PENGALAMAN GURU DARING

Oleh: Édyar RM

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah mengaruniakan korona berikut aneka hikmah di baliknya dan mewariskan Alquran sebagai buku panduan jin dan manusia menuju jalan kebahagiaan. Semoga rahmat dan hidayah Allah selalu menaungi kita semua. Aamiin. Selawat beserta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan alam, pembawa risalah kebenaran dan kebahagiaan, sosok teladan dalam menjalani kehidupan, yaitu Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Covid-19 telah memaksa guru melakukan proses pembelajaran secara daring. Guru tertentu, terutama guru-guru milenial, sudah siap dengan classroom, Edmodo, KAIZALA, zoom, webex, dsb. Beberapa rekan guru, terutama yang sepuh, merasa kesulitan melaksanakan pembelajaran daring. Ada pula yang sampai pada simpulan: "Secanggih apapun teknologi, sosok dan kehadiran guru tetap tak bisa digantikan."

Benar. Kata kuncinya adalah kehadiran guru. Lalu, bagaimana dengan saya? Ikuti saja sepenggal kisah berikut.

Boleh dikatakan mungkin saya termasuk ke dalam kategori guru milenial. Saya pengampu mapel bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Ciawi, Bogor. Mengajar di kelas XI. Sudah saya siapkan beberapa skenario dan media pembelajaran. Saya pertimbangkan juga, classroom, Edmodo, zoom, KAIZALA, atau WA. Ini bukan masalah sederhana. Tentu saja akan mewarnai karakteristik dan metode pembelajaran nantinya. 

Ada lima kelas yang harus saya ampu. Setelah melihat dan memperhatikan dengan saksama, mempertimbangkan karakteristik siswa yang saya ampu, akhirnya pilihan jatuh pada WA. Mengapa? Pengguna WA adalah sejuta umat. Semua siswa ada WA di ponselnya, tak perlu sedia ruang memori untuk install aplikasi baru. Satu lagi yang pokok, Saya hafal tak sedikit siswa saya yang hanya punya kuota chatting saja. Tentunya, era Covid-19 membuat semua kita mesti pandai berhemat.

Sekolah telah menyusun jadwal pembelajaran. Kalau tak salah ingat, satu hari dua atau tiga pelajaran. Saya dapat jadwal Selasa. Saya gunakan Senin untuk membuat WAG. Lima WAG saya buat. Satu kelas satu grup agar mudah dikontrol. Alhamdulillah, semua siswa telah masuk di WAG-nya masing-masing.

Apa respon mereka pertama kali setelah masuk grup? Meracau semua: Banyak yang tanya ini grup apa? Buat tugas ya pak? Tugasnya apa? Jangan banyak-banyak ya pak tugasnya. Mapel lain juga banyak tugas pak. Malah ada yang posting screenshot dari twitter aduan siswa kepada KPAI berikut ini.

"Masalah lain adalah bapak ibu guru/dosen, tugas-tugasnya tolong dipertimbangkan jumlahnya. Jangan kebanyakan, karena belajar/kuliah di rumah, kasih tugas terus-terusan. Bukan drop karena virus, yang ada malah drop karena tugas."

Terbaca paniknya mereka. Sungguh kasihan. Pelajar kok gak doyan belajar. Ah, saya maklumi saja. Mungkin mereka masih keliru memaknai belajar dan tugas. Akhirnya saya jawab ceracau mereka dengan memposting file format pdf berjudul "40 Hadis Tentang Peristiwa Akhir Zaman". Saya beri komentar: "Tidak ada tugas untuk bahasa Indonesia..."

Hampir semua siswa bersorak hore. Ada juga beberapa siswa yang menaruh curiga. Malah ada pula yang tanya pak itu pdf diapain pak? Jadi tugasnya ngapain pak? Saya jawab, "Tidak ada tugas untuk bahasa Indonesia, malam ini." Gubrag. "Silakan kalian baca-baca saja pdf yang telah dikirim.

Ya, ada yang kecewa, ada yang senang, ada pula yang sewot dan mengancam. Berhamburanlah custom stiker macam-macam khasnya WA. Itulah asyiknya WA, menyediakan rupa-rupa stiker yang dapat mewakili ekspresi dan emosi penggunanya. Tapi saya hafal sewotnya mereka. Itu sewot sayang, sewot akrab. Aslinya mereka senang telah ngobrol curcol dengan gurunya di WAG. Malah, ada juga yang lanjut ngajak diskusi seputar Covid-19, ganja sebagai potensi obat korona, imunitas, libur panjang, dll. Yang jelas, malam itu saya merasa sudah berhasil membangun komunikasi awal dengan mereka, siswa-siswiku tercinta.

Untuk yang mengajak diskusi seputar korona di WAG, saya beri postingan tulisan dari Pak Yudi Latif berjudul "Hitam-Putih Korona". Bila ada yang sudah ngajak diskusi begini senang saya berlipat-lipat. Obrolan pun berlanjut. Bahan bacaan sengaja saya perbanyak karena modal literasi adalah membaca.

Saya merasa membangun keakraban itu bagian terpenting dalam pembelajaran. Maka saya selalu berusaha nyebur ke dalam dunia mereka. Bila sudah terasa akrab, kedekatan emosional dan rasa saling percaya akan terbangun. Selanjutnya, tinggal kita arahkan. Nantinya, apapun tugas yang kita berikan akan mereka kerjakan dengan senang hati. Jelas, itu adalah modal awal.

Esoknya, Selasa, 24 Maret 2020, saya berikan tugas ringan via WAG dengan redaksi berikut ini.

BÉWARA

Tulis di BUCAT (Buku Catatan) hal² penting terkait:
1. Pengertian Resensi
2. Jenis-jenis Resensi
3. Sistematika Resensi Buku Fiksi

Bila telah selesai, fotokan (no ngeblur) dan kirimkan ke wapri guru bahasa Indonesiamu.

Note:
Ditunggu paling lambat hari Kamis, 26 Maret 2020 pukul 23.59.
Tulisan diusahakan rapi dan estetis, minimal mudah dibaca.

Sebisa mungkin saya tata redaksinya agar komunikasi akrab tetap terasa. Alhamdulillah, per tanggal 26 Maret 2020, lebih dari 90 persen mengirimkan tugasnya. Sekian persen lainnya terkendala sinyal dan sekarat kuota. Ada satu dua orang yang memang masih malas. Untuk kasus terakhir ini saya coba pendekatan lewat jalur wapri.

Terbayang lima kelas yang saya asuh. Per kelas sekitar 30-36 siswa. Semuanya japri kirim tugas. Memang butuh waktu ekstra untuk memeriksa dan mengomentari satu per satu tugas mereka. Untungnya ponsel pintar saya masih kuat menampung memori.

Tahap awal, hanya beberapa siswa saja yang saya tengok tugasnya. Biasanya saya ambil sampel beberapa siswa kategori unggul dan beberapa siswa kategori lemah. Sisanya saya simpan dulu. Sekilas saja sudah terlihat tipe pekerjaan mereka mirip-mirip, bahkan cenderung sama. Ya iya lah, solidaritas mereka tidak bisa diragukan. Justru itu bagus. Yang penting mereka mencatat dan membacanya.

Saya ambil waktu malam Sabtu, 27 Maret 2020. Malam itu sekitar pukul 21.00, saya posting poin-poin penting terkait resensi versi saya untuk bahan pembanding bagi mereka. Saya susul dengan postingan berikut.

Silakan dibaca dengan saksama, cermati, bandingkan dengan catatan sendiri. Bila ada yang mengganjal atau mengusik rasa penasaran, silakan ajukan pertanyaan.

Tiga pertanyaan terbaik akan mendapatkan hadiah. Saya beri waktu 1x24 jam dari sekarang.

Daftar pertanyaan:
1. Apakah judul resensi sama dengan judul buku yang diresensi? - édyar (contoh)
2. 
3. 
4. 
5. 

Silakan lanjutkan.

Senang rasa hati, banyak pula yang merespon. Banyak pertanyaan bagus mereka tuliskan. Selang 30 menit di tiap WAG rata-rata sudah mencapai 7-10 pertanyaan. Kemudian, saya respon dengan posting kalimat berikut.

Kalau masih ada unek² boleh aja bikin pertanyaan lebih dari satu. Kalau merasa gatel péngén jawab beberapa pertanyaan teman di atas jg silakan aja.

Ada sedikit lucu. Di satu WAG, ada siswa yang komentar begini: "Bapak, ingat ini malam apa?"

Saya paham maksud siswa tersebut. Jadwal sekolah kami Senin-Jumat. Artinya, Sabtu-Minggu libur. Tapi, melihat teman-temannya yang lain asyik merespon, ia ikut juga menyumbang pertanyaan. Aya-aya waé.

Malam Minggunya, 28 Maret 2020, saya cek ke tiap WAG, telah lengkap rata-rata sekitar 10 pertanyaan dan jawaban terkait materi resensi. Saya coba lengkapi beberapa jawaban yang dirasa masih belum pas. Kumpulan pertanyaan dan jawaban tersebut bisa dijadikan sebagai pelengkap catatan untuk belajar mereka.

Sesuai dengan yang telah dijanjikan, saya harus mengumumkan tiga pertanyaan terbaik untuk diberi hadiah. Saya jawab janji itu sekitar pukul 23.00 lewat postingan berikut. (Ini hanya contoh dari salah satu WAG)

PENGUMUMAN

Terima kasih untuk semua yang telah ikut berpartisipasi.

Dari 17 pertanyaan, telah terpilih tiga pertanyaan terbaik, yaitu pertanyaan dari:
1. Natasya
2. Alnima
3. Karisma

Dan untuk penjawab pertanyaan, saya berikan penghargaan untuk:
1. Indah

Selamat. Sesuai dengan yang telah saya janjikan, kepada keempat nama di atas, saya berikan hadiah berupa doa tulus (beneran ini mah): Semoga mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Aamiin. Alfaatihah.

"Jangan berhenti bertanya, jangan menyerah mencari jawab."

Bagaimana respon mereka?
Mereka mengaminkan. Ada pula yang blak-blakan bilang terharu. Ah, saya rasakan bahwa hati mereka telah tersentuh. Saya balas komentar mereka, "Semoga keterbatasan tatap muka ini tidak mengurangi kekhidmatan pembelajaran kita. Tapi yang terasa, walaupun tidak bertatap muka, malah pembelajaran kita jadi tak terikat waktu."

Mereka pun balas merespon. Komentar ini dan itu. Ternyata mereka pun merasa asyik, belajar malam hari lebih terasa nikmat. Gak terasa jam segini kita masih asyik belajar, katanya. Biasanya jam segitu beberapa di antara mereka ada yang membunuh waktu dengan main game online, streaming YouTube, atau chatting-an dengan teman atau pacar. Atau mungkin hal lain yang kurang bermanfaat. Tapi malam itu, mereka chatting-an dengan gurunya. Masyaallah.

Terbayang, mungkin biasanya di rumah mereka belajar sendiri. Namun, malam itu mereka merasakan gurunya hadir mendampingi mereka. Akhirnya saya berkesimpulan, kehadiran guru tak bisa dibatasi jarak dan waktu. Intinya adalah keikhlasan guru dan penerimaan murid. Percuma saja guru dan siswa dikunci dalam satu ruang kelas bila kedua hal tersebut tak ada dalam kelas itu.

Obrolan dalam WAG tersebut berlanjut hingga pukul 00.15. Kami akhiri dengan tidur bersama di rumah masing-masing, membawa momen bahagia ke alam mimpinya masing-masing. Semoga siswa-siswiku semuanya berhasil memperjuangkan mimpinya masing-masing. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kami. Aamiin.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "PENGALAMAN GURU DARING"

  1. Mantap sekali pak😍😍😍👍👍 semangat terusss😊😊

    ReplyDelete