PERNAH MEMILIKI

DINI SUCITA ASIH

Tiba-tiba, mataku tertuju pada sosok yang sedang berjalan ke arahku. Aku tertegun di tengah keramaian supermarket, semakin dekat…, semakin dekat…, dadaku bergemuruh kencang..Tak salah lagi, itu kamu, yang sangat kukenal, Satrio. Entah kebetulan atau keajaiban, setelah puluhan tahun tak bersua, kini dipertemukan kembali di kota yang sama. Sungguh aku tak menduga. Saat berpapasan di depanku, kau berhenti dan menyapaku.

“Hai…, kamu Ita kan? Teman SMA ku dulu. Apa kabar?” Sederet pertanyaan keluar dari mulutnya. 

Aku jadi salah tingkah, kujawab, “Iya, aku Ita,” gemetar bibirku berusaha tersenyum.

“Ita, kenalkan, ini Dita istriku, dan ini jagoan kecilku, Doni.” Aku tersenyum pada Dita istrinya, dan kucubit sayang Doni jagoan kecilnya. “Dengan siapa kamu ke sini?” lanjutnya.

“Sendiri.” Jawabku singkat

“Sudah punya berapa putra?” Lanjut Satrio.

“Aku sudah punya tiga anak, 1 putra dan 2 putri.” Jawabku sambil tersenyum kea rah Satrio.

“Wow! Sudah tiga? Kamu mengalahkan aku,” serunya, sambil tertawa renyah. Kulihat sederatan gigi putih ciri khasnya. 

Ah, tawa itu tak berubah, masih seperti dulu,” batinku sambil tersenyum kea rah Satrio. 

Setelah saling sapa, kami sempat bertatap pandang. Dan, ah…, matanya setajam elang, masih menyiratkan kehangatan. Selintas kami terhipnotis masa lalu. Untunglah si ganteng Doni merengek. 

“Ayo, Pah. Kita ke tempat mainan.”

“Oh, iya. Ayo kita kesana!” Jawab Satrio sambil menggandeng Doni.

Aku tersenyum pada Satrio dan istrinya, seraya mempersilakan untuk berlalu menuju tempat mainan. Setelah mengucap salam, kami pun berpisah. .Aku masih termangu sambil mendorong troli secara perlahan. Ingatanku melayang ke masa 20 tahun lalu, saat Satrio datang untuk pertama kalinya ke sekolahku menjadi murid baru. Hari itu, kelasku 2 Fisika 1, saat pelajaran Bahasa Inggris, kedatangan wali kelasku, beliau datang bersama seorang siswa berperawakan tinggi, agak kurus dengan kulit sawo matang, manis juga sih. Wali kelasku mengatakan, bahwa siswa ini akan menjadi siswa baru di kelas 2 Fisika 1, kemudian beliau mempersilakan siswa itu untuk memperkenalkan diri. Tanpa ekspresi, siswa baru menyebut namanya. Ternyata dia bernama Satrio, pindahan dari Semarang.

Kebetulan kursi di sebelahku kosong, Satrio pun duduk di sampingku, Sesaat kemudian, Ibu wali kelasku berlalu, dan kami melanjutkan belajar Bahasa Inggris. Sampai jam istirahat, kulirik siswa baru disampingku, dia masih menulis. Aku pun meninggalkannya sendirian di kelas.

Keesokan harinya kami duduk berdampingan tanpa sepatah katapun, dalam hati, aku bergumam, “jutek amat nih orang.” 

Hingga saat sebelum pelajaran Fisika di mulai, dia berkata, “siapa namamu?” 

Langsung kujawab, “Ita,”

Dia hanya berkata, “oh….”

Kuperhatikan, dia tampak antusias dengan pelajaran Fisika. Pak Adi, guru Fisika kami memberikan PR yang lumayan banyak. Wow, siap-siap lembur nih di rumah, ngerjain PR dari Pak Adi.

Bel istirahat berbunyi, kuajak Satrio ke kantin, tapi dia menolak. Aku pun pergi bareng teman-temanku yang lain. Saat aku kembali dari kantin, kulirik Satrio sedang asyik mengotak-atik soal Fisika yang dijadikan PR dari Pak Adi. 

“Yes,” soraknya sambil meletakkan pulpen yang dia pegang.

“Kenapa?” Tanyaku sambil duduk disampingnya. Dia tersenyum padaku sambil menyodorkan buku Fisikanya. Kuperhatikan, sepuluh soal yang seharusnya dikerjakan di rumah, telah diselesaikannya. “Wow!” Aku berdecak kagum. Dalam waktu sesingkat itu, dia bisa menyelesaikan sepuluh soal Fisika..Kuberi dia dua jempol, luar biasa. Dia mengatakan bahwa dia memang menyukai pelajaran Fisika. 

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, kami semakin akrab. Aku telah salah menduga, Satrio yang kuanggap jutek, ternyata ramah dan selalu membuatku terhibur dengan berbagai kejahilannya. Terkadang humornya membuatku merasa bahagia bersamanya. Entah perasaan apa yang kurasakan, hubungan kita berdua, apakah kita sahabat, teman atau teman tapi mesra. Begitu selalu dia mengatakannya. Jujur, kami masih malu mengakuinya. 

Kami saling suka, lebih dari sekedar teman. Sesuatu yang kusuka darinya adalah karena dia pintar, baik dan ramah. Itu terbukti saat kenaikan ke kelas 3, dia mendapat peringkat 2, sedangkan aku peringkat 3. Banyak cerita indah yang kami lukis bersama, Kami pernah satu tim lomba karya ilmiah remaja, lomba menulis cerpen remaja, sampai pernah mewakili sekolah kami ke Jakarta sebagai finalis karya inovatif remaja. Hingga tiba saat detik-detik akhir kami di SMA. Malam itu, malam perpisahan kelas 3, tiba-tiba dia menarik tanganku dan mengajakku ke suatu tempat, di pojok ruangan. Dia mengatakan, kalau dia menyayangiku. Aku tersipu, kujawab, akupun mempunyai perasaan yang sama. Kami berjanji, suatu saat nanti kita akan hidup bersama. 

Malam yang sungguh tak terlupakan. Momen yang paling romantis dalam hidupku. Waktu berjalan begitu cepat, kami sibuk dengan pendaftaran masuk perguruan tinggi. Kami bersyukur, bisa di terima di PTN sesuai jurusan yang dipilh. Namun sayang, kami terpisah. PTN kami berbeda kota, bahkan berbeda propinsi. Beberapa waktu kami masih saling berhubungan via pos, namun seiring kesibukan masing-masing, akhirnya kami benar-benar tidak pernah lagi saling berkirim kabar, sampai kami lulus kuliah, bekerja, dan menikah dengan pasangan masing–masing. Sampai akhirnya, kami dipertemukan lagi di kota ini.

Satrio, walaupun kita tidak dapat bersama, tapi setidaknya kita pernah saling memiliki. Takdir telah menggariskan kita untuk tidak bersama, tapi setidaknya, banyak kenangan yang pernah menjadi cerita terbaik tentang kisah cinta kita.

Sayup-sayup kudengar suara Rossa feat D’massiv “Pernah Memiliki,” di bawah bulan purnama kita pernah berjanji sehidup semati, temani aku disini, namun apa daya tanganku tak sampai untuk menggapaimu. Takdir tak berpihak padaku untuk mempertahankanmu. Lirik lagu ini sungguh mewakili perasaanku. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara kasir yang menyapaku. 

“Maaf, Bu. Silakan keluarkan barang-barangnya,” kata sang kasir.

“Oh,  iya.” Jawabku.

Dan nostalgia itu pun terhenti sampai di sini.



TENTANG PENULIS


Dilahirkan di Jakarta, walaupun asli Ciamis, Januari 1972. Pernah sekolah di SDN Cipinang Melayu 01 Pagi Jakarta Timur, dan tamat SD di SDN Mongonsidi Subang. Pernah belajar di SMPN 1 Subang,  SMAN 1 Ciamis dan belajar di IKIP Bandung, jurusan Pendidikan Kimia. Pertama kali mengajar sebagai guru IPA honorer di MTs Al Huda Wuring Maumere Kabupaten Sikka  NTT tahun 1995. Tahun 2003-2007 menjadi GBS ( Guru Bantu Sekolah) di SMPN 1 Jatibarang dan SMPN 3 Sindang Kabupaten Indramayu. Menjadi PNS tahun 2007 sampai sekarang, bertugas sebagai guru IPA di SMPN 3 Sindang Kabupaten Indramayu. Pernah menjadi juara 3 OSN Guru  Fisika tingkat Kabupaten Indramayu tahun 2012.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PERNAH MEMILIKI"

Post a Comment