PJJ, Masalah atau Tantangan?

Oleh Rina Indrawaty,S.Pd
(Guru SD BPI)

Pandemi covid 19 tengah melanda seluruh dunia, tentu saja  berdampak kepada sektor pendidikan. Pembelajaran  Jarak Jauh (PJJ) sebagai implementasi kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid 19 menjadi solusi untuk pelajar di seluruh Indonesia.  Asumsi PJJ yang selama ini hanya  diperuntukan untuk jenjang tingkat atas dan mustahil dilaksanakan di jenjang sekolah dasar, akhirnya pupus sudah.

PJJ merupakan “dunia baru” di bidang pendidikan. Walaupun berjalan lancar, tentu dalam perjalanannya mempunyai banyak kendala. Salah satunya dari aspek standar proses pembelajaran (kemampuan guru dalam mengelola PJJ, metode pembelajaran yang digunakan, keterbatasan kepemilikan media gawai pintar/laptop/komputer, dan keterbatasan akses terhadap internet termasuk kuota). 

Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19, menjadi solusi terhadap kendala yang dirasakan dalam proses pembelajaran. Fleksibilitas dan kelonggaran dalam standar proses serta penilaian, bantuan dana dari BOS dan keringanan beban administrasi untuk guru, menjadi angin segar bagi guru untuk bereksplor mengejar  kualitas kebermaknaan dalam pembelajaran (meaningfull learning) bukan sekedar  mengejar ketercapaian kurikulum.
 
Kemampuan guru dalam mengelola PJJ menjadi salah satu kendala yang harus didongkrak, terutama dalam penggunaan atau pemanfaatan media pembelajaran berbasis TIK. 
Program-program dari pemerintah dan partisipasi dari berbagai lapisan dan kelompok masyarakat mulai ibermunculan memberikan solusi untuk membantu meningkatkan kemampuan guru dalam pemanfaatan IT dengan mengadakan berbagai pelatihan daring secara gratis. 
 
Terlepas dari semua itu, hal yang paling penting dari keberhasilan PJJ adalah  adalah motivasi guru mengikuti perkembangan (updating skills) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Semua akan menjadi sia-sia, jika seorang guru tidak mau berubah dan enggan meninggalkan zona nyamannya. 
Untuk semua guru, marilah kita  mengupgrade diri menjadi guru yang up todate, tinggalkan guru yang kudet sehingga guru menjadi agent of change ketika menjadi pengajar , pendidik atau pengelola yang inovatif .
 
 

 
     

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PJJ, Masalah atau Tantangan?"

Post a Comment