DILEMA EKONOMI DI MASA PANDEMI COVID 19

Oleh Nifa Aulia Masyrifa dkk


Pandemi yang terjadi telah merenggut sebagian bahkan seluruh ranah kehidupan manusia. Tak hanya kesehatan, ekonomi pun ikut terdampak atas kemunculannya. Fokus manusia terpecah. Di satu sisi, pembatasan kontak fisik dan sosial harus diminimalkan untuk menekan penyebaran virusnya. Di sisi lain, manusia perlu menjaga pemenuhan kebutuhan dasarnya. Negara mengalami dilema, berjuang untuk hidupnya manusia atau hidupnya perekonomian, karena keduanya berdampak sama. 

    Tentu tak hanya satu negara, ini masalah satu dunia. Bahkan, di masa seperti ini resesi dianggap wajar. Sebagian orang menyebutnya sebagai ‘takdir’ dengan probabilitas tinggi dialami oleh negara-negara di dunia. Resesi dapat muncul ketika pendapatan domestik bruto (PDB) mengalami pertumbuhan yang negatif selama dua tahun atau dua quartal berturut-turut. Ketika bencana terjadi, salah satunya pandemi, aspek aspek PDB akan terpengaruh, mulai dari penurunan daya beli dan konsumsi masyarakat, pesimisnya para investor sehingga investasi di sektor riil menurun, pun terhambatnya ekspor karena usaha pembatasan sosial dari negara importirnya. 

Awal maret 2020 pandemi Covid-19 resmi dinyatakan oleh WHO. Hal ini tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan tetapi juga memberikan dampak negatif pada sektor perekonomian di seluruh dunia. Pandemi telah menekan aktivitas ekonomi di berbagai negara. Isu pandemi covid 19 sendiri sangat meresahkan ditambah lagi isu-isu lain yang bermunculan yang semakin memberikan keresahan pada masyarakat. Ketika pertama tersebarnya Covid, Dunia dalam kekacauan. Seperti debut virus lainnya, Covid digolongkan sebagai virus mematikan yang belum ada obatnya. Akhirnya, dilakukanlah tindakan perventif berupa diberlakukannya Lockdown. Idenya adalah orang yang belum terjangkit agar diam di dalam rumah dan menghindari social gathering (atau social distancing) hingga ditemukan vaksinnya.

    Pembatasan aktivitas sosial untuk mencegah kontak fisik antarmanusia menjadi salah satu cara untuk mencegah lebih banyak orang terinfeksi. Tagline ‘di rumah aja’ digaungkan di tengah masyarakat. Oleh karenanya, kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi pun menurun. Perusahaan yang tak mampu mengatasi dampak dari hal ini terpaksa harus mengurangi jumlah pegawai untuk meminimalkan biaya, dengan kata lain pengangguran meningkat. Daya beli masyarakat menurun. 

    Pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan kegiatan sektor perekonomian dengan melonggarkan kebijakan pembatasan aktivitas sosial. Istilah new normal menjadi landasan seseorang boleh kembali beraktivitas dengan memperhatikan protokol kesehatan, sebagai salah satu adaptasi terhadap perubahan kondisi yang dihadapi. Namun tentunya juga meningkatkan risiko terpaparnya seseorang terhadap virus. Terbukti setelah kebijakan tersebut diberlakukan, jumlah orang terinfeksi meningkat secara signifikan. 

Belakangan ini, isu terkait resesi yang disebabkan oleh pandemi covid 19 terus bermunculan ke media. Negara-negara di berbagai dunia mengalami pertumbuhan yang negatif bahkan negara-negara maju. Berbagai negara juga diberitakan jatuh ke jurang resesi diantaranya adalah Singapura, Jepang, Korea Selatan, Amerika, Flipina dan Jerman. Tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi covid-19 telah memberikan dampak yang luar biasa di seluruh negara di belahan dunia. Melihat beberapa negara mulai berjatuhan ke jurang resesi muncul pertanyaan masyarakat terkait dengan kondisi perekonomian Indonesia. Untuk itu, perlu diketahui terlebih dahulu apa itu resesi. Sederhanya, resesi adalah kemunduran di aktivitas ekonomi di sebuah negara. Umumnya, resesi juga di defenisikan sebagai pertumbuhan GDP yang negatif selama 2 kuartal berturut turut. Aspek GDP sendiri terdiri dari konsumsi masyarakat, belanja negara, investasi di sektor riil serta ekspor-impor. 

Di situasi seperti ini, resesi dianggap sebagi bagian yang hampir tidak terhindarkan dalam perekonomian suatu negara. Ditengah pandemi ini pemerintah juga terus harus meningkatkan biaya pada bidang tertentu seperti kesehatan mencapai nilai 700 Triliun dan pengeluaran untuk bantuan sosial. Negara seolah diberikan dua pilihan untuk menyelamatkan nyawa warganya atau menyelamatkan perekonomian. Dalam setiap pengambilan langkahnya bukan hal yang mudah. Langkah selanjutnya dalam menangani wabah virus corona akan sangat berpengaruh terhadap perekenomian Indonesia. 

Meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal II Indonesia pada minus 5,32%, tetapi Indonesia belum terperosok ke dalam jurang resesi. Namun kuartal III masih sedang berjalan. Apakah indonesia dapat dikatakan resesi atau tidak tergantung bagaimana pertumbuhan ekonomi pada kuartal III. Status resesi bisa dinyatakan secara pasti kalau sudah melalui suatu tahun, artinya resesi merupakan cerminan masa lalu. Tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja Indonesia mengalami resesi akan tetapi juga tidak ada yang bisa memastikan Indonesia akan mengalami resesi.

Lalu apa hubungannya dengan indonesia? Dari bacaan di atas, dapat diambil pelajaran bahwa sebuah  negara maju seperti Amerika pun tunduk dihadapan Covid ini. Lalu, bagaimana indonesia? 



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "DILEMA EKONOMI DI MASA PANDEMI COVID 19"

Post a Comment