HADIAH DARI LUNA


Oleh Yayah Kurniyah

Hari itu Luna tampak mondar-mandir gelisah, sambil sesekali bersuara parau. Melan bingung mengamati perilakunya. Apa sebenarnya yang ingin Luna sampaikan. Mulutnya menganga dengan lidah menjulur, sambil nafasnya terengah-engah. Selalu mengikuti orang yang ia jumpai. Sebentar-sebentar mendekat, lalu pergi beberapa  langkah, namun kembali mendekati kami. Sesekali pindah ke Sayyidil dengan tampang memelas, kemudian pergi beberapa langkah dan balik lagi. Kemudian ke Faqih. Semua bingung harus bagaimana. 

Dalam kegelisahan Luna semua saling berpandangan memaknai pesan lewat gerak-geriknya. Melan suruh Faqih mengikutinya, ternyata dia menuju ke tempat di bawah jemuran pakaian yang berada di dalam rumah dekat tempat cucian, langsung berbaring. Namun ketika Faqih  pergi dia bangun, dan mengikuti Faqih. Rupanya ia minta ditunggui. Minta ditemani.

"Ma, kayaknya mau lahiran, nih. Akunya takut," ujar Faqih dengan ekspresi gugup karena tidak tahu harus berbuat apa.

"Ada apa, ada apa? Luna mau lahiran?" kata Ali yang tiba-tiba muncul dari kamarnya.

"Kain, Ma, kain yang lembut. Gak perlu yang bagus-bagus. Cepet sini," ujar Ali sambil memasangkan kain yang memang sudah ada di situ ke keranjang plastik lebar bekas tempat buah anggur ketika tante Melan berkunjung beberapa waktu lalu, membawa anggur banyak sekali untuk dibagikan ke beberapa famili. Kain yang Melan dapat pun diberikannya juga untuk ditambahkan. Kemudian Ali mengangkat Luna ke tempat yang baru disiapkannya.

"Ayo berjuang, Luna. Berjuang, Pinter. Ayo, ayo, wah, itu bayinya sudah hampir keluar sempurna. Ayo, Luna terus berjuang." Tampak Luna sedikit berputar-putar, berusaha melepaskan bayi dari kelaminnya.  "Alhamdulillah ... udah lahir satu. Tapi masih miris melihatnya ...," ujar Ali dengan ekspresi nano-nano. "Luna hebat, Luna pinter. Semangat, ya, Luna," tambah Ali menyemangati Luna.

Tampak nafas Luna terengah-engah sambil berbaring. Hanya beberapa saat kemudian ia bangkit dari berbaring dan memakan plasenta bayinya. Kemudian tampak ia berdiri mengerahkan tenaganya kembali untuk mengeluarkan bayinya lagi.

"Alhamdulillah ... anak yang kedua lahir lagi ...." 

"Hore ... anak yang ketiga lahir lagi ..." 

Begitulah sampai bayi yang ketiga Luna melalui proses demi proses seperti ketika setelah melahirkan bayi yang pertama. Namun kali ini kondisi Luna makin letih. Sambil memandangi bayi-bayinya iya tergolek. Ekspresi mereka campuraduk. Terlebih Ali yang membidani langsung tahap demi tahap. Ada senang mendapatkan tiga bayi, ada kasihan menyaksikan Luna yang begitu lelah melewati perjuangan sabil. 

Melan, Iyas, dan Faqih satu persatu meninggalkan Ali bersama Luna, melanjutkan kegiatan masing-masing. Namun setelah beberapa menit tergolek rupanya Luna merasakan sesuatu kembali, hingga ia perlahan bangkit dan memakan plasenta bayinya yang ketiga. Luna kembali mengerahkan tenaganya, mengeluarkan bayi lagi. 

"Bayinya keluar satu lagi ..." kata Ali sedikit berteriak. Mereka kembali mendekat. Betul, bayinya bertambah satu lagi. Namun yang terakhir agak berbeda ukurannya. Lebih kecil dari lainnya. Selang dari bayi ketiga dan keempat ini pun agak lama, melebihi selang waktu sebelumnya. Kali ini Luna tampak benar-benar tak bertenaga. Mata Ali pun tampak pula berkaca-kaca, mengelus-elus kepala sampai ke punggungnya sambil terus berkata-kata, "kasihan Luna. Luna hebat. Luna hebat. Terimakasih, Luna, sudah berjuang memberikan bayi-bayi yang lucu.

Keluarga tersebut benar-benar baru kali ini memelihara betina. Biasanya kalau punya kucing selalu yang jantan. Sekalinya punya yang betina dapat yang sudah bunting. Baru dapat seminggu pas, e ...  melahirkan. Karena itulah mereka benar-benar tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan ketika Luna meminta perhatian menghadapi persalinannya.

Ali paling sibuk menyiapkan tempat untuk lahiran. Ia juga yang membidani proses Luna melahirkan. Menunggui dengan berdebar-debar. Tampak hendak menangis. Dia tidak tegaan, namun sebesar apapun rasa takut dan ngeri yang ia hadapi tidak mau meninggalkan sekejap pun. Karena ialah yang memaksa meminta dibelikan kucing seperti meminta jajan eskrim, hingga terbawa-bawa mimpi/mengigau di siang hari. Bercanda bersama kucing, "tolong...  tolong...," kemudian ia terjaga sambil senyum-senyum. Ia juga yang mengurus segalanya. Dari makan-minumnya sampai pup dan pi-nya. Maka tak heran ketika Luna melalui hal besar dalam hidupnya, Ali tidak meninggalkan momen itu.

Suasana rumah kembali berubah dengan suara keciap bayi-bayi mungil mencari induknya. Kini Luna sudah menjadi seekor induk dengan empat bayi-bayi mungilnya.



Indramayu, 21.06.2020
Memorial 12.06.17












Tentang Penulis

Yayah Kurniyah, lahir di Indramayu, 22 Juli 1968. Lulus S1 di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Unwir Indramayu tahun 1994.
Pernah menjadi Instruktur Nasional Implementasi Kurikulum 2013 tahun 2014.
Pernah menjadi mentor dalam kegiatan daring Guru Pembelajar 2016.
Tim Pendampingan Implementasi Kurikulum 2013 di tahun 2017.
Bendahara MGMP B Indonesia th. 2009 s.d. 2018

Sejak baru belajar mengajar sampai sekarang ia mengajar di SMPN 2 Indramayu.
karyanya tersebar di buku-buku antologi bersama guru-guru se-nusantara dalam Komunitas SGSI (Sahabat Guru Super Indonesia) berupa feathur dan artikel, seperti "Mencari Sekolah Terbaik, 1001 Cara Membuat Guru - Siswa Suka Baca, Menulis untuk Rasa," dan lain-lain.
Selain di SGSI tergabung juga dalam komunitas Kreasi Penggerak Literasi, dengan karyanya dalam Antologi Puisi dan Tanda Cinta untuk sang Pengikat Makna.
Antologi yang baru terbit, yaitu "Yuk, Meong Rame-rame," di komunitas menulis Media Guru.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "HADIAH DARI LUNA"