MENEMBUS BATAS

oleh Yuyun Yulyanti

“Bumi Allah sangat luas. Jika kita baik, maka kita akan bertemu dengan orang baik pula”. Itulah kalimat yang kutanam dalam hati saat mendapatkan kesempatan dari Tuhan dalam mendapatkan tempat tugas yang baru. Hal ini seperti sebuah kejutan atau lebih tepatnya kejutan yang penuh tantangan. Sungguh tak pernah terpikir olehku harus menempuh jarak 36 km untuk sampai ke tempat mengajarku yang baru. Untuk menempuh jarak tersebut memang hanya memerlukan waktu kurang lebih satu jam dari tempat tinggalku. Hanya saja, jarak 3 km menuju sekolah menjadi medan terberat bagiku karena kondisi jalan yang naik turun, berbatuan terjal, dan tak beraspal. Hal tersebut cukup mampu membuat badanmu sakit saat pertama berkunjung ke sekolah. 
Memang sekolahku yang baru ini letaknya di kawasan hutan jati yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sumedang. Meskipun demikian, dari sekolahku, kita bisa setiap hari melihat betapa indahnya Gunung Tampomas yang akan menyambutmu dalam pandangan. Terlepas dari keindahan Gunung Tampomas, selang beberapa bulan kemudian, akses jalan menuju sekolahku diperbaiki. Betapa lega dan senang hatiku saat itu. Saya merasa sangat bersyukur sekali.
Mendapatkan sekolah baru tentunya Saya juga mendapatkan murid-murid baru, Bertemu dengan murid-murid baru bagiku adalah anugerah terindah dalam hidup. Setiap hari, Saya merasa mendapatkan sesuatu yang baru dari mereka. Terkadang, Saya sendiri merasa bingung tatkala mereka berbicara dengan Bahasa Sunda, sedangkan Saya yang kesehariannya berbicara Bahasa Jawa. Saya temukan istilah-istilah dan budaya baru. Masyarakatnya yang sangat ramah dan baik sekali. Saya pikir, di sini budaya daerahnya masih begitu kental dan inilah yang mungkin sulit ditemukan sekarang ini. Kekeluargaan di masyarakatnya masih begitu terjaga yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani dan pekebun. 
Sekolah tempatku mengajar hanyalah sekolah kecil dengan jumlah siswa yang tak begitu banyak. Meski sekolah kami kecil, kami mempunyai impian dan harapan yang begitu besar di masa depan. Pernah kutanya satu per satu muridku pada sebuah kesempatan tentang cita-cita mereka. Jawabannya beragam, ada yang ingin jadi dokter, polisi, tentara, guru, bahkan pengusaha. Saya aminkan dengan tulus untuk setiap cita-cita dan harapan mereka. Saya tahu, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh kebebasan dalam berkreativitas. Suatu waktu, pernah kudapati salah seorang murid yang dia begitu semangat sekali untuk datang ke sekolah walau jalan kaki sejauh 3 km dengan teriknya matahari yang membuat keringatmu bercucuran. Dia rela melakukan hal itu untuk tetap belajar. Hal ini menjadi cambuk bagi kita sebagai seorang guru agar tetap semangat dalam mendidik siswa. 
Dalam proses belajar, Saya tidak ingin mereka hanya mendapatkan materi saja. Lebih jauh dari itu, mereka mendapatkan kebermanafaatan dalam proses belajarnya untuk hidup mereka. Saya biasakan mereka untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya melalui tulisan. Saya ingin memberikan keberanian bagi mereka untuk bermimpi dan membangun apa yang menjadi harapan mereka. Bukankah tak sedikit ide cemerlang dan inspirasi hadir dalam sebuah tulisan? Saya ingin keterbatasan fasilitas yang kami miliki menjadi dasar pemikiran kreativitas yang tak terbatas.

Sedikit demi sedikit mereka belajar menulis tentang apa yang mereka rasakan, alami, bahkan memprediskikan keadaan lingkungan sekitar mereka. Tak jarang mereka meminta waktu tambahan untuk melanjutkan kembali tulisannya. Saya merasa begitu senang melihat mereka mampu menuangkan pemikirannya menjadi tulisan dalam sebuah buku yang biasanya kami sebut “diary book”. Hal tersebut menjadi momen terbaik yang mereka tunggu. Dari “diary book” tersebut Saya sedikit tahu tentang kehidupan mereka dan mulai memahaminya. 
Kini, jarak tak berarti apa-apa bagi mereka yang mau menyelam dan menyalami makna jarak itu sendiri. Guru tidak pernah memilih siapa yang akan menjadi muridnya, pun sebaliknya. Tuhan sudah tentukan alurnya masing-masing. Yang awalnya Saya pikir mengajar di perbatasan adalah sebuah tantangan, ternyata hal ini menjadi sebuah kesempatan bagi Saya untuk belajar banyak hal lagi tentang hidup, siswa, dan keterbatasan. Memang betul, Tuhan mengirimu jauh ke tempat yang tak pernah terpikirkan sebelumya karena memang ada sesuatu yang ingin ditunjukkan kepadamu dan ada sesuatu yang harus diselesaikan olehmu. Jika ‘perubahan’ dirasa masih sulit dilakukan, setidaknya berikan ‘kesan yang baik dan kesadaran’ untuk terus belajar.


Biodata Penulis
Yuyun Yulyanti, S,Pd.
Lahir di Indramayu, 20 Juli 1995. Anak kedua dari tiga bersaudara. Lulus kuliah S1 dari Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2017. Mengajar sebagai guru Bahasa Indonesia sejak 2017. Lulus seleksi CPNS tahun 2018 dan ditempatkan di SMPN Satu Atap 1 Terisi hingga sekarang. 

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MENEMBUS BATAS"

Post a Comment