WASSALAM, YA RAMADAN!

Hikmah 
oleh Èsèp Muhammad Zaini*

Pada akhir Ramadan, acap kali kita dengar orang-orang mengatakan: semoga kita jumpa lagi dengan Ramadan tahun depan. Seakan-akan Ramadan itu sama. Padahal yang sama hanya nama. Jiwanya tak pernah sama. Dengan Ramadan saat ini, kita tidak akan bertemu lagi. Kecuali, nanti ketika kita sudah di akhirat. Semua amal ibadah kita pada setiap Ramadan akan terungkap.

Sebulan kita bersama. Bertegur sapa. Bercengkrama. Namun, kadang kita lalai. Mestinya kita selalu mendekapnya dengan mesra sepanjang hari. Setiap saat. 

Tak ada bulan yang tanggal-tanggalnya selalu diingat, kecuali Ramadan. Tak ada bulan yang rakaat salatnya terbanyak, kecuali Ramadan. Yaitu, tarawih. Baik delapan maupun dua puluh rakaat plus tiga rakaat witir. Jauh lebih indah tinimbang senam aerobik yang diiringi musik. Tarawih bukan sekadar ibadah salat, tetapi wujud olah jiwa dan raga. 

Mengucapkan takbir sebanyak sebelas kali setiap dua rakaat. Kalau empat kali salam --untuk yang melakukan tarawih delapan rakaat--, kita telah mengucapkan empat puluh empat takbir. Kalau sepuluh salam --dua puluh rakaat--, berarti kita telah melafazkan seratus sepuluh takbir. Ditambah tujuh belas kali takbir pada tiga rakaat witir. 

Sungguh amat dahsyat. Jiwa kita bergetar setiap kali melafazkan takbir. Begitu dekat jiwa kita dengan Sang Pencipta. Ditambah doa-doa salat lainnya. Penyucian jiwa melalui tarawih yang hanya ada pada Ramadan. Sungguh merugi, apabila kita tak sungguh-sungguh memanfaatkan momentum Ramadan. Kita tak akan pernah bersua lagi dengan Ramadan saat ini. Hanya sekali seumur hidup.

Gerakan-gerakan salat tarawih begitu konstan. Seluruh sendi pada tubuh kita bergerak. Jiwa yang fokus mengikuti atau menghayati lafaz-lafaz takbir dan doa-doa dalam tarawih akan sangat berpengaruh dan berpaut erat dengan gerakan-gerakan raga. 

Gerakan setiap melafazkan takbir seiring dengan memperlancar pemompaan paru-paru, persendian dan peredaran darah ke sekujur raga. Detak jantung bergulir dengan normal merevarasi ribuan saraf. Empat puluh enam kali sujud mengalirkan sirkulasi oksigen dengan baik. Itulah tarawih, salat yang hanya dipersua pada Ramadan. Belum ditambah gerakan, posisi dan doa-doa pada saat melaksanakan salat Isya berikut salat sunat rawatib qabliah dan bakdiyah.

Bangun pada sepertiga malam, yaitu waktu sahur. Kita diberi waktu oleh Allah untuk bermunajat. Mengingat dan merenungi kebesaran dan kekuasaan Allah. Setiap rumah diramaikan oleh sanak keluarga yang mempersiapkan diri untuk menyantap makanan yang siang hari diharamkan. Makan pada waktu sahur sebuah kenikmatan yang tiada tara sekaligus diganjar pahala yang berlipat ganda. Pada sebelas bulan lainnya tidak akan ditemukan suasana itu. Meski ada di antara kita yang rajin berpuasa sunat. Tetapi, suasana kebersamaan itu yang tidak akan kita rasakan.

Menunggu waktu magrib menjadi sebuah momentum yang indah dan membahagiakan bagi yang berpuasa. Pada sebelas bulan lainnya, magrib belum tentu menjadi momen yang kita tunggu-tunggu. Bahkan, kita menginginkan siang selalu bersama.

Ramadan, bulan yang paling unik, kreatif dan atraktif. Hadiah-hadiah dan bonus-bonus pahala ibadah, semuanya berlipat ganda. Kenikmatan akan langsung terasa bagi yang melaksanakan puasa dan ibadah lainnya. Tidak perlu menunggu seusai mati. Sekalipun kita pandai menghitung, saya kira tak akan ada yang sanggup menghitung bonus-bonus yang Allah semaikan. Wassalamualaikum, ya Ramadan. Sampai jumpa di alam baqa.

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah Guneman, Ketua Yayasan Guneman Bandung, Ketua Yayasan KAGUM BOGOR RAYA, Ketua Yayasan Guneman Kamilah Almunawar Cianjur dan Komisaris Utama CV GUNEMAN Bandung.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "WASSALAM, YA RAMADAN!"

Post a Comment