Opini: Ramadhan Bulan “Literasi”

oleh Romi Miftah Farid, S.Pd.I.



Belakangan kalimat “literasi” menggema di penjuru negeri. Berbagai kegiatan dilakukan untuk memompa daya baca masyarakat, aneka upaya dilakukan untuk mendongkrak nilai literasi negeri di mata dunia. Bukan hal yang negatif, justru sebaliknya tak ada hal yang merugikan jika masyarakat gemar membaca.

Miris memang jika kita berkaca pada hasil penelitian tentang literasi negeri ini di kancah internasional. Bagaimana tidak miris,  pada tahun 2012 disebutkan budaya literasi masyarakat kita menempati peringkat terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti oleh penelitian Programme for International Student Assessment (PISA).

Terlalu naif jika kita menyalahkan sebagian pihak atas “keterpurukan” yang sedang berlangsung. Untuk saat ini sudah bukan waktunya kita mencari kambing hitam atas hal tersebut.

Perlu ditegaskan kembali bahwa mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim, bahkan agama Islam tak bisa dipisahkan dengan kedaulatan negara sejak masa kelahirannya, peradaban yang terus bergerak tak lepas dari perjuangan serta do’a para Ulama dan santri-santrinya. Apalagi jika kita menengok kembali akan kelahiran agama Islam itu sendiri. Agama ini lahir dari sebuah pesan “Bacalah!” yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW di sebuah gua yang terletak di Jabal Nur yang terkenal dengan sebutan Hira.
 Seperti kacang yang lupa pada kulitnya,  mayoritas muslim di negara kita ternyata melupakan pesan pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW jika standar yang berlaku adalah hasil penelitian di atas. Pesan yang disampaikan langsung oleh Sang Kholiq dalam menata kehidupan manusia di dunia agar tetap menjadi manusia seutuhnya.

Sirine yang dibunyikan penelitian di atas cukup menjadi peringatan bahwa kita telah lupa dan melupakan salah satu tugas kita sebagai muslim.

Saatnya kita jadikan bulan Ramdhan ini sebagai tangga awal langkah menggapai pesan-pesan Ilahi yang telah kita lupakan. Tak pantas kiranya kita mengaku umat Nabi Muhammad SAW tapi sikap kita jauh dari uswah yang dicontohkannya.

Adalah Rasulullah SAW ketika memasuki bulan Ramadhan meningkatkan intensitas literasi terhadap Al-Qur’an atau yang lebih dikenal dengan istilah muraja’ah di kalangan para hafidz Al-Qur’an, bahkan disebutkan dalam sebuah hadits: 
 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dari 'Ubaidallah bin 'Uqbah bahwa Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling lembut (dermawan) dalam segala kebaikan. Dan kelembutan Beliau yang paling baik adalah saat bulan Ramadhan ketika Jibril alaihissalam datang menemui Beliau. Dan Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur'an) hingga Al Qur'an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Apabila Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau, maka Beliau adalah orang yang paling lembut dalam segala kebaikan melebihi lembutnya angin yang berhembus".(HR. Bukhori No. 1769)

Jelas kiranya bahwa tidak ada alasan yang pantas untuk kita terus melupakan pesan-pesan Ilahi yang dibawa oleh Rasulullah SAW, muslim yang cinta kepada Nabi-nya akan mengindahkan setiap pesan yang dibawa oleh Nabi-nya.

Sebagai tadzkir sebut saja Musa, seorang penghafal Al-Quran dari Indonesia, yang dikatakan oleh ayahnya bahwa Musa diajarkan menghafal sejak usia 2 tahun. Musa yang telah berhasil menghafal 30 juz  Al Quran dan juga sukses menghafal muatan hadits Arba’in An Nawawi.

Kamil Ramadhan dan Muhammad 
Gozali Akbar menjadi viral dan terkenal karena mampu menghafal Al Quran di usia yang masih sangat muda. Akbar yang masih berusia 10 tahun dan Kamil yang masih berusia 11 tahun sudah bisa menghafal Al Quran hanya dalam waktu 9 bulan.
 
Tak ada kata terlambat untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik, jika saja orang lain mampu, tentu bukan berarti kita tidak bisa. Hentikan detak ketukan kemalasan yang membentengi pikiran kita yang akhirnya melupakan amanat Ilahi untuk senantiasa membaca.

Rasulullah SAW mewariskan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sejatinya adalah sumber bacaan sebelum diamalkan untuk menciptakan peradaban. Entah sejarah apa yang akan kita ukir kelak jika warisan tersebut sengaja kita lupakan. Peradaban seperti apa yang hendak dicipta jika sumber peradaban terkubur oleh kemalasan.

Tempa diri kita di bulan yang penuh dengan nilai pendidikan. Renovasi sikap kita selagi masih diberikan kesempatan oleh-Nya, serta revisi akhlak kita agar menjadi umat yang benar-benar membuktikan kecintaannya terhadap Nabi, sehingga memasuki bulan yang baru di bulan Syawwal nanti kita lahir kembali menjadi insan yang fitri, manusia yang berdedikasi tinggi terhadap pesan-pesan Ilahi. Wallahu A’lam Bishowab.***fl

Romi Miftah Farid, S.Pd.I.
Pendidik SMA Terpadu Al-Mumin Paseh Kab. Bandung
OPS SDN Cibeureum 01, Kertasari

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Opini: Ramadhan Bulan “Literasi”"

Post a Comment