PERATURAN KONTROVERSIAL

oleh Hadi Sukamto

Usia muda dikenal dengan jiwa penuh semangat dan tenaga. Mereka masih memegang teguh idealisme dan keberanian, walau terkadang kurang memikirkan resiko yang akan mengikutinya. Inilah kisahku saat menjadi seorang guru di usia tigapuluhan.

Seperti biasa, pagi itu pukul 06.00, aku berangkat dari rumahku di Karangampel menuju tempatku mengajar di MTsN Wotbogor Singaraja Indramayu. Motor bututku selalu setia mengantarkanku selama lebih dari lima tahun. Walaupun namanya keren, Tornado, tapi gerakannya tidak secepat angin, sehingga aku sampai di sekolah sekira pukul 06.30.

“Assalamualaikum Pa!” Sapa anak-anak saat aku melewatinya di jalan kecil menuju sekolah. Ya, sekolah tempatku mengajar saat itu berjarak sekira 500 meter dari jalan besar dan tidak dilewati angkutan kota. Walaupun anak-anak berjalan membelakangiku, mereka rupanya sudah hafal dengan suara motor 2 tak ku yang memang agak bising. Merekapun sudah terbiasa terkena asap motor jika aku telah melewatinya.

“Waalaikumsalam!” Jawabku sambil melambaikan tangan. Entah berapa kali aku menjawab salam sambil melambaikan tangan, karena hampir sepanjang jalan kecil itu penuh dengan anak-anak sekolah. Aku senang dan bangga, ternyata anak-anak begitu sopan dan hormat kepada gurunya. Dari ujung jalan besar sampai sekolah, tidak ada satu anakpun yang tidak mengucap salam.

Sampai di dekat gerbang sekolah, kuhentikan motorku karena di sana sudah berdiri Kepala Sekolah yang sedang menyalami anak-anak yang baru datang. Kepala Sekolahku memang orang hebat, beliau menjadi panutan seluruh warga sekolah. Beliau selalu datang pertama di sekolah, walaupun rumahnya cukup jauh, di Karangampel sama seperti rumahku. Mungkin beliau tidak bisa mengendarai motor, karena belum pernah sekalipun kulihat beliau naik motor. Elf pagi yang sarat dengan penumpang karyawan Pertamina Balongan selalu menjadi langganannya menuju ke sekolah.

Kutuntun motor saat lewat di depan Kepala Sekolah sambil menundukkan kepala seraya memberi hormat sambil kuucap salam. Beliau membalas salamku dengan iringan senyumnya yang khas. Karena tempat parkir motor tidak jauh dari gerbang sekolah, maka akupun melanjutkan menuntun motor sampai tempat parkir. Aku tidak berani menyalakan motor di dekat Kepala Sekolah, selain suaranya membisingkan telinga, asapnya lumayan membuat nafas menjadi sesak. Beberapa anak yang berada di sekitar parkiran langsung menyerbu ke arahku sekedar menyalami tangan gurunya. Ku sambut tangan lembut mereka sambil tersenyum. Lagi-lagi terbersit rasa bangga dengan apa yang mereka lakukan. 

Setelah kusimpan tas di tempat dudukku, akupun bergegas menuju gerbang sekolah untuk menemani Kepala Sekolah menyalami siswa yang baru datang. Sebagai Pembina OSIS, aku merasa berkepentingan untuk memantau kedisiplinan siswa. Selama satu tahun ini, aku menjabat sebagai Pembina OSIS. Ternyata menjadi Pembina OSIS di sekolah ini tidak begitu berat, karena karakter anaknya yang masih religius. Mirip suasana pesantren yang masih sangat menghargai guru.
Karena kemiripannya dengan pesantren, ada sedikit aturan yang berbeda dalam hal berpakaian antara siswi MTs dengan siswi SMP. Siswi MTs bajunya dikeluarkan sehingga menutupi pantatnya, sedangkan siswi SMP bajunya dimasukkan seperti halnya siswa. Mungkin dikarenakan religiositasnya, sehingga ada beberapa anak laki-laki di sekolahku yang ingin bajunya dikeluarkan juga seperti halnya baju putri. Hal inilah yang sedikit menjadi kendala dalam tugasku mendisiplinkan siswa. Berkali-kali diperingatkan, masih saja ada siswa yang membandel mengeluarkan bajunya. Akhirnya, dipicu darah mudaku yang menginginkan kedisiplinan ditegakkan dengan kaffah, akupun membuat aturan sepihak dan tanpa diketahui Kepala Sekolah, yaitu : “Bagi siswa yang diketahui mengeluarkan bajunya saat jam sekolah, maka baju bagian bawahnya akan digunting.”

Konsekuensi dari peraturan itu, saat di sekolah aku selalu membawa gunting. Setiap melihat siswa yang bajunya dikeluarkan, langsung di eksekusi di tempat. Peraturan itu ternyata cukup efektif, karena hampir seluruh siswa memasukkan bajunya saat di sekolah. Tetapi dari tiga ratusan lebih siswa-siswi di sekolah, bisa dimaklumi jika ada beberapa yang masih melakukan pelanggaran. Karena menurut laporan beberapa anak, ternyata masih ada siswa yang mengeluarkan bajunya di sekolah tanpa sepengetahuan guru, terutama aku sebagai Pembina OSIS. 
Hari itu kebetulan mataku melihat seorang siswa dikajauhan sedang memasukkan bajunya sebelum sampai gerbang sekolah. Aku sangat hafal dengan anak itu, namanya Hasan. Seperti namanya yang berarti baik, menurut analisaku dia memang baik. Tetapi, menurut sebagian besar guru dan siswa-siswi lain, Hasan adalah troble maker, karena memang hampir setiap hari dia berulah di sekolah. Konon cerita teman-temannya, dia anak seorang preman kampung, jika di luar sekolah dia sudah terbiasa merokok bahkan mabuk-mabukan.

“Assalamualaikum, Pak!” Sapa Hasan saat sampai di hadapan Kepala Sekolah sambil mengulurkan tangan dan mencium tangan beliau.
“Waalaikumsalam” jawab Kepala Sekolah dengan mengusap kepala Hasan.
“Assalamualaikum, Pak Hadi!” Lanjut Hasan sambil mencium tanganku.
“Waalaikumsalam. Sebentar, Nak!” Jawabku sambil  kurangkul pundaknya dan ku ajak ke pos satpam yang berada di pojok gerbang sekolah. “Tadi Bapak lihat, kamu baru memasukkan baju ya?” Tanyaku dengan lembut.
“Iya, Pak. Kan belum sampai sekolah. Ga papa kan?” jawabnya dengan berani.
“Apa ga bisa kalau dari rumah bajunya dimasukkan?” tanyaku lagi masih dengan lembut sambil menepuk bahunya.
“Bisa, Pak. Tapi ga enak kalau bajunya dimasukkan tuh. Panas.” Jawabnya masih dengan santai.
“Ya sudah, pertahankan ya sampai pulang sekolah. Kan ganteng kalau bajunya dimasukkan. Sana ke kelas!” Kataku, lagi-lagi sambil menepuk bahunya.
“Iya, Pak. Terima kasih” jawabnya sambil menarik tangan kananku dan menciumnya sebelum meninggalkan pos satpam.

Bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Semua anak dengan sigap berlari menuju kelas masing-masing. Sambil menuju ruang guru untuk mengambil perlengkapan mengajar, kulihat mereka sudah berbaris rapi di depan kelasnya menunggu guru jam pertama datang. Tak berselang lama, guru-guru yang mengajar jam pertama pun keluar dari ruang guru seolah tak mau anak didiknya menunggu terlalu lama. Saat jam pelajaran dimulai, suasana sekolah terlihat sangat hidup. Suara guru mengajar kadang bersahutan dengan suara siswa berdiskusi, ditambah suara anak tertawa riang saat mengikuti pelajaran Olah Raga.

Tak terasa tiga jam pertama telah usai, tiba saatnya istirahat dari pembelajaran. Seperti biasa aku duduk di tempat guru piket yang berada di depan ruang guru, sambil kutatap satu persatu anak-anak yang sedang menikmati istirahatnya. Ada yang duduk sambil menikmati jajanannya, ada yang kejar-kejaran dan ada yang tetap di dalam kelas sambil bercengkrama.

Suatu ketika tatapanku terhenti pada sosok anak laki-laki yang bajunya dikeluarkan, ternyata Hasan. Tanpa pikir panjang kudekati dia yang sedang asik mengganggu teman perempuannya.
“San!” Sapaku saat sampai di belakangnya.
“Eh, Pak Hadi” jawabnya saat menoleh ke belakang dan menatapku. Dengan sigap dia memasukkan bajunya, karena dia paham maksud kedatanganku. Tanpa menghiraukan apa yang dilakukannya, aku tetap menarik baju bagian bawahnya dan langsung mengguntingnya. Di luar dugaan, ternyata Hasan mendorong badan dan siap memukulku dengan tinjunya. Untungnya beberapa siswa yang berada di dekat kami langsung menahan badan Hasan. 
“Awas kau. Pulang sekolah saya tunggu!” ancamnya sambal meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan teman-temannya. Setelah lepas, dia langsung lari meninggalkan sekolah. Aku yang melihat kejadian itu masih diam terpana, tak menyangka akan apa yang kusaksikan secara langsung.
“Maafin Hasan, Pak. Dia ga sadar apa yang telah dilakukannya.” Kata Tobiin, sahabat Hasan.
“Ga sadar? Maksud kamu?” Tanyaku dengan heran sambil kutepuk pundaknya.
“Iya, Pak. Memangnya Bapak ngga mencium bau mulutnya? Dia mabuk, Pak.” Jelas Tobiin lagi.
“Asytaghfirullohaladziim…” ucapku yang memang kaget mendengar penjelasan Tobiin. 
Kejadian yang baru saja kualami, kuceritakan kepada Pak Amir. Beliau guru honor di sekolah, juga sesepuh desa Singaraja. Beliau sangat mengenal karakter orang tua Hasan, sehingga menyarankan kepadaku untuk berhati-hati. Aku sedikit tidak percaya dengan sarannya, karena yang kutahu Hasan anak penurut walau kata guru lain dia biang masalah.
Saat pulang sekolah, Tobiin menghampiriku. Dia menyarankan supaya aku pulang lewat jalan kecil, karena Hasan dan teman-teman nongkrongnya sedang menuggu aku di jalan. Anehnya, saran dari Pak Amir dan Tobiin tidak membuatku takut. Aku tetap menjalankan motor bututku melewati jalan biasa, apalagi saat pulang sekolah tentunya banyak anak-anak dan guru pikirku. Walaupun begitu, aku tetap waspada. Pandanganku fokus jauh ke depan memperhatikan apakah perkataan Tobiin benar adanya. 
Baru berjalan sekira seratus meter, kulihat segerombolan anak muda berpakaian punk, diantaranya ada yang membawa senjata tajam. Sebelum kulanjutkan perjalanan, Imah dan beberapa temanya menghadang laju motorku dan menyarankan berbelok arah ke jalan kecil. Dia mengatakan bahwa anak-anak punk itu sedang menghadangku. Akupun mengikuti saran Imah, kubelokkan arah motorku ke jalan kecil. Bukan karena takut, tetapi sekedar menghindari keributan. Sesampai di rumah, aku tetap memikirkan kejadian itu. Tak habis pikir, Hasan yang menurutku anak baik bisa berbuat seperti itu.
Keesokan harinya, saat aku baru sampai di sekolah, aku langsung disuruh menghadap Kepala Sekolah. Di ruang Kepala Sekolah sudah ada Pak Kuwu Singaraja, Pak Amir dan seorang lelaki bertato. Melihat kedatanganku, lelaki bertato mencoba berdiri tetapi dihalangi oleh Pak Kuwu dengan menahan pundaknya. Akupun duduk di sebelah Pak Amir dan berhadapan dengan Pak Kuwu. 
“Ini yang namanya Pak Hadi?” Tanya lelaki bertato kepada Pak Amir yang dijawab hanya dengan anggukan kepala. “Bapak tau? Saya tukang beca, Pak. Buat beli buku saja susah, ini Bapak malah menggunting baju anak saya.” Lanjutnya dengan nada suara yang cukup keras. Aku hanya diam, dalam hati aku akan menjawab “karena anak Bapak melanggar aturan”. Tapi kuurungkan jawaban itu, karena aturan tersebut hanya sepihak. Kepala Sekolah sendiri tidak mengetahui peraturan itu. Akupun hanya bisa meminta maaf dan menyatakan bersalah. 

Singkat cerita, aku mengganti baju Hasan dengan baju yang baru. Sangsi tentang baju yang dikeluarkanpun tidak diberlakukan lagi. Di suatu kesempatan aku menanyakan kejadian pengguntingan baju kepada Hasan. Dia hanya menjawab “Iya tah, Pa? Ko saya lupa ya.” Saat itu aku percaya kalau si Hasan memang dalam keadaan tidak sadar. Sekarang aku baru tahu kalau saat itu dia berbohong, karena di suatu acara reuni angkatannya aku bertemu dengan Hasan. Kutanyakan kejadian itu yang memang tidak pernah aku lupakan. Dia tertawa dan meminta maaf. “Itu jaman jahiliyah, Pak.” Maafkan saya.” Akupun tertawa sambil menepuk bahunya.

Ternyata dugaanku tidak meleset. Hasan memang anak baik, hanya saat itu jiwanya masih labil, masih mencari jati diri, ditambah lagi lingkungan tempat tinggalnya memang tidak baik untuk perkembangan anak. Sejak kejadian itupun, aku tidak berani lagi membuat aturan sepihak, apalagi tidak diketahui Kepala Sekolah. 



TENTANG PENULIS


Namaku Hadi Sukamto, biasa dipanggil Pak Hadi. Aku guru IPA di SMPN 4 Sindang. Menjadi guru adalah panggilan jiwaku. Aku menjadi guru sejak tahun 1995. Pengalaman mengajarku dimulai di SMP Nusa Bhakti di Semarang saat masih kuliah. Setelah lulus kuliah tahun 1996, aku sempat mengajar di SMA Kartika dan SMP Islam Al-Azhar di kota Cirebon. Tahun 1997 aku diangkat menjadi PNS di MTsN Wotbogor yang sekarang bernama MTsN 2 Indramayu sambil mengajar juga di SMA Muhammadiyah Karangampel. Di Karangampel inilah aku menemukan jodohku. Dan pada tahun 2009 aku mutasi ke SMPN 4 Sindang sampai saat ini.
Pengalaman menulisku dimulai dari tahun 2017 dengan mengikuti penerbitan buku antologi yang berjudul “Jangan Pernah Berhenti Mengajar.” Tak puas dengan buku antologi, di akhir tahun aku menerbitkan buku tunggal yang berjudul “Anak Tangguh.” Di tahun 2018 kuikuti lagi tantangan menulis antologi dengan judul “Jangan Pernah Berhenti Mengajar 2.” Dan di pertengahan tahun 2018 aku menerbitkan buku tunggal keduaku yang diberi judul “Indigo”. Di akhir tahun, aku mengikuti tantangan menulis antologi cerpen dengan judul “Ayah Bunda.” Di awal tahu 2019 aku membuat antologi cerpen bersama anak muridku di SMPN 4 Sindang yang kuberi judul “Sahabat”. Dan di akhir tahunnya masih kumpulan cerpen bersama siswa dengan judul “Para Pejuang.” Di awal tahun 2020 kuterbitkan buku tunggalku yang ketiga dengan judul “Celoteh Sang Guru”.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PERATURAN KONTROVERSIAL"

Post a Comment