MONDOK DI PONTREN HUSNUL KHOTIMAH (Refleksi Milad Pondok Pesantren Husnul Khotimah ke-26)

oleh Imam Nur Suharno
Kepala HRD dan Personalia Pesantren Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat

Tanggal 2 Mei Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan genap berusia 26 tahun. Usia produktif untuk melahirkan generasi dakwah yang siap berkontribusi untuk membangun negeri. Animo masyarakat menyekolahkan (memondokkan) anaknya di Pondok Pesantren Husnul Khotimah mengalami peningkatan yang signifikan.

Hal ini tampak dari, tidak kurang dari 2.174 calon santri yang mendaftar untuk tahun pembelajaran 2020/2021, berasal dari berbagai daerah di Tanah Air, termasuk dari Malaysia, Jepang, Turki, Saudi Arabia, dan Dubai.
Dari 2.174 calon santri, Pesantren Husnul Khotimah hanya mampu menerima santri baru kisaran 900 santri untuk tahun ini. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pesantren-pesantren di Tanah Air untuk fastabiqul khairat dalam meningkatkan perannya mendidik santri (sumber daya manusia/SDM) yang unggul dan berkarakter.

Alasan masyarakat menyekolahkan anaknya di Pesantren Husnul Khotimah karena memiliki empat keunggulan dalam lulusan, kualitas akademik, hafalan Alquran, penguatan pendidikan karakter, bahasa Arab dan Inggris.

Hal ini tampak dari lulusannya yang dapat melanjutkan ke perguruan tinggi bergengsi baik di dalam negeri maupun luar negeri. Juga, melahirkan para santri yang hafal Alquran 30 juz setiap tahunnya yang tidak kurang dari 80 santri.

Dalam grand desain 50 tahun Husnul Khotimah, memiliki empat cabang pesantren (kini sudah memiliki cabang Husnul Khotimah 2); Universitas Islam Husnul Khotimah (kini sudah memiliki Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah); Rumah Sakit Islam Husnul Khotimah (kini memiliki Rumah Sehat Klinik Pratama Husnul Khotimah); dan pemberdayaan ekonomi umat (kini sudah memiliki beberapa cabang usaha seperti HK Mart, HK konveksi, HK Bakery, dan HK laundry). 

Berjauhan dengan Orang Tua 
Tidak sedikit orang tua yang mengirimkan putra-putrinya untuk menimba ilmu pengetahuan di pesantren atau sekolah dengan sistem boarding (asrama). Ketika anak tinggal di pesantren, orang tua berjauhan dengan anak, dan rasa kangen pun kadang menghantuinya. Anak menjadi harapan orang tua untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Hal yang harus diperhatikan saat seseorang akan melanjutkan pendidikan jauh dari orang tua adalah, hal itu merupakan perpaduan keinginan bersama antara orang tua dan anak. Kalau hanya keinginan orang tua atau anak saja, akan muncul kendala.

Pasalnya, modal utama sekolah berjauhan dengan orang tua adalah betah atau tidak. Oleh karena itu, jauh-jauh hari sebelum anak itu berangkat menuntut ilmu di pesantren, orang tua harus memberi pemahaman terlebih dahulu bagaimana tata cara hidup berjauhan dengan orang tua.

Kunci belajar di pesantren adalah betah. Jika tidak betah, anak yang pintar pun akan kehilangan konsentrasi belajar. Sebaliknya, jika anak itu pas-pasan tetapi betah di pesantren, ia akan dapat konsentrasi dan belajar dengan baik.

Pendek kata, orang tua mengirimkan anak-anaknya ke pesantren karena ingin anak-anaknya pintar dan saleh. Bahkan, jika harus memilih di antara keduanya, orang tua akan memilih anak yang saleh ketimbang pintar.
Hal yang dapat dilakukan oleh orang tua saat anak belajar berjauhan (di pesantren) adalah doa. Jika segala upaya sudah dilakukan, langkah berikutnya adalah menguatkan diri dengan doa. Doa sebagai senjata orang mukmin. Sebab yang membolak-balikkan hati itu, bukan siapa-siapa tetapi Allah SWT.

Pada umumnya, orang tua memasukkan anak ke pesantren, ingin memperoleh tempat aman dan nyaman bagi putra-putrinya. Tempat yang sesuai dengan harapan orang tua. Apalagi semua tempat saat ini, memang sudah sangat mengkhawatirkan orang tua. Pendek kata, orang tua menghendaki pendidikan yang diberikan ini menghasilkan peserta didik menjadi anak saleh (untuk diri sendiri) dan menjadi muslih (mengajak kepada orang lain agar menjadi saleh) tanpa paksaan.

Pola aktivitas keseharian juga berbeda. Jika di rumah anak lebih banyak menonton televisi, di pesantren lebih banyak mengkaji Alquran. Hal sama terjadi juga dalam hal makan dan minum. Di rumah, makan, minum, dan mandi tidak harus mengantre. Sepintas tidak ada apa-apanya tetapi kemudian, bisa dirasakan sendiri.

Kehidupan pesantren, mengantarkan anak pada kehidupan 24 jam bersama dengan teman. Jika di rumah hanya mengenal beberapa orang, maka di pesantren akan mengenal banyak orang dengan belakang keluarga dan daerah yang berbeda-beda.

Di situlah akan terjadi kerukunan yang lintas batas, menanamkan dan menjalin ukhuwah (persaudaraan). Makanya, di sekolah itu ditanamkan saling menghargai dan menghormati. Yang tua menyayangi yang muda, yang muda hormat kepada yang tua. Di pesantren juga diajarkan akhlak kepada guru, orang tua, dan teman.
Jika di sekolah biasa paling lama hanya 2-7 jam, di pesantren 24 jam. Pesantren jadi sebuah laboratorium, tempat shalat berjamaah, puasa sunah bersama, makan dan mandi bersama (harus ngantre). Di pesantren ada ujian kesabaran dan berlatih mandiri. Lambat laun kehidupan ini akan membentuk karakter anak.

Oleh karena itu, lagi-lagi doa tidak hanya akan menguatkan anak tetapi juga guru pada saat membimbing. Semoga anak-anak kita yang sedang menimba ilmu di pesantren menjadi anak yang saleh dan cerdas. Selamat milad ke-26 Pesantren Husnul Khotimah Kuningan. Amin.





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MONDOK DI PONTREN HUSNUL KHOTIMAH (Refleksi Milad Pondok Pesantren Husnul Khotimah ke-26)"

Post a Comment