SAUDARA

Hikmah

oleh Èsèp Muhammad Zaini*

Kita sering mengucapkan dan mendengar kata 'saudara'. Baik untuk menyapa secara langsung atau melalui tulisan. "Saudara-saudara, kita adalah bersaudara," demikian ungkap pejabat, kiai, ustad, dll. Yth. Saudara ..., demikian tertera di amplop/sampul surat undangan.

Jadi, pada dasarnya di dunia ini kita bersaudara. Tidak ada lawan. Tidak ada musuh. Tetapi, mengapa tawuran, perselisihan, perdebatan, bahkan peperangan terjadi dan terus berlangsung sepanjang zaman?

Di antara kita masih saja saling menegasikan. Saling curiga. Saling tak percaya. Cuma karena berbeda bendera, suku, keyakinan, bahkan berbeda pendapat mendrama menjadi sebuah perseteruan dan pertengkaran.

Ternyata, kita baru pandai berbicara, berkhotbah dan berpidato mengajak orang lain untuk bersatu padu dalam ikatan persaudaraan. Dalam tataran praktis masih saja ada perpecahan. Sekalipun dengan saudara sekandung. Bahkan, bisa saling bunuh. Itu tingkat kekejaman tertinggi. Bisa mengalahkan kerakusan sang raja hutan.

Sebab saya bukan seorang ustaz, saya tidak akan mengkaji tentang 'saudara' dari segi agama. Itu bagian Ustaz Cecep Nawarul Mutakin, Pemimpin Ponpes Miftahul Ulum. Saya akan mengkaji -- wah gaya-- dari segi etimologi dan istilah dalam bahasa. 

Kata 'saudara' berasal dari dua kata, yaitu 'satu' dan 'udara'. Terjadi proses penggabungan menjadi 'saudara'. Merujuk pada asal mula kata 'saudara' tersebut menunjukkan, bahwa semua yang ada di muka bumi ini adalah saudara. Baik benda hidup maupun tak hidup membutuhkan udara.

Ditelisik dari segi istilah munculah beberapa bagian. Ada saudara kandung, saudara sepupu, saudara seperjuangan, saudara seiman, saudara sebangsa dan setanah air, saudara seinsan, dan saudara semakhluk.

Dari deskripsi di atas, sesungguhnya kita tidak mempunyai celah atau alasan untuk saling bermusuhan, bertengkar, bahkan berperang dengan siapa pun.

Oleh karena itu, kalau masih ada orang yang mengaku beriman kepada Sang Khalik, tetapi masih 'doyan' menyebar fitnah, mengumpat, memusuhi dan memecah belah sesamanya, apakah layak disebut manusia beriman? Sehebat apa pun ibadah ritualnya, saya yakin Allah SWT tak meridai dia menikmati singgasana surga.

#jelang lailatul qadar

*Penulis adalah Pemimpin Pondok Pesantren Kamilah Almunawar, Warungkondang-Cianjur.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SAUDARA"

Post a Comment