NAMAMU LUNA


Oleh Yayah Kurniyah

Cerita 1



Sudah beberapa hari keluarga Ali mendapat anggota keluarga baru. Mereka  memang menyukainya, dan selalu berebut mencari perhatian. Kehadirannya melumerkan suasana yang belakangan agak kaku. Benar-benar membuat hari, menjadi punya cerita baru.

Sebagai pendatang baru tentu saja ia banyak menarik perhatian semuanya. Kata keluarga lamanya dia pemalu. Pantas saja setiap kali ada yang menyapa dia berusaha menggeser posisi menghadap ke tembok, atau apa saja yang berupa penghalang tinggi. Bahkan kalau dibelai selalu pelan-pelan menghindar. Katanya pula, dia suka tempe yang diulek kemudian dikukus (tempe tim) sebagai selingan makan, selain ikan pindang. Namun karena pemalu itulah mungkin sehingga makannya masih ogah-ogahan.

Dalam upaya pendekatan, keluarga Ali menanyakan nama, "siapa namanya?"

"Astuti," jawab Dwi, papa Ali.

"Ih, jangan Astuti sih. Seperti nama Bu Astuti teman kita sesama guru di sekolah kita," sanggah Melan, mama Ali.

"Ya, itu nama bawaan dari sana. Nama sejak dia masih kecil." Dwi meluruskan.

Si Ali, anak pertama pasangan Melan dan Dwi nyamber, "Biarin ih, bagus. Dipanggilnya kan 'Tuti'. Tuti... Tuti... Lucu. Udah biarin aja."

"Gak mau, jangan. Mama gak enak hati kepada teman mama." Sergah Melan.

Faqih adalah adik Ali yang pertama; dan adik yang kedua, Sayyidil; keduanya  tak mau juga melewatkan momen-momen seperti itu. Terus saja mereka cengengesan sambil tak ketinggalan ikut menimpali.

"Iya ya, kalau teman kita ada yang sama namanya gak enak juga ya manggil-manggilnya. Jadi siapa ya nama yang menarik dan berkarakter pas?" Ali berpikir sejenak, kemudian rupanya dapat ide juga yang tereferensi dari sebuah film Jepang. Maklum dia tergolong maniak film anime Jepang. "Luna! Ya, Luna Sailor Moon."
Luna adalah nama dewi bulan dalam film Sailor Moon.

Di hari ke-3, Luna sudah tampak sumringah. Sudah tak ragu-ragu lagi mondar-mandir ke sana kemari. Disapa pun tak lagi menghadapkan mukanya ke tembok, bahkan sudah mulai menikmati belaian keluarga itu. Makannya sudah mulai semangat. Bahkan tempe tim kemarin yang disimpan dalam kulkas, yang sebelumnya sebagian sudah disajikan dan tak dihiraukannya, kini Melan mencoba iseng menyajikannya kembali padanya setelah dihangatkan. Ternyata dia tidak menolaknya. Melahapnya sampai habis. Melan sekeluarga girang bukan kepalang. Semua mengomentari. 

Sore itu, dibelikannya ikan pindang dan dihangatkan di wajan dengan api kompor kecil. Aromanya yang merebak ke seluruh ruangan kiranya tak dapat menahan suara kecilnya keluar dan nimbrung ke dapur. Itu membuat semuanya senang dan kegirangan. Dia tampak tak sabar menanti makanan favoritnya dihidangkan khusus untuknya. Menyaksikan hal itu semua tertawa sambil ramai mengomentarinya. Sungguh tingkahnya lucu, dan membuat semua gemas.

Perutnya yang bulat karena sedang bunting membuat jalannya megal-megol, menambah lucu penampilannya dan makin menggemaskan. Karena sedang bunting itulah mungkin yang membuat dia makan terus. Uniknya, setiap kali makan kemudian minum, selang beberapa menit setelah minum ngibrit, otw b.a.b. Begitu setiap kali sehabis makan. "Pantas makan terus, la wong tiap kali makan dikeluarin lagi, hahaha..." begitulah celoteh mereka beberapa kali sampai akhirnya kebiasaan buruknya sudah tidak terhiraukan lagi.

Di hari ke-4, hari itu Jumat pagi bada subuh. Sepulang dari masjid, begitu menginjakkan kaki di pintu masuk ketiga jagoan Melan mencari Luna. Begitulah kebiasaan baru mereka. Luna menjadi prioritas baru. Setiap saat dialah yang dicari-cari terus. Namun Luna tak ada nongol-nongolnya juga. Ketiga anak itu mulai resah. Terutama si Ali, mulai menyalah-nyalahkan Sayyidil, si bungsu yang ia duga lalai menutup pintu. Meski Iyas mengelak kakaknya tetap kukuh kalau tadi pintu memang terbuka. Jadilah papa mereka mulai ikut berkomentar. Dia mulai kebakaran jenggot, "ayo cari di luar atau di atas dak sana."

"Sudah dicari ke mana-mana. Ke atas sudah, di luar juga sudah. Gak ada." Sahut ketiganya bergantian. Karena masing-masing dari mereka memang sudah melakukannya sebelum papanya ikutan ramai. Cahaya mentari yang memang masih belum saatnya beraksi mungkin masih sedang berbenah diri. Atau bahkan mungkin masih terlelap diselimuti mendung sisaan hujan, sehingga gelapnya menyulitkan pencarian. Hanya Melan yang tetap tenang dengan mencari alakadarnya. Memang sesuai perhitungan logika betul sih, makin lama nanti makin jauh. Tapi seperti biasa, Melan hanya mendengar bisikan insting. "Kurasa dia gak bakalan jauh, soalnya tanah basah karena semalam hujan kecil namun cukup lama. Jadi jalanan becek. Dia gak bakalan suka kakinya basah-basahan. Lagi pula gimana mau mencarinya, ini pagi masih gelap. Susah melihat-lihatnya. Gak bakal kelihatan, pikir Melan. 

"Coba sana nyarinya masing-masing bawa senter!" Perintah Melan kepada anak-anaknya, sekadar membuktikan bahwa dia peduli dan ikut berpartisipasi dalam kegelisahan itu. Bukan tak sayang. Semua tahu justru Melan begitu ekspresif terhadapnya. Namun karena prinsip dia dengan ikhtiar yang tidak berlebihan, kalau itu memang menjadi hak mereka maka Allah akan dengan cara-Nya sendiri mengembalikannya kepada mereka. Yang pertama. Yang ke dua, ini lho, di sini, di hati ini, tidak terasa was-was, tenang nih hati. Kalau insting ini belum error, biasanya pertanda tidak akan terjadi apa-apa, pikir Melan. Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya sedikit waswas sih ada. Sebab ketika melihat dia b.a.b, makan lagi, b.a.b lagi, makan lagi, terus-menerus Melan sempat berolok-olok, "hai, Luna! Kalau gini caranya mah bisa jebol nih dompet. Buat beli makannya bisa bengkak. Belum lagi buat pasir  media pup kamu. Hadeuh..." Melan sempat berpikir, "jangan-jangan naluri Luna terasa dan membuat dia jadi  pergi." Tapi tak mungkinlah. Masa sih... Demikian batin Melan sedikit berselisih.

Terlihat wajah Faqih kurang suka melanjutkan pencarian. Mamanya bisa membaca dia ingin segera membuka al-quran seperti biasa sepulang dari shalat subuh. Setidaknya itulah kebiasaan Faqih setelah masuk ramadhan. Sayyidil dan Ali tampak bingung harus bagaimana cara mencarinya. Ketiganya makin kebingunan apalagi melihat papanya makin kebakaran jenggot. Sudah jenggotnya memang tidak banyak. Ha ha ha. "Coba tengok di tiap teras rumah tetangga, siapa tahu Luna main di teras tetangga." 

Menanggapi saran mamanya, Faqih berpikir, "kalau harus nengokin teras tiap rumah agak repot juga. Coba ah tengak-tengoknya dari tempat tinggi," sehingga Faqih naik kembali ke atas dak. Baru menginjakkan kaki di tangga tertinggi terlihatlah Luna yang sedang asyik menikmati pemandangan pagi dari atas dak, dengan udara sejuk setengah basah karena masih bercampur embun. "Dih, tadi aku cari di sini gak ada, sekarang kok kamu di sini? Luna, sini...." Yang dipanggil malah ngibrit turun menghindari jangkauan Faqih. Rupanya ketika Ali, Faqih, dan Sayyidil bergantian mencari ke atas dia sedang jalan-jalan di atas genteng atau ntah bagaimana. Pokoknya mengingat perutnya yang buncit --hamil tua-- membuat tak ada yang berpikir kalau Luna  bisa berkeliaran ke atas genting.

Mendengar Faqih mengajak dialog Luna, dari bawah, dari dalam rumah pada keluar penasaran. "Mana Lunanya? Sudah ketemukah?"

"Ketemu di mana?"

"Lagi apa dia di sana?"

Pertanyaan bersahutan diselingi tawa suka. Yang menjadi obyek seperti menyadari kalau dirinya begitu penting, dan merasa bersalah disertai sedikit rasa takut. Hal tersebut tergambar dari sikapnya yang menuruni tangga yang di bawahnya adalah garasi, dengan berlari kecil, lalu menyelinap di antara celah ban-ban motor agar tak ada yang dapat menjangkaunya. Kemudian dengan lincah memasuki pintu ruang tv, dan langsung memburu kolong dipan kamar tidur orang yang paling bertanggunggung jawab atas sebagian besar urusan hidupnya. Dialah si Aa Ali yang telah merengek-rengek meminta seekor kucing lucu seperti minta jajan ice cream.

Kucing itu ia beri nama LUNA SAILOR MOON.

Tentang Penulis
Yayah Kurniyah, lahir di Indramayu, 22 Juli 1968. Lulus S1 di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Unwir Indramayu tahun 1994.
Pernah menjadi Instruktur Nasional Implementasi Kurikulum 2013 tahun 2014.
Pernah menjadi mentor dalam kegiatan daring Guru Pembelajar 2016.
Tim Pendampingan Implementasi Kurikulum 2013 di tahun 2017.
Bendahara MGMP B Indonesia th. 2009 s.d. 2018

Sejak baru belajar mengajar sampai sekarang ia mengajar di SMPN 2 Indramayu.
karyanya tersebar di buku-buku antologi bersama guru-guru se-nusantara dalam Komunitas SGSI (Sahabat Guru Super Indonesia) berupa feathur dan artikel, seperti "Mencari Sekolah Terbaik, 1001 Cara Membuat Guru - Siswa Suka Baca, Menulis untuk Rasa," dan lain-lain.
Selain di SGSI tergabung juga dalam komunitas Kreasi Penggerak Literasi, dengan karyanya dalam Antologi Puisi dan Tanda Cinta untuk sang Pengikat Makna.
Antologi yang baru terbit, yaitu "Yuk, Meong Rame-rame," di komunitas menulis Media Guru.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "NAMAMU LUNA"

Post a Comment