Berburu

 

Oleh Enang Cuhendi

 

Hutan itu begitu lebat. Pohon-pohon tua nan besar tumbuh menjulang. Daun-daunnya saling terhubung seolah menutupi area hutan dari sorotan sang mentari di siang hari. Suasana sungguh senyap. Yang terdengar hanya suara binatang malam yang saling bersahutan. Mereka sesekali terdiam seiring kaki kami melangkah. Seolah ada rasa takut ketahuan di mana mereka berada.

Aku berjalan mengendap-endap. Setiap langkah yang kuayun selalu kujaga untuk tidak gaduh. Indera penglihatan dan pendengaran kupasang ekstra siaga. Sesekali kulihat Anton di posisinya. Kami pun saling bertukar kode. Bahasa isyarat yang sudah kami sepakati sebelumnya sengaja dipakai untuk berkomunikasi supaya tidak berisik. Aku kirimkan kode kepada Anton dengan jari agar mengecek senapannya. Ia pun paham dan melaksanakan perintahku. Kondisi senapan harus yakin tidak dalam kondisi macet saat tiba waktunya untuk digunakan.

Seketika terdengar suara auman yang sangat keras. Dari jauh terlihat sekelebat bayangan hewan berkaki empat dan berekor panjang mendekat. “Ton, dia datang. Waspada!” perintahku pelan. Anton mengangguk dan mencoba membuka kunci senapannya. Tak lupa teropong infra red yang nempel di atas senapan juga diaktifkan. Bayangan pun terlihat mendekat, semakin mendekat dan seketika butir-butir munisi tumpah bersama jatuhnya selongsong peluru dari senapan kami. “Yes, you get succes, go to the next level!” terpampang jelas tulisan di layar.

 

Cicalengka, ba’da Maghrib 15/9/2020

Pentigraf #3

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Berburu"