TELEVISI DAN PUASA RAMADHAN

Oleh Imam Nur Suharno
Penulis Buku Kultum Ramadhan, dan Kepala HRD-Personalia Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Nilai ibadah puasa bisa hilang ketika seseorang tidak dapat mempuasakan semua anggota badannya. Jauh-jauh hari Nabi SAW telah mensinyalir, banyak orang berpuasa, namun hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga. Hal ini terjadi ketika seseorang tidak dapat mengendalikan anggota badannya dari hal yang menghanguskan pahala puasa.

Tujuan disyariatkan ibadah puasa adalah, agar orang yang berpuasa dapat mengendalikan nafsunya, sehingga mampu meraih derajat takwa. Setan masuk (mempengaruhi) manusia melalui peredaran darah. Dan, aliran darah dapat dipersempit geraknya dengan berpuasa. 

Pada intinya, takwa merupakan kondisi seorang hamba membuat dinding pembatas antara dirinya dengan kemurkaan Allah dan siksaan neraka-Nya. Nabi SAW bersabda, “Puasa adalah junnah (perisai), dan menjadi salah satu benteng orang mukmin.” (H.R. Thabrani). Dalam hadis lain, “Puasa adalah perisai yang menyelamatkan dari neraka sebagaimana perisai salah seorang di antara kamu dari peperangan.” (H.R. Ahmad dan Nasai).
Konsekuensi dari takwa itu menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa larangan-Nya dengan penuh keikhlasan hanya karena Allah semata.

Ramadhan dengan segala keutamaan dan kemuliaannya merupakan salah satu nikmat besar yang diberikan kepada umat Islam yang semestinya disyukuri lewat berbagai amal ibadah dan segala ketaatan kepada-Nya.
Menghabiskan waktu dengan banyak menonton hal-hal yang tidak bermanfaat meskipun dibolehkan, tentu bertentangan dengan maksud berpuasa dan Ramadhan itu sendiri. Karenanya, acara yang ditayangkan dalam televisi hendaknya dapat membantu orang yang berpuasa dalam menjalankan ibadah. Bukan malah turut menggerus nilai pahala puasa.

 Apalagi dalam tayangan televisi banyak ditampilkan hal-hal yang diharamkan. Misalnya, wanita berpakaian minim, perkataan keji, bahkan terkadang diselipkan budaya dan pemikiran yang bertujuan menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai Islam.

Hal semacam itu lebih dilarang, karena puasa bukan sekadar meninggalkan makan dan minum, serta berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan. Hakikat puasa itu memuasakan seluruh anggota badan dari hal-hal yang diharamkan.

Menonton hal yang diharamkan, memang tidak membatalkan ibadah puasa, dalam artian seseorang tidak diminta untuk menggantinya di hari lain. Namun, hal itu dapat mengurangi nilai kesempurnaan pahala ibadah puasa. 

“Betapa banyak orang yang berpuasa bagian yang ia dapatkan hanyalah lapar dan dahaga. Dan, betapa banyak orang melakukan qiyamul lail, namun bagian yang ia dapat hanyalah begadang malam.” (H.R. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah).
Dalam hadis lain, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan melakukan itu, Allah tidak punya kepentingan dari dia untuk meninggalkan makan dan minumnya.” (H.R. Bukhari).

Jangan sampai Ramadhan berlalu dan kita tidak mendapatkan ampunan yang dijanjikan. Jika demikian, itu merupakan kerugian yang besar. Seperti ditegaskan Nabi SAW, “Barangsiapa menjumpai Ramadhan, namun dosa-dosanya tidak diampuni, pasti Allah menenggelamkannya ke neraka.” (H.R. Muslim).

Semoga Allah membimbing kita kaum Muslimin agar dapat mengendalikan dari melihat hal yang dapat merusak pahala ibadah puasa. Amin.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TELEVISI DAN PUASA RAMADHAN"

Post a Comment