LEMBAYUNG CANTIK


(Karya: Lenny Nurlina Ratna Kancana, S.Pd)

Hari itu langit mendung, angin bertiup kencang, namun, di dalam ruangan, suhu udara begitu panas. Sepertinya hujan akan segera turun. Karena keterbatasan ruang belajar di sekolah kami yang hanya memiliki 3 ruang, namun ada 5 rombel, maka kami membagi jam belajar menjadi 2, yaitu kelas VII pagi, dari jam 07.00 sampai 12.00 dan kelas VIII siang, dari jam 12.30 sampai 17.30. sementara kelas IX belum ada.
Sekolah tempat aku mengajar adalah sekolah satu atap (Satap), namun, tidak seperti Satap pada umumnya yang bergabung dengan SD, Satap kami terpisah sendiri. Letaknya di ujung selatan Desa Tempel Kulon, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu. Sebelah selatan setelah Satap adalah persawahan, begitu pula sebelah timurnya. Sementara sebelah barat ada sepetak sawah, lalu gudang penggilingan padi, lapangan penjemuran gabah, dan jalan raya. Sekolah kami berbentuk huruf L menghadap ke jalan raya. Namun, untuk sampai ke Satap dari jalan raya, aku harus melewati pematang sawah di belakang gudang penggilingan padi.
Masih jelas dalam ingatanku saat pertama aku menginjakkan kaki di Satap ini, saat itu awal bulan Juli, pertengahan musim kemarau, persawahan tandus, tanah merekah, angin bertiup kering dan berdebu. Hatiku mencelos mengharap awal baru kehidupan setelah pernikahan yang bahagia, ternyata seperti terdampar di negeri antah berantah. Karena hampir seumur hidup kuhabiskan di kaki bukit, memandang sawah menghijau sepanjang tahun dan setelah dewasa kuhabiskan waktuku di Ibukota. Kini aku memulai hidup baru di tempat baru yang bahkan bahasanya pun tak kumengerti. 
Bermalam-malam aku menangis meminta supaya suamiku memperbolehkan aku kembali mengajar di ibu kota saja, tapi tak pernah ditanggapi. Dulu, akses kemana-mana dekat, tinggal naik angkot saja, sekarang tak bisa kemana-mana karena tidak ada angkot dan tidak bisa naik motor, kemana-mana harus naik ojek, ongkosnya mahal. Hampir tiap sore jalan-jalan ke mall, nonton film di bioskop, makan di restoran cepat saji, atau sekedar nongkrong-nongkrong dengan teman di taman kota. Sekarang, bahkan sinyal Hp pun sulit di dapat.
Belum lagi masalah honor. Duh, kalau ingat masalah itu, aku selalu ingin menangis. Mengajar dari pagi sampai sore, tapi gaji hanya cukup untuk membeli bensin saja. Kurang dari 5% gajiku sebelumnya. Sering aku ingin berhenti menjadi guru honor. Tapi kalau di rumah saja, mau kuhabiskan untuk apa waktuku. Mungkin inilah pengabdian yang sebenarnya. Tak dapat uang, tapi semoga mendapat pahala dari amal yang tiada akan habis.
KRIIIIIIIINGGGGGG....
Suara bel membuyarkan lamunanku. Kulihat jam menunjukkan pukul  13.50, artinya aku harus mulai mengajar lagi.  Kutarik nafas panjang dan kuhembuskan keras-keras. Penat sekali. Hari ini aku mengajar hampir sehari penuh. Pagi, aku mengajar kelas VII selama 4 jam pelajaran, dan siang ini aku mengajar kelas VIII, 4 jam pelajaran lagi, 2 jam di kelas VIII-C dan 2 jam yang terakhir di kelas VIII-A.
Ku Lihat Ibu Lilis, guru yang mengajar sebelum aku di kelas VIII-C masuk ke ruang guru diiringi murid-murid perempuan yang membawakan buku. Mereka menaruh buku tersebut di meja Bu Lilis, kemudian menghampiriku.
“Bu Ren, sekarang pelajaran ibu,” ucap Surilah, salah seorang murid perempuan itu.
“Ayo bu, saya bawakan bukunya ya,” timpal Syahida.
“Iya, ayo,” sahutku sambil meregangkan tanganku.
“Ibu ngantuk ya?” tanya Syahida.
“Haha..” aku tertawa mengiyakan. Kemudian bangkit dari kursi dan segera melangkah menuju ruang kelas VIII-C. “Hmmm.. cuaca mendung berangin tapi udara di dalam ruangan panas, aha.. aku punya ide.” Ucapku dalam hati.
Di koridor, aku berpapasan dengan Bu Samroh dan Pak Wawan, teman-teman sejawat yang baru selesai mengajar di jam kedua dan akan berganti kelas, dan tentu saja, mereka juga diiringi murid-murid lain yang seperti biasa, tak ada disiplin, bila pergantian guru, selalu saja berhamburan ke luar kelas. 
“HEI..!!  Ibu Reni, Ibu Reni..!!” Teriak Sutono, sang ketua kelas mengabarkan kedatanganku pada teman-temannya yang sedang ribut. Ada yang berlarian, ada yang sedang mengobrol, ada yang bertengkar, ada yang menulis, bahkan ada yang tidur di lantai.
“Sedang apa kalian?” tanyaku pada beberapa murid yang sedang merebahkan diri di lantai.
“Enakan bu, adem”1 jawab Trisno menggunakan bahasa Indramayu.
“Pakai Bahasa Indonesia dong!” ucapku.
“Angel ningan bu“2 jawab Ino.
“Angel3 apanya? Dibiasakan dong!” ucapku.
“Iya, engko belajaran”4  jawab Jejen. Namun, seperti yang sudah diketahui secara pasti, murid-muridku ini pasti masih akan menggunakan Bahasa Indramayu karena bila mereka berbicara menggunakan Bahasa Indonesia, teman-temannya pasti akan mentertawakan dan mengolok-olok. 
“Kalian kepanasan?” tanyaku.
“Banget bu..” jawab murid lain bersahutan. Ada yang sambil mengipasi wajah dengan buku dan ada yang mengibas-ngibaskan kerah.
“Belajar di luar yuk!” ajakku.
“Hayu!”5 ucap Trisno seketika loncat berdiri diikuti yang lain-lain.
“Ayo bu.. ayo bu..!!” sahut murid-murid lain bersemangat.
“Tapi kalian sudah siap membacakan berita kan?”
“Siap dong bu!” Sahut Rian.
“Ya udah, yuk!” ajakku, “Jangan lupa teks beritanya dibawa.”
“Wis apal ningan Bu,”6 ucap murid-murid lain sambil berhamburan ke luar kelas.
“Bu, ning sor asem ya!”7 ucap Fatimah meminta persetujuanku supaya belajar di bawah pohon asem, tempat favorit semua warga sekolah.
“Iyaaa.” Jawabku. Aku pun berjalan mengikuti murid-murid yang berlarian dari ujung utara sekolah, karena kelas VIII-C berada  ujung, ke ujung selatan sekolah, karena pohon asem terletak di ujung selatan sekolah, setelah lapang voli berbatasan dengan sawah. Sekolah kami tidak memiliki pagar, tapi langsung berbatasan dengan persawahan.
Pohon asem ini besar dan tinggi sekali. Daunnya sangat rimbun dan buahnya banyak. Seringkali kami membuat rujak buah asem. Meski memakannya sambil miris-miris, tapi hampir tiap hari kami memakan rujak asem.
“Bu Ren mau kemana?” Tanya Bu Lilis, melongok dari kelas VIII-A.
“Ke pohon asem.” Jawabku.
“Ngadem8 ya?”
“Haha.. habis bosen di kelas aja,” jawabku sambil menghampiri murid-muridku.
Di bawah pohon asem, Sutono sudah menyediakan kursi untukku, sementara murid-muridku duduk di rerumputan. Tentu saja kulihat beberapa masih bercanda bergulat sambil berguling-guling. Untunglah sekarang sudah beberapa bulan melewati musim tandur, sehingga sepanjang mata memandang, warna hijau terbentang.
“Kalian ga bawa kursi?” tanyaku.
“Enggak ah bu, enak dodok ning sor bae9.” Jawab Nita, diiyakan murid-murid lain.
“Nanti roknya kotor lho” ucapku.
“Beli ningan bu, ana suket e,”10 timpal Rusmini dengan bahasa Indramayunya. 
“Oo, ya udah,” ucapku. “Udah dong, jangan bercanda aja. Jejen, Cecep, Firman, Jumanto, sudah, sudah. Ayo duduk yang bener.” 
Aku pun mulai membuka pelajaranku hari itu dengan salam, presensi, lalu apersepsi mengenai teks berita yang telah mereka hafalkan di rumah, kemudian praktik membawakan berita satu persatu berdiri di pusat lingkaran. 
Setiap satu orang berdiri membacakan berita, semua murid riuh saling mentertawakan, saling menyoraki, dan saling bertepuk tangan, membuat murid yang berdiri gemetar grogi, hafalan hilang, dan keringan dingin menetes. Lalu setelah itu, aku akan menanyakan beberapa pertanyaan dengan rumus 5W + 1H berkaitan dengan berita yang dibawakan murid tersebut. Mereka cepat-cepat mengangkat tangan berebut ingin menjawab pertanyaan. Cara ini cukup jitu untuk membuat semua murid yang tidak sedang membaca berita, menyimak dengan sepenuh hati, karena setiap jawaban berhadiah 1 poin yang nanti akan ditambahkan pada nilai yang kurang. Selain itu, pembelajaran pun terasa menyenangkan, kami tertawa tak henti-henti. Hal inilah satu-satunya pengobat kekecewaanku pada tempat ini.
“Sudin,” tunjuk Syahida, setelah ia membacakan berita dan aku memberikan pertanyaan yang disambut riuh sorak teman-temannya. Ini trikku yang lain menyuruh murid yang sudah menyelesaikan tugasnya untuk menunjuk murid lain menurut keinginan mereka sendiri. Sehingga setiap orang akan selalu siap maju ke depan.
“Sudin!” Ulangku sambil mengedarkan pandang mencari sosok kecil yang sangat pendiam di kelas.
“Sudin Sudin!” teriak murid lain bersahutan.
“Din, Sudin..”
“Sudin.. Sudin..”
“Langka11 bu,” ucap Niko.
“Tadi ada kan?” tanyaku.
“Iya bu ana12” jawab murid-murid serempak.
“Kemana ya? Firman, coba tolong lihat di kamar kecil,” perintahku.
“Iya bu,” jawab Firman sambil berlari menuju ke kamar kecil.
“Sutono, tolong lihat di kelas. Arif, tolong lihat di warung.” Perintahku. Yang disuruh segera berlari. Aku selalu sebal dengan murid-murid yang suka membolos. Tapi Sudin itu murid paling pendiam sesekolah. Tak mungkin bolos.
“Di wc ga ada bu,” lapor Firman.
“Di kelas gah langka13 bu,” lapor Sutono.
“Di warung juga ga ada bu,” susul Arif.
“Aduh kemana ya?” Ucapku, “Tasnya ada tidak?” 
“Ana bu,” seru Arif.
“Cari yuk!” usulku pada yang lain. Suasana langsung riuh. Karena kami yakin, tadi waktu presensi Sudin itu ada. Tiba-tiba menghilang. Sekolah kami tanpa pagar, jarak pandang luas, tak mungkin dia berani bolos, karena pasti akan kelihatan.
“Sudin..! Sudin..!” semua pun riuh berteriak sambil mencari ke setiap sudut sekolah. Sekolah kami sangat kecil. Di sebelah timur menghadap ke barat ada 4 ruang, yang terdiri 1 ruang guru, merangkap ruang Kepala Sekolah, dan merangkap ruang TU di sebelah utara, pas disebelah lapangan voli tempat aku mengajar hari ini di bawah pohon asem, berjejer ke arah utara  3 ruang kelas, lalu di ujung ada kamar kecil. Di depan kamar kecil menghadap Selatan ada 1 ruang serbaguna yang biasa kami gunakan sebagai mushola sekaligus tempat rapat orang tua murid dan pihak sekolah. Murid-murid mencari sampai ke gudang penggilingan beras dan sekali lagi memeriksa lebih teliti ke kamar kecil dan ruang kelas.
“Sudin..! Sudin..!” makin lama kami menjadi panik. Karena betul-betul mengherankan, Sudin hilang. Saya yakin 100%, Sudin tak mungkin berani bolos. Karena dia terlalu pendiam, terlalu penakut. Dia tidak nakal, tapi juga tidak terlalu pintar. Dia tak pernah berkomentar, tak pernah berbuat gaduh, tak pernah menjahili temannya, bahkan hampir-hampir ia tak pernah beranjak dari kursinya. Kecuali untuk pulang saat dipersilahkan. Dia hampir tak terlihat di kelas. Lalu, dimana Sudin berada?
“Ada apa bu?” Tanya Pak Wawan melongok dari ruang guru.
“Sudin hilang..” ucapku.
Ibu Lilis dan Ibu Samroh yang sedang mengajar juga ikut melongok, diikuti murid-murid lainnya dari dalam kelas VIII-A dan VIII-B.
“Sudin hilang?” tanya bu Samroh tak percaya.
“Gak mungkin buu, Sudin kan pendiam,” Timpal Bu Lilis.
“Makanya aneh,” jawabku, “Saya yakin, dia gak akan berani bolos.”
“Iya betul. Kemana ya?” ucap Bu Lilis, “Hei.. ayo-ayo masuk lagi,” teriaknya pada murid kelas VIII-A 
“Pengen deleng14 bu..” ucap Esa. Diiyakan murid-murid yang lain. Suasana pun menjadi kacau tak terkendali. Tak terbendung, murid-murid lain ke luar kelas sambil berteriak-teriak, ikut mencari Sudin.
“Masuk ke kelas ibu nggak?” tanyaku pada Bu Lilis.
“Enggak lah.”Jawab Bu Lilis.
“Di kelas saya juga nggak ada,” Timpal bu Samroh.
Aku mulai berfikir, “Jangan-jangan Sudin pulang. Pasti karena dia tidak hafal teks beritanya.”
“Ibu.. Ibu.. hahaha..” panggil beberapa anak sambil tertawa di bawah pohon asem.
“Apa..?” tanyaku keheranan.
Murid yang lainnya berlarian ke bawah pohon asem dan segera tertawa terpingkal-pingkal. Aku yang bertanya-tanya segera berlari menuju pohon asem. Seketika, tawaku pun meledak, ternyata Sudin sedang bertengger di dahan pohon asem. Karena rimbunan daunnya, Sudin yang kecil betul-betul tersembunyi. Dia menunjukkan wajah polos seakan tidak berdosa sudah membuat kami mencarinya kemana-mana. Betul-betul tak ada yang menyangka. Karena tak ada yang melihat dia menaiki pohon tersebut.
Tawa kami tak segera berhenti karena setiap kami hendak berhenti tertawa, selalu ada orang baru yang datang dan tertawa, sehingga kami tertawa kembali, apalagi melihat Firman, Arif, Sutono dan beberapa murid lainnya yang tertawa sampai terguling-guling di rumput, membuat tawaku tak bisa berhenti. Guru lain segera menghampiri dan ikut tertawa, tawa kami pun tak reda-reda. 
“Sudin, tiwas kita lunga glati-glati sira sampe mana-mana, sira ning kene, nyusahaken kita14” protes Firman diiyakan Arif dan yang lainnya sambil tertawa membuat tawaku pecah kembali. 
“Sira arep jadi ketek tah Din,”15ucap Pak Wawan disambut tawa semua yang semakin menjadi.
Aku tak bisa berhenti tertawa mendengar omelan murid-muridku yang kesal, celetukan pak Wawan, dan senda gurau yang lainnya. Air mataku sampai bercucuran. Perut sampai sakit. Tawa yang begitu lepas, seakan tak ada beban apapun di dunia. Seakan aku tak pernah menangis selama bermalam-malam menolak takdirku harus mengajar di Sekolah satu atap ini. Seakan aku lupa bagaimana gersangnya tempat ini. Seakan aku betul-betul lupa bahwa sesaat yang lalu aku tidak suka pada murid-muridku yang kampungan ini. 
Kulihat Sudin perlahan turun dari pohon sambil dilempari dedaunan oleh teman-temannya. Ketika kakinya menyentuh tanah, dia digulingkan, dihimpit, dan digelitiki ramai-ramai. Kulihat ia tertawa. Murid yang hampir dua tahun ini sangat pendiam, yang tak pernah kulihat sekalipun dia tersenyum, hari ini tertawa bersama hampir seluruh warga sekolah. Ternyata bahagia itu sangat sederhana. Bahagia itu sangat-sangat murah. 
Aku mulai menangis bukan karena tawa lagi, tapi karena haru, karena bahagia. Ternyata di tempat yang terpencil ini aku bisa menemukan tawa yang murni. Terasa tak ada beban sama sekali. Yang ada hanya perasaan senang. Belum pernah di tempatku mengajar yang sebelumnya aku tertawa begini, melihat anak-anak sebagai anak-anak. Tidak terbebani tugas, tidak sibuk sendiri dengan smartphone dan laptopnya. Tertawa hanya karena hal sepele.
Tawa yang membuka hal baru dalam hatiku, ternyata aku bahagia hidup di sini, menjadi bagian dari warga sekolah ini. Aku tak lagi menyesal. Mungkin aku tak mendapatkan nominal yang layak sebagai guru. Tapi aku mendapat bahagia yang mungkin tidak didapatkan guru lain.
Aku pun mulai menangis tersedu-sedu. Aku menemukan secercah kebahagiaan di sini dan rasanya, aku tak ingin meninggalkan sekolah ini. Seperti langit yang tak jadi hujan tapi berwarna jingga cerah di sore ini, seperti itulah hatiku saat ini, tersinari sedikit cahaya matahari, meski sedikit, namun hasilnya yang paling indah. Lembayung yang cantik.
Aku ikut terduduk di rerumputan, tak lagi merasa jijik pada lumpur sawah. Kudengar semua orang masih tertawa. kulihat murid-murid memparodikan kelakuan masing-masing saat mencari Sudin. Lalu kutatap semburat lembayung jingga di langit barat. “Terima Kasih.” Bisikku. 

Footnote:
“Enakan bu, adem”1: “Enak bu, dingin.”
“Angel ningan bu“2 : “Susah bu.”
Angel3: Susah 
engko belajaran”4: Nanti saya akan belajar
Hayu!”5: ayo
“Wis apal ningan Bu,”6: “Sudah hafal bu.”
ning sor asem ya!”7 :  di bawah pohon asem
Ngadem8 : berteduh
dodok ning sor bae9: Duduk di bawah
“Beli ningan bu, ana suket e,”10 : “Tidak bu,ada rumputnya.”
Langka11: Tidak ada
ana12: Ada
gah langka13: Tidak ada
tiwas kita lunga glati-glati sira sampe mana-mana, sira ning kene, nyusahaken kita14” : Saya sudah berlari mencari-cari kamu sampai kemana-mana, kamu ternyata ada disini. Menyusahkan saya saja.
“Sira arep jadi ketek tah Din,”15: “Kamu mau jadi monyet, Din,”


Tentang Penulis


Lenny Nurlina RK, S.Pd.
Lahir: Bandung, 10 Maret 1983 ... Ibu dari Pelangi dan Lembayung, mengabdi menjadi guru SMP (GTT) sejak tahun 2005 sampai sekarang. Menempuh pendidikan dari SD sampai SMA di Bandung. Terakhir menyelesaikan S1 di Universitas Pendidikan Indonesia, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia angkatan 2001.




Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "LEMBAYUNG CANTIK"