KEGALAUANKU

 

Oleh  Hj. Aat Sumiati

Laptop tak jadi kumatikan karena tiba-tiba file picture tertangkap mataku. Segera ku klik ingin tahu apa isinya. Benar saja beberapa album tersimpan rapi di sana. Album anakku. Tapi dari yang aku buka itu ternyata materi biologi dari suatu kasus penyakit, mungkin tugas kelompok waktu itu. Biarlah jadi dokumen. Lalu kubuka album lainnya. Ini dia. Satu persatu kucermati dengan tak satupun terlewat. Ini foto anakku, Mia yang sekarang duduk di bangku SMA Kelas XII. Kenangan. Bagus sekali, semuanya terekam dalam beberapa pose anakku yang berambut panjang kala itu. Sedari SD, dengan teman-teman terdekatnya. Sahabat tercinta. Berfoto memakai baju seragam batik. Di ambilnya suasana rumah. Dan dari acara pelepasannya di sekolah, ketika beberapa teman menari gembira. 

Terbanyak adalah pose-pose lucu gadis kecilku seusianya. Bergaya bak model ternama. Dengan rambut panjangnya dia kelihatan lebih anggun dan cantik. Ya anakku yang sekarang sudah menjadi remaja menjelang dewasa. Tak terasa tujuh belas tahun kini umurnya. Yang mulai disibukkan dengan memilih Universitas mana jurusan apa dan fakultas apa kelak ia kuliah.

Sepertinya baru kemarin dia dengan bangga mempersembahkan piala juara di kelasnya setiap pembagian rapot dari SD dan madrasahnya. Bersyukurlah kami dikaruniai seorang anak yang pintar, rajin dan penurut. Bangga kami padanya. Mia selalu dapat menduduki 3 besar di kelas. Selama SD, selama itu pula Mia selalu peringkat ke-1. Kalau sudah begitu, ku  ingat betul Bapakku akan memberinya hadiah. Uang lembaran biru lima puluh ribu rupiah. Dengan senang pasti uang itu selalu ditabungnya. Tidak boleh dipakai sekalipun untuk jajan. Anakku. Hemat sekali kau, seperti bapakmu.

Foto lain mengusik hatiku, adalah foto-foto ketika dengan anggunnya dia memakai kerudung atau jilbab-jilbabku. Bahkan kalau adat berfotonya sedang datang dia sengaja berdandan memakai jilbabku silih berganti warna dan model. Genitnya kamu nak ... hanya sekedar untuk foto bergaya.

Saat Sepupunya datang berlibur mereka menginap di rumah sepupu 

Mia di Indramayu, di teteh Liu. Kala itu Liu yang mulai suka ber make-up, mencoba mendandani tiga sepupu kecilnya itu. Dengan berbagai asesoris bak model kecil yang lucu. Bagus sekali riasannya, lumayan rapi. Lagi-lagi kegenitan anak semata wayangku dan para sepupunya itu terekam dalam lembar-lembar foto yang kini ku cermati. Indahnya kenangan itu.

Banyak juga foto yang berlokasi di warung sembako kami di sebelah rumah. Dia mengingatkanku kalau kami dulu pernah juga bermaksud menambah penghasilan dengan berjualan sembako. Tapi usaha itu belum berpihak kepada kami. Karena di sekitar rumah kami ada dua grosir sembako lain yang bisa menjual barang dagangannya dengan harga lebih murah. Jadilah toko kami hanya hitungan bulan saja. Selain karena tidak ada yang menjaga, karena kami berdua harus mengerjakan tugas utama kami, mengajar. Sudahlah rizki sudah ada Allah yang mengatur. Yang penting kita mensyukurinya.

Dari album anakku kualihkan jariku mencari foto-fotoku juga. Ada banyak foto pembelajaran di kelas ketika aku mengajar masih tersimpan rapi, Kenangan bapakku ketika berulang tahun, foto ketika kami berhaji tahun 2019 dan foto lain yang jumlahnya juga tak kalah banyak dengan album anakku.

Tak terasa jam menunjukkan lebih dari jam 00.15. Kumatikan laptopku. Berharap segera tidur. Tapi tidak kali ini. Entah pikiran apa yang tiba-tiba menggangguku, mataku tak mampu kupejamkan barang sedikitpun. Jadilah angan ini melayang memikirkan hari ini anakku akan mengikuti Open House di Universitas Jendral Sudirman yang biasa kami menyebutnya UnSud. Apa ini kegalauanku yang mulai terasa saat anakku mulai melangkahkan kakinya untuk menuntut ilmu, jauh dari kami. Ya tepatnya di kota lain. Beratus kilometer dari sini. 

Padahal tidak pernah sebelumnya terbersit dalam benakku kalau kekhawatiran di tinggal anak itu muncul secepat ini. Karena masih satu semester lagi anakku menyelesaikan SMAnya. Apa ini yang dinamakan syndrom orang tua dengan anak perempuan semata wayangnya yang siap berjauhan untuk menuntut ilmu demi masa depan dan cita-citanya. Ya Allah, kuatkanlah aku.

Sedari SMP pun kalau saja anakku mau menuruti saran wali kelasnya, Bu Hj. Tarmiah untuk tinggal di Asrama sekolah, mungin tidak se galau ini aku merasakan. Tapi justru anakku memikirkanku. Sekalipun dengan jarak sekitar 17 kilometer dari rumah dia memilih pulang pergi ke sekolah. Naik angkot atau diantar jemput pade dan bapaknya tentu saja. Alasannya kasian ibu begitu katanya. Di satu sisi aku siap saja kalau Mia anakku mau tinggal di asrama, tapi di sisi lain akan terasa betapa sepinya kalau dia tinggal di asrama. Tidak akan kudengar ceritanya yang panjang lebar sepulang sekolah. Bahkan baru masuk rumahpun belum berganti baju seragam sudah banyak yang dia sampaikan. Hingga hampir semua temannya aku mengenalnya dari cerita-cerita anakku itu. 

Selalu tema apa yang dia lakukan di sekolahnya, tingkah polah lucu bercanda dia dan teman-temannya. Bagaimana dia aktif dalam OSISnya, eskulnya dan pokoknya semua. Hanya satu yang dia tidak pernah cerita yaitu tentang siswa yang ganteng di kelasnya atau di sekolahnya. Memang dia tergolong anak yang cuek belum mau memikirkan lawan jenis. Syukurlah. Tentang hal ini sampai guru Matematikanyapun berkata kalau Mia siswi yang polos belum punya pacar, jadi masih fokus penuh belajar. Alhamdulillah. Itu diungkapkannya ketika kami bertemu dalam kegiatan apikasi kurikulum-13 dari sekolah satu ke sekolah lain. Mengapa itu disampaikan oleh Bu HJ. Eti karena beliau selaku guru pembimbing Mia yang mengikuti lomba Olimpiade Matematik di Unwir, Universitas swasta di daerah kami.

Lain lagi kebanggaan kami yang satu ini. Saat dia tiba-tiba me WA-ku mengabarkan kalau aku harus segera membuka rekening BJB atas namanya. “Buat apa?” Tanyaku saat itu. “Buat persiapan kalau menang lomba mbodor Bu” jelasnya. Segera kuurus sesuai permintaannya. Disanapun kubertemu dengan seorang teman SMPku dulu, Wartono yang membuka rekening atas nama anaknya juga. Ternyata mereka sama-sama mewakili sekolah untuk tingkat Propinsi. Memang lombanya di Cianjur. Mereka bersembilan dalam lomba Pangsanggiri kali ini. Lomba ini selalu diadakan dari tahun ke tahun. Banyak cabang lombanya tidak hanya mbodor tapi ada juga baca puisi, pidato, debat, kaligrafi, menulis cerpen dan lain-lain. 

Pesan via WA, yang memberi kabar gembira itu akhirnya tiba jua. Alhamdulilah anakku lagi-lagi membanggakan kami sekeluarga besar. Juara ke-1 tingkat propinsi Mbodor. Dari sekian banyak juara syukur alhamdulillah sekolahnya mendapat juara Umum. Tidak sia-sia nak pengorbananmu berlatih sekian lama. Tanpa kenal lelah dan selalu semangat. Dengan riang dia meneleponku didapatnya uang sebesar Empat Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah. Masuk rekening yang sudah kubuat. Sedangkan uang kas yang dia terima saat itu tiga ratus ribu rupiah. Ditambah piala dan sertifikat. 

Jumlah yang cukup banyak untuk suatu prestasinya. Terimakasih ya Tuhan. Segera berita gembira itu menyebar di grup wa keluarga kami. Banyak ucapan selamat dari para saudara. Turut bahagia. Saking bangganya kakakku yang tinggal di Bogor sekalian merayakan ulang tahun Mia, yang ke-15 mentraktir kami makan malam di Rumah Makan Mertua. Senang semua. 

Sepertinya masih belum percaya kalau anakku memenangkan lomba mbodor itu. Tingkat Propinsi lagi. Juara ke-1 lagi. Karena dia termasuk anak yang pendiam seperti beberapa orang lain mengiranya. Tapi keraguanku hilang seketika kutonton vidionya ketika tampil. Padahal hanya dengan bermodalkan baju pinjaman saudara. Seadanya. Lagi-lagi kami bersyukur.

Semester ini tanpa mengenal lelah dan penuh semangat Mia melalui hari-harinya dengan belajar, bimbingan belajar GO (Ganesha Operation), bimbingan STAN, dan bimbingan belajar dari sekolah. Masih ditambah les fisika seminggu sekali. Kemarin pesan di wa ku baru saja dengan bangga diberitakan kalau dia mendapat nilai UAS fisika tertinggi seangkatan. Baru kali ini terjadi, setelah mengalahkan Ismet walau beda 1 point. Itulah buah dari upayamu Nak. Semua aktifitas itu dilakukannya dengan senang, sekalipun sempat berkeluh kesah cape Bu, aku pikir itu manusiawi. Toh semua keinginannya. Kami orang tua tidak pernah memaksa dia harus kerjakan ini itu dan sebagainya. Kamai hanya menyarankan dan memfasilitasi semampu kami saja. Sambil diiringi doa tentunya.

 Dari banyak kebingungannya memilih jurusan antara fakultas kedokteran dan aktuaria yang notabene sama-sama dalam grade satu, maka anakku harus pandai-pandai memilih dan memilah agar tidak salah. Dia selalu berusaha agar nilai yang selama ini ia pertahankan tiada sia-sia. Begitu tekadnya. Melalui jalur rapot kami semua mengharapkan dia di terima di Universitas Negeri dengan jurusan sesuai cita-citanya. Yang baik untuk agama, keluarganya, masa depannya dan keluarga serta masyarakat banyak tentu saja. Sepenggal doaku terucap. Ya Allah berilah anakku selalu kesehatan, keselamatan, kekuatan, kemudahan, kelancaran, kesuksesan, kebahagian, kenikmatan dan kenyamanan dalam beraktifitas sehari-hari, dalam beribadah kepadaMu dan dalam berbakti kepada kami dan dalam mencapai cita-citanya. Aamiin..

Berjuanglah selalu anakku. Agar hidup kita bukan Cuma hidup. Tapi hidup sesungguhnya. Berguna bagi banyak orang dan yang utama mulia di hadapan Tuhan. Harap kami padamu. Sukses selalu. 


Hj. Aat Sumiati, S.Pd., M.Pd.

Lahir di Indramayu, 12 Desember 1971. Bungsu dari delapan bersaudara.Menikah dengan Ir. Sabar, M.Pd, guru di SMK N 2 Indramayu.  Mempunyai seorang anak perempuan  kelas XII, di SMA Negeri1 Sindang, Indramayu. Mengajar sebagai guru Bahasa Inggris sejak tahun 1997, di SMPN 2 Sindang. Menjadi PNS sejak tahun 2000 dan ditempatkan di SMP N 3 Kertasemaya. Mulai tahun 2002 mengajar di SMP N 1 Jatibarang hingga sekarang.




    


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KEGALAUANKU"

Post a Comment