MAKAN

Hikmah

Oleh Èsèp Muhammad Zaini*

Makan merupakan sebuah rutinitas yang sulit kita tunda. Adab-adaban makan pun telah kita pelajari dan teladani dari orang tua sejak kita masih kanak. 

Habiskan makanan. Lebih baik 'nambah' daripada bersisa. Nanti, nasi yang tersisa akan 'nangis'. Jangan menyia-nyiakan rizki. Jangan membuang keberkahan. Demikian, kalimat-kalimat yang sering saya dengar, baik dari orang tua, kiai, maupun guru agama di sekolah. Orang tuaku bukan saja berucap, tetapi juga menelandankan setiap kami makan bersama. 

Hatiku selalu teriris miris, manakala melihat orang-orang dewasa makan di restoran, hajatan (prasmanan), atau hotel, nasi dan lauk-pauknya masih tersisa. Minggu lalu, di sebuah hotel berbintang, yang sedang dihuni oleh para guru hebat, mataku menyaksikan hal itu. Aku ingin menegurnya. Tetapi, perasaanku tak mengizinkan. 

Dorongan untuk mengulang kalimat-kalimat dan perilaku makan orang tuaku dulu begitu menggelora. Akhirnya, meluncurlah kalimat-kalimat itu di hadapan empat guru hebat yang tak menghabiskan makanannya. 

"Sudah berapa bulan Bapak mempraktikan cara makan yang baik?" Pertanyaan itu menyalak dari mulut salah seorang bapak guru hebat. Tentu saja, aku geram bukan kepalang. 

"O ... saya selalu melakukan 'lebih baik nambah daripada bersisa' sejak kecil. Karena, saya meneladani orang tua. Setelah beranjak dewasa, saya semakin paham. Bukan saja soal nasi nangis, keberkahan rizki, dan syukur nikmat, tetapi juga saya memahami betul proses menjadi nasi itu sangat panjang." 

Sejenak saya menebarkan pandangan ke sekeliling. Kemudian dilanjutkan lagi bicara. 

"Kebetulan orang tua saya seorang petani. Bagaimana beliau mengolah sawah untuk ditanami padi yang dipanen dua kali dalam setahun. Artinya, sekali panen empat hingga enam bulan harus menunggu. Bukan saja harus bermodal uang, tetapi lelehan keringat dari tubuh yang digarang matahari setiap hari. Jadi, betapa zalim dan kufur nikmat orang yang menyia-nyiakan nasi, meski sebiji." 

Aku menghela napas sambil memandang wajah bapak guru hebat itu. 

"Kalaulah nasi menangis dan keberkahan itu dianggap abstrak, mari kita lihat kenyataan di ujung mata kita. Saksikan, pemulung menyisir bak-bak sampah. Mengais nasi dan daging yang dibuang restoran dan hotel. Mereka sama sekali tak bersalah. Orang-orang yang selalu makan bersisalah yang harus bertanggung jawab. Mulailah revolusi mental dari cara makan yang beradab." 

Sayang, saya tak sempat berkenalan dengan bapak guru hebat itu.

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah Guneman, Ketua Yayasan Guneman Bandung, Ketua Yayasan KAGUM BOGOR RAYA, Ketua Yayasan Guneman Kamilah Almunawar Cianjur dan Komisaris Utama CV GUNEMAN Bandung.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "MAKAN"

  1. Makjleb, Kang Esep paparannya. Bukan karena saya juga pelaku yang kurang beradab dalam hal makan, justru karena saya sependapat dan telah tertanam adab tersebut sejak kecil. Saya menghayati dan mengamalkannya. Semoga si Bapak hebat tadi segera menyadarinya.

    ReplyDelete
  2. Berkah sebuah kalimat yang abstrak. Oleh karena itu masih banyak orang yang menghindari berkah. Dengan berbuat aniaya, zalim, kepada orang lain. Orang yang menjaga berkah untuk tidak berbuat tabjir terhadap sebutir nasi tentu akan akan memperhatikan perilaku yang lainnya. Nasi saja dianalogikan seperti manusia bisa menangis. Apalagi manusia sebenarnya. Do'anya akan mengikis keberkahan. Hebat penanaman karakter Bapak guru itu.

    ReplyDelete