengan nilai-nilai agama maka akan dapat mengantarkan kepada kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual siswa. Buktikan!


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "INTEGRASI MATEMATIKA DENGAN NILAI-NILAI AGAMA"

Post a Comment