BUNDA

 

Oleh Efi Riyanti


Bunda, begitulah aku, Ayah, dan kedua Adikku memanggilnya. Seorang Ibu yang tangguh, sabar, dan pekerja keras. Wanita yang sangat baik. Istri yang begitu sayang terhadap suaminya. Umur tak pernah ada yang tahu. Allah SWT terlalu cepat memanggil Bunda untuk kembali berada di sisi-Nya. Penyakit yang bertubi-tubi datang hanya dalam kurun waktu dua bulan saja. Waktu yang cukup singkat, seperti petir datang mendadak.

***

Saat aku masih terlelap tidur. Telfonku berdering, gembiranya mendengar Bunda akan pulang pagi ini dari Rumah Sakit. Langsung ku bangunkan kedua adikku. Mereka pun sama bahagianya mendengar Bunda akan pulang. Untuk memastikan, aku bertanya kepada Nenek "benarkan Nek, Bunda akan pulang sekarang". Nenek menjawab dengan pelan " Kakak, sekarang Bunda akan pulang dari Rumah Sakit, soalnya di Rumah Sakit Bunda sudah tidak mau makan, tidak mau minun, Bunda cuma tiduran saja". Setelah mendengar kepastian dari Nenek, aku kembali ke kamar.

***

Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja Nenek masuk ke kamarku. Dengan suara yang pelan, Nenek berucap "Kakak, Abang, dan Adek hari ini Bunda akan pulang, tetapi Bunda pulang bukan karena sudah sembuh, Bunda pulang karena sudah tiada, Bunda sudah kembali ke Allah SWT". Sontak aku dan kedua adikku langsung menjerit. Kenapa Bunda meninggalkan kami semua. Kami masih ingin dipeluk Bunda. Kami masih butuh Bunda. Maafkan kami tidak ada di sisi Bunda saat detik-detik terakhir Bunda tiada. Saat ini dan selamanya, hanya berdoa yang bisa kami lakukan untuk Bunda.

***

Semua berawal saat Bunda pulang kerja. Sore itu, tiba-tiba saja kaki Bunda membiru. Bunda merintih kesakitan dan semakin sakit, sampai-sampai untuk berjalan saja Bunda tidak bisa. Bukan hanya bagian kaki yang sakit, bagian perut Bunda pun mendadak sakit sampai perutnya membesar. Tepat jam 12 malam, Ayah bergegas membawa Bunda ke Rumah Sakit agar segera mendapatkan penanganan dari Dokter. Lebih dari satu minggu Bunda di Rumah Sakit. Bersyukur kondisi Bunda membaik dan diperbolehkan untuk pulang ke rumah.

***

Hanya beberapa hari saja dirumah, kondisi Bunda melemah. Ayah langsung membawa Bunda kembali ke Rumah Sakit. Saat itu juga, Dokter meminta untuk di laboratorium. Hasil dari laboratorium, penyakit Bunda sudah parah. Dokter bilang, Bunda sakit gagal ginjal dan harus dicuci darah. Bukan hanya itu, ada penyakit lain yang lebih serius, leukimia. Sedih mendengar penjelasan dari Dokter. Kasihan Bunda, dalam sekejap penyakit datang bertubi-tubi.  Sudah dua minggu Bunda dirawat. Bunda masih saja lemas. Saran Dokter untuk cuci darah, tetapi Bunda menolak. Tidak  ada pilihan lain, selain membawa Bunda pulang ke rumah.

***

Sebenarnya tidak tega melihat kondisi Bunda. Bunda yang gemuk menjadi kurus. Bunda yang pekerja keras, saat ini hanya bisa berbaring diatas tempat tidur. Sedih melihat semuanya. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain merawat Bunda dengan baik dan berdoa. 

***


Lagi-lagi kondisi Bunda melemah setelah sembilan hari dirumah. Ketiga kalinya Bunda kembali dirawat. Dokter bilang kepada Ayah, "kondisinya sudah parah, harapannya kecil untuk sembuh". Aku dan keluarga hanya bisa berdoa, berharap ada keajaiban Bunda bisa sehat kembali seperti sediakala. Kali ini Dokter meminta Ayah untuk menandatangani berkas, karena Bunda akan diberi tambahan obat pada infusannya. Kondisi Bunda semakin lemah. Keesokan harinya, Dokter menyarankan Bunda secepatnya dibawa ke Bandung untuk kemoterapi. Namun Tuhan berkata lain, Bunda koma sebelum dibawa ke Bandung. Dan akhirnya, Dokter meyatakan kalau pasien sudah tiada. Tuhan sudah memanggil Bunda. Bunda sudah tiada. Bunda meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya.

***


Bunda, istirahatlah disana dengan tenang, bahagialah disurga. Semoga kelak Tuhan menyatukan kita kembali disurga. I Love You Bunda. Peluk cium untuk Bunda dari Ayah, Kakak, Abang, dan Adik. Terimakasih selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga.

***


Sayangi kedua orang selagi masih ada. Berbaktilah kepada kedua orang tua semasa hidupnya. Ketika sudah tiada, ada sesal yang mendalam karena sebagai anak belum bisa memberikan yang terbaik. Doakan selalu kedua orang tua disetiap harinya. Hanya doa anak sholeh dan sholehah yang akan sampai ke surga disaat orang tua telah tiada.


Indramayu, 5 September 2020




EFI RIYANTI


Lahir di Kuningan, pada 31 Oktober. Penulis menyelesaikan studi di Fakultas Pendidikan Matematika, Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon. Memiliki pengalaman mengajar sebagai guru SD dan SMP. Terakhir bekerja sebagai staf akunting dan pajak. Kini sebagai Ibu Rumah Tangga, istri dari pasangan Ringga Afriyan. Penulis sudah menulis cerpen, diantaranya :

1. Broken Home (sudah tayang di Majalah Pendidikan Jawa Barat online Guneman, Juni 2020).

2. Jodohku Sahabat Mantanku (telah terbit dalam buku antologi "Akan Kuberi Tahu Namaku Saat Kita Bertemu Lagi", Agustus 2020).

3. Kakak Terbaik (segera terbit)

Penulis bisa dihubungi melalui :

Email : efiriyanti216@gmail.com

Instagram : @efii_riyanti

WhatsApp : 0857-2152-2743


Subscribe to receive free email updates:

5 Responses to "BUNDA"

  1. Palih mana Kuningann, Teh? Abdi oge kawit ti Kuningan. Sae tah cerpenna. Cerita hal seorang ibu tidak akan pernah habis-habisnya.

    Ampun paralun sanes ngajaran ngojay ka meri. Mung pribados ngaraos yen alinea kahiji saena mah teu langsung nyarioskeun kasimpulan carita. Janten efek kejutna kirang. Altenatipnya di alinea hiji dikontraskeun impian penulis ka ibuna.

    Bunda, begitulah aku, Ayah, dan kedua Adikku memanggilnya. Seorang Ibu yang tangguh, sabar, dan pekerja keras. Wanita yang sangat baik. Istri yang begitu sayang terhadap suaminya yang dengannya akan kami habiskan seribu tahun bersamanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dijalaksana a,tepatna desa sindangbarang. Haturnuhun kanggo krisar naπŸ™‚πŸ™ lebih ngena.

      Delete
  2. Tetep semangat, makin semangat, dan selalu semangat menulisnya 😊πŸ’ͺ

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete