Pendidikan Merupakan Harapan Bangsa

 oleh Warmadi

A. Pendidikan Harapan Bangsa
Pendidikan merupakan kata yang gampang diucapkan, tapi sesungguhnya susah untuk diwujudkan. Pendidikan bagaikan ‘napas’ dan merupakan barometer keberhasilan suatu bangsa. Artinya, gambaran kehidupan bermasyarakat di suatu daerah yang ditopang dengan memperhatikan bidang pendidikannya, maka daerah itu akan berkembang pesat pada semua lini, yaitu ekonomi, sosial, budaya, politik dan IPM daerah tersebut akan meningkat.

Atas dasar itu, sudah selayaknya para pemangku kebijakan/pemimpin baik pusat maupun daerah harus memiliki keberanian menjadikan pendidikan dan kemajuaannya sebagai prioritas utama. Diwujudkan dengan cara berinvestasi dalam sector pendidikan untuk hari ini, esok, dan yang akan datang. Sebab, pendidikan itu merupakan “jembatan emas” untuk berkehidupan yang layak atau subur makmur di bumi pertiwi yang lohjinawi dan merupakan harapan para leluhur bangsa ini.

Fakta kekinian, kita tahu bersama ditengah-tengah kehidupan masyarakat saat ini, masih banyak yang berjuang dan rela berkorban untuk membatu pemerintah dalam bidang pendidikan. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya tenaga sukarelawan yang mengajar dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA dan SMK dengan honorarium alakadarnya. Kondisi ini, sangat tergantung dengan bagaimana konsekuensi pemegang kekuasaan baik di pusat maupun daerah terhadap kondisi dunia pendidikan ini.
Untuk meraih prestasi dalam dunia pendidikan, tentu harus didukung oleh semua kalangan di masyarakat secara luas, diantaranya: pejabat pemegang kebijakan pusat dan daerah; tokoh pendidikan; tokoh ulama; pemuda (generasi penerus bangsa); dan stakholder pendidikan pusat atau daerah. 

Dalam arti lain, bila suatu daerah mampu mengembangkan pendidikan secara seksama maka perkembangan atau pertumbuhan ekonomi dan bidang yang lainnya pun akan mengikuti naik pesat. Dari kelima unsur tersebut, bila bergerak bersama yang didorong oleh pemimpin daerah/ pusat dengan tekad bulat dan memiliki persepsi yang sama, maka bumi pertiwi ini akan subur makmur dan sekaligus dapat mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Yakni pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. 

B. Nilai Karakter Bangsa
Sejalan dengan proses pertumbuhan kebudayaan nasional, tak dapat dihindari munculnya nilai-nilai baru sebagai akibat modernisasi dan globalisasi. Seperti materialisme, konsumerisme, hedonisme, dan lainnya. Gejala inilah yang perlu dihadapi dengan nilai-nilai karakter bangsa yang terutama berasal dari nasionalisme. Nasionalisme dalam bahasa Sartono Kartodirdjo (1993) merupakan bagian dari karakter atau kepribadian bangsa, yaitu nilai-nilai dan norma hidup yang memolakan perangai serta tingkah laku individu dalam kerangka kehidupan kolektifnya. 

Karakter bangsa terbangun atau tidak, sangat tergantung kepada bangsa itu sendiri. Bila bangsa tersebut memberikan perhatian yang cukup untuk membangun karakter, maka akan terciptalah bangsa yang berkarakter. Bila sekolah dapat memberikan pembangunan karakter kepada para muridnya, maka akan tercipta pula murid yang berkarakter. Demikian pula sebaliknya. Kita faham Tuhan tidak merubah keadaan suatu kaum bila mereka tidak berusaha melakukan perubahan itu. 

Menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X, setiap warga bangsa Indonesia terutama pemuda harus membangun kembali karakter bangsa menuju kemandirian. Tanpa karakter, bangsa Indonesia akan kehilangan semuanya. Dalam sejarahnya, Indonesia mencatat banyak tokoh yang menegakkan wajah bangsa ini karena semata-mata karakter yang dibangunnya. Sukarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan tokoh lainnya adalah orang-orang yang memberikan keteladanan bagi bangsa ini dengan karakter yang kuat. Dan oleh karena itu menginspirasi bangsa ini dalam perjuangannya.

Oleh karena itu, penting bagi bangsa Indonesia untuk mereaktivasi karakter bangsa, menginisiasi kembali karakter bangsa yang mampu memacu dan memobilisasi potensi domestik. Internaslisasi karakter itu membutuhkan inovasi dan sikap kompetitif. Langkah-langkah tersebut tentu harus dimulai oleh setiap warga bangsa sejak dini. 

Dalam konteks ini, menurut Tifatul Sembiring (2010), pembangunan karakter bangsa setidaknya diarahkan pada empat tataran besar, yaitu untuk menjaga jatidiri bangsa; untuk menjaga keuntuhan NKRI; untuk membentuk masyarakat yang berakhlak mulia; dan untuk membentuk bangsa yang maju, mandiri dan bermartabat. Lebih jauh, Sembiring mengungkapkan bahwa pembangunan karakter bangsa setidaknya harus mencakup empat tatanan, yaitu lingkup keluarga, pendidikan, masyarakat dan lingkup pemerintahan. 

Pada lingkup keluarga, wahana pembelajaran dan pembiasaan harus dilakukan oleh orang tua terhadap anak sebagai anggota keluarga. Pada lingkup pendidikan, wahana pendidikan dan pengembangan karakter yang dilakukan secara terintegrasi oleh para guru. Pada lingkup masyarakat, wahana pembinaan dan pengembangan karakter melalui keteladanan para tokoh masyarakat, dan pada lingkup pemerintahan, wahana pembangunan karakter bangsa melalui keteladanan aparat penyelenggara negara dan tokoh-tokoh elit bangsa.  
Akhirnya, bila keempat lingkup tersebut dapat berjalan sesuai fungsinya, maka secara bertahap kita akan dapat menemukan keberhasilan pembangunan karakter bangsa Indonesia.***









PROFIL PENULIS



Warmadi, S.Pd., M.Si., Kepala SMPN 1 Lelea, lahir di Indramayu, 12 Februari 1962, Menyelesaikan pendidikan dasarnya  di Sekolah Dasar (SD), Desa Tempel Kec. Lelea, Kab. Indramayu. Melanjutkan ke jenjang berikutnya ke SMP PGRI Cikedung, Kec. Cikedung Kab. Indramayu. Kemudian meneruskan ke SMA PGRI Indramayu Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Setelah lulus, penulis masih belum bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Penulis juga sempat bergaul dengan masyarakat luas dengan berbagai macam komunitas. Nah dari situlah penulis merasa punya tantangan untuk merubah sikap dan perilaku dari yang sebelumnya.
Hanya dengan bermodal semangat, penulis bisa sukses seperti sekarang ini. Karena penulis tidak seperti anak-anak lain pada umumnya. Kedua orang tua penulis sudah meninggal dunia, sejak umur kurang lebih tiga tahun. Lalu penulis dibesarkan dalam  hidup yang serba sederhana didampingi oleh tujuh orang kakak, yang sangat menyayangi penulis.
Dengan niat dan kemauan yang kuat, penulis mendaftar ke Perguruan Tinggi yaitu di Universitas Wiralodra (UNWIR) Indramayu, dan Alhamdulillah lulus S1 jurusan Bahasa Indonesia dan Sastra.
Dengan bekal pendidikan S1, penulis akhirnya mampu beradaptasi untuk berkiprah di dunia pendidikan. Berkompetisi dengan teman-teman yang lain tentunya berkompetisi secara sehat untuk mengangkat dunia pendidikan. Sampai akhirnya penulis diberi kepercayaan disamping guru juga tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah.
Ada kebanggaan tersendiri sebagai anak petani juga yatim piatu tapi mampu menyelesaikan pendidikan sampai dengan S2 dan menjadi Kepala Sekolah. Hal itulah yang penulis harap bisa sebagai motivasi kepada generasi muda, bahwa kesuksesan itu bukan karena harta semata tetapi karena berjuang keras dan punya tekad yang kuat.
Mudah-mudahan pembaca tidak puas atas karya penulis ini dan penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar tulisan ini lebih sempurna lagi, semoga pembaca sukses, Aamiin.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pendidikan Merupakan Harapan Bangsa"

Post a Comment