Pentigraf Menurut Pencetus Pertamanya

 

Oleh : Lidip/Lilis Yuningsih


Adalah Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd. orang pertama yang memperkenalkan dan mempopulerkan  Pentigraf. Beliau adalah seorang penyair dan dosen Universitas Negeri Surabaya. Pada 2014  pernah mengajar di Hankuk univercity of Foreign Studies Korea. Selain pentigraf beliau juga telah mengembangkan cerita tiga kalimat (tatika), dan puisi tiga bait/ baris (putika). Menurutnya pentigraf termasuk juga dalam ranah karya sastra, Flash story, (cerita pendek dan pendek), fiksi mini, Flash fiktion, cerita sekilas, cerita cerita mini, cerita 140 kata. Pentigraf adalah cerpen tiga paragraf. Sedangkan orang yang membuat pentigraf disebut juga pentigrafis

Pentigraf sangat cocok untuk para guru, karena tidak menghabiskan waktu, cukup dilakukan kerja sambilan saja. Selain itu juga dapat digunakan guru dalam pengajaran di kelas. Namun sebelumnya guru harus memperkenalkan unsur fiksi kepada peserta didik, secara sederhana terlebih dahulu. Yaitu berupa cerita pendek, setelah itu guru akan mudah mengarahkan peserta didik untuk masuk ke cerita fiksi yang panjang.


Dalam menulis pentigraf, cukup fokus pada satu tokoh saja. Namun tetap, harus ada elemen narasi, berupa tokoh, alur, dan latar cerita. Panjang pentigraf maksimal 210 kata, (satu halaman A5), jika kurang dari 210 itu lebih baik. Dr Teng Soe juga menegaskan bahwa pentigraf bukan memindahkan fakta. Bukan saja cerita kehidupan sehari-hari, tetapi yang menjalankan cerita itu adalah tokoh dalam pentigraf tersebut. Artinya tokoh dalam cerita berfungsi menggerakkan alur cerita, bisa berupa manusia, hewan tumbuhan dan alam, atau bisa juga berupa benda.


Selanjutnya dijelaskan, karena pentigraf hanya  tiga paragraf maka sebaiknya dihindari kalimat langsung dengan mengubahnya ke bentuk narasi. Dan setiap cerita harus ada konflik, sehingga cerita lebih menarik, karena mustahil sebuah cerita tidak ada konflik. konflik ini bisa konflik antara manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain, manusia dengan alam, budaya, manusia dengan Tuhan. Pentigraf  mempunyai syarat utama adalah terdiri dari tiga paragraf, tidak kurang dan tidak lebih. Tetapi dalam pentigraf, tetap harus ada tokoh, alur cerita, dan konfilk yang kuat. Oleh sebab itulah mengapa dalam menuliskan pentigraf harus memperhatikan pemilihan diksi untuk menciptakan kalimat yang efektif.


Adapun karakteristik sebuah pentigraf adalah: 

(1) Terdiri dari tiga paragraf.panjang paragraf tidak ada batasan tetapi maksimal semuanya terdiri hanya 210 kata 

(2) Fokus pada tema,

(3) Ada satu kalimat langsung, kalau bisa hindari banyak dialog dalam paragraf

(4) Elemen narasi harus ada (tokoh,plot,alur dll)

 (5) Buat kejutan di paragraf terakhir atau ketiga

,(6)Mengolah realita baru,bukan memindahkan realita ke dalam bentuk tulisan,

(7) Muncul konflik agar pembaca penasaran, 

 (9) Pentigraf tidak bersambung.habis cerita di paragraf terakhir


Demikian, seperti yang penulis simak dari penjelasan Dr Teng Soe, M.Pd., dalam Webinar tentang pentigraf yang digagas Media Guru. Bagi Anda yang merasa kesulitan untuk memulai menulis, kenapa tidak mencoba memulai dengan menulis Pentigraf? Selamat mencoba.





Tentang Penulis

Lilis Yuningsih, S.Pd., M.M,  kepala SMPN Satap 1 Lelea, kecamatan Lelea, kabupaten Indramayu. Pernah mendapat tugas menjadi kepala sekolah DPK di SMP IT Mutiara Irsyady Pekandangan Jaya Indramayu. Selain mengajar juga menjadi penyiar di Radio Cnde FM, Indramayu. Mengasuh acara Obrolan Hati, setiap Rabu malam, pukul 20.00 sampai dengan pukul 22.00.

Penulis bisa dihubungi via email yuningsihlilis@gmail.com , WA 085 63 481 5 381, 085224223574.


Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Pentigraf Menurut Pencetus Pertamanya"

  1. Pentigraf? Hmmm ... tertarik juga untuk mencoba membuatnya. Kelihatannya mudah, cuma tiga paragraf,tapi memunculkan konflik dan harus selesai, semua dalam tiga paragraf, cukup menantang.

    ReplyDelete