NYAWALAN

oleh Èsèp Muhammad Zaini*

Usai merayakan idul fitri, hampir seperempat warga di kampung saya melanjutkan puasa mulai tanggal 2 Syawal. Kami menyebutnya "nyawalan". Nyawalan selama enam hari, mulai tanggal 2 hingga 7 Syawal. Pada tanggal 8 Syawal, kami merayakan lebaran kembali. Kami menyebutnya lebaran Syawal atau lebaran "Kakaren". Kalau di daerah lain, seperti di daerah pantura Jawa Tengah dan Madura disebut lebaran ketupat. Juga, ada istilah "bodo idul fitri" dan "bodo ketupat". Bodo idul fitri, yaitu hari lebaran 1 Syawal. Sedangkan, bodo ketupat adalah lebaran seusai puasa Syawal selama enam hari. Jadi, jatuh pada tanggal 8 Syawal. Di pantura Jawa Tengah, masyarakat menyajikan sesajen yang berupa ketupat dan makanan lainnya di lepas pantai. Sebagai wujud rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Walau tidak semeriah perayaan idul fitri, tetapi lebaran "Kakaren" tetap terasa suasana kebersamaan dan kekeluargaannya. Sanak kerabat dan tetangga saling bercengkrama sambil membawa, saling menukar dan mencicipi kue-kue sisa lebaran idul fitri. Terasa lebih nikmat sampai bubuk terakhir. Goreng ulen (uli) dicocolkan ke dalam balakutek. Balakutek adalah sisa kuah (angeun) lebaran yang merupakan campuran dengan kuah dari tetangga saat kami saling berbagi/mengirim. Kuah (angeun) tersebut selalu disimpan di atas kompor atau hawu hingga mengering tetapi tidak gosong. Rasanya agak asem-asem tetapi gurih dan sedap. Sebab, di dalam terdapat berbagai sayuran, seperti kentang, kol, cabai hijau, kacang buncis, kacang panjang, tomat dedaging, dan sebagainya. Sesungguhnya itu makanan basi.

Nyawalan sangat dianjurkan oleh Rasul. Pahala bagi yang menunaikannya sama dengan puasa satu tahun penuh. Mengapa begitu dahsyat pahalanya? Sebab, tantangan dan godaannya pun begitu besar. Banyak alasan kita untuk tidak melaksanakan nyawalan. Karena bersilaturahmi dengan sanak keluarga yang tempat tinggalnya berjarak sedang hingga jauh. Karena masih banyak tamu yang berkunjung. Karena berpiknik ke tempat-tempat wisata. Dan, tentu saja karena malas bangun dan santap sahur.

Mengapa nyawalan sangat dianjurkan oleh Rasul? Mengapa nyawalan begitu penting atau bermanfaat bagi kita? Tentu jawaban yang paling baik dan benar adalah yang disampaikan oleh Rasul. Dan, yang tepat untuk membahas hal tersebut, tentu para ulama, kiai/ajengan dan ustadz. Saya hanya akan menyampaikan dari sisi logika saya yang tentu saja berpeluang untuk disanggah, ditanggapi dan ditolak oleh para pembaca.

Nyawalan tersebut, saya anggap sebagai pendinginan dan refleksi terhadap penunaian puasa sebulan penuh pada bulan Ramadan.

Bukan persoalan mudah untuk menyesuaikan waktu santap dengan alat pencernaan kita. Tidak sedikit orang mengalami gejala sakit. Mulai ringan, sedang hingga berat seusai merayakan idul fitri. Karena sebagian dari kita main hantam saja menyantap makanan, baik yang tersaji di rumah sendiri, saudara, tetangga maupun yang dijajakan para pedagang.

Sebagai refleksi, nyawalan menjadi medium untuk terus menjaga suasana Ramadan dan pengendali hawa nafsu. Apalagi, seusai Ramadan, sang raja goda sudah dilepas Allah dari kerangkengnya. Tentu saja, akan terjadi pertemuan yang amat romantis antara hawa nafsu dan syetan. Keduanya kembali menghirup udara bebas bagai kuda lepas dari 'gedogan' --kandang kuda dalam istilah bahasa Sunda.

Dengan nyawalan, kami berharap tetap bisa menjaga, mengatur dan mengelola suasana dan hawa nafsu. Bagi yang terbiasa menunaikan nyawalan, tentu tidak menjadi beban berat. Tetapi, bagi yang masih belajar, mungkin bisa menjadi beban. Sebab, berpuasa di tengah suasana yang banyak orang tidak berpuasa.

Saya menyepertikan Ramadan ini selain sebagai bulan belajar, juga sebagai bulan berlomba, bertanding, bahkan bertarung. Seperti biasanya, kalau para atlet mau berlomba, bertanding dan bertarung, selalu melakukan pemanasan atau laga uji coba. Dan, seusai berlomba, bertanding dan bertarung, para atlet mesti melakukan pendinganan. 

Begitupun dengan puasa penuh pada bulan Ramadan, sudah sewajarnya kita melakukan pemanasan dan pendinginan. Pemanasan menjelang puasa sebulan penuh pada Ramadan, sebaiknya kita memperbanyak puasa sunat pada bulan sebelumnya, yaitu bulan Rajab dan Syakban. Siti Aisyah, istri Rasul tercinta, pernah bertutur, bahwa beliau tidak menyaksikan Rasul banyak berpuasa seperti pada bulan Syakban. Bulan Syakban ini termasuk bulan yang dilupakan kebanyakan orang, demikian tutur Rasul kepada istri tersayang, Siti Aisyah.

Diterawang dari sudut logika, memperbanyak puasa sunat pada hari-hari bulan Syakban sangat diterima akal. Lagi-lagi, alat pencernaan kita sangat membutuhkan penyesuaian waktu santap. Hal ini, tentu tidak terlepas dari kewajiban kita untuk selalu menjaga kesehatan lahir dan batin. Keseimbangan kesehatan lahir dan batin harus menjadi prioritas. Jangan sampai karena melaksanakan ibadah kepada Allah, kita dirundung sakit.

Memang bulan Ramadan adalah bulan yang bukan sekadar menyuruh kita untuk berpuasa, tetapi efek domino Ramadan menjalar ke segala asfek, baik yang berhubungan dengan urusan peribadahan ritual maupun sosial,  ekonomi, budaya hingga politik. Urusan pahala dari Allah SWT, tentu kita sangat berharap. Tetapi, biarlah perhitungannya kita serahkan sepenuhnya kepada Sang Pemilik Alam Semesta ini. 

Selamat menunaikan puasa "nyawalan" dan menyambut lebaran "kakaren". Menyehatkan dan berpahala.

Cianjur, 1 Syawal 1437 H. (6 Juli 2016)

Bisa dibaca juga dalam buku: Literasi di Bulan Suci. 

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah Guneman, Ketua Yayasan Guneman Bandung, Ketua Yayasan KAGUM BOGOR RAYA, Ketua Yayasan Guneman Kamilah Almunawar Cianjur dan Komisaris Utama CV GUNEMAN Bandung.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "NYAWALAN"

Post a Comment