Pendidikan Dasar dan Pribadi Yang Tangguh

oleh Warmadi

A. Pribadi Tangguh
Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah tidak lain sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Ia yakin betul bahwa sekenario Allah SWT itu tidak akan meleset sedikit pun.
Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, mendapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dll., maka ia memiliki ketehanan untuk selalu bersabar. Dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak Allah. Ia pasrah dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajarandari setiap kejadian tersebut.

Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata dilihat secara fisik. Tetapi lebih-lebih dan yang lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang begitu tangguh dan kuat.
Seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan seseorang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada hadits Nabi yang menyebutkan  bahwa : “Orang mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari mukmin yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dan kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT.

Dalam konteks ini, dapat disebutkan bahwa kesuksesan menurut pandangan Al-Qur’an itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu (QS. 58 : 11). Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia.

Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis (1985), ada tiga pengaruh iman tersebut, yaitu berupa : kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).

Sedangkan menurut M. Yunan Nasution (1976), mengungkapkan pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa : iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.
Untuk mencapai dampak dari kekuatan iman itu, kuncinya terletak pada pribadi kita masing-masing. Dan kalau kita cermati, sebenernya pembentukan sifat pribadi pantang menyerah dan tanggung ini adalah berawal dari sifat optimisme yang menyelimuti pola pikir orang tersebut.

B. Pribadi Pantang Menyerah
Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa? Menurut penulis paling tidak ada empat berpikir positif yang perlu dibangun, yaitu : Pertama,  berpikir positif kepada Allah SWT. Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari kejadian itu dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.

Kedua, berpikir positif terhadap diri sendiri. Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya.

Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita menuju ridho-Nya, bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, ‘sang juara’. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.

Ketiga, berpikir positif pada orang lain. Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelaran bagi kita.

Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain ‘cakar-cakaran’. Tapi, kalau diluar itu ia akur, damai kembali.

Keempat, berpikir positif pada waktu. Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes.

Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta  pertanggung jawabannya kelak, di hadapan Allah SWT. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Allah berfirman, yang artinya “Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan Kami balasi mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 97).

Untuk memaksimalkan sikap positif pada diri seseorang, lebih-lebih sebagai pembentuk pribadi yang pantang menyerah, tangguh, ‘tahan banting’, sabar dan istiqomah pada jalan-Nya. Tentu perlu dibangun pula dengan kebiasaan positif.

Semoga tulisan ini menjadi bahan penilaian terhadap diri kita sendiri, terutama kaitannya dengan keinginan pembentukan pribadi yang pantang menyerah. Dan kita berdo’a, semoga Allah memberi kemampuan terhadap kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah sesuai tuntutan-Nya. Amin. Wallahu’alam.



PROFIL PENULIS
    
Warmadi, S.Pd., M.Si., lahir di Indramayu, 12 Februari 1962, Menyelesaikan pendidikan dasarnya  di Sekolah Dasar (SD), Desa Tempel Kec. Lelea, Kab. Indramayu. Melanjutkan ke jenjang berikutnya ke SMP PGRI Cikedung, Kec. Cikedung Kab. Indramayu. Kemudian meneruskan ke SMA PGRI Indramayu Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Setelah lulus, penulis masih belum bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Penulis juga sempat bergaul dengan masyarakat luas dengan berbagai macam komunitas. Nah dari situlah penulis merasa punya tantangan untuk merubah sikap dan perilaku dari yang sebelumnya.
Hanya dengan bermodal semangat, penulis bisa sukses seperti sekarang ini. Karena penulis tidak seperti anak-anak lain pada umumnya. Kedua orang tua penulis sudah meninggal dunia, sejak umur kurang lebih tiga tahun. Lalu penulis dibesarkan dalam  hidup yang serba sederhana didampingi oleh tujuh orang kakak, yang sangat menyayangi penulis.
Dengan niat dan kemauan yang kuat, penulis mendaftar ke Perguruan Tinggi yaitu di Universitas Wiralodra (UNWIR) Indramayu, dan Alhamdulillah lulus S1 jurusan Bahasa Indonesia dan Sastra.
Dengan bekal pendidikan S1, penulis akhirnya mampu beradaptasi untuk berkiprah di dunia pendidikan. Berkompetisi dengan teman-teman yang lain tentunya berkompetisi secara sehat untuk mengangkat dunia pendidikan. Sampai akhirnya penulis diberi kepercayaan disamping guru juga tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah.
Ada kebanggaan tersendiri sebagai anak petani juga yatim piatu tapi mampu menyelesaikan pendidikan sampai dengan S2 dan menjadi Kepala Sekolah. Hal itulah yang penulis harap bisa sebagai motivasi kepada generasi muda, bahwa kesuksesan itu bukan karena harta semata tetapi karena berjuang keras dan punya tekad yang kuat.
Mudah-mudahan pembaca tidak puas atas karya penulis ini dan penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar tulisan ini lebih sempurna lagi, semoga pembaca sukses, Aamiin.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pendidikan Dasar dan Pribadi Yang Tangguh"

Post a Comment