Duka Dalam Sunyi

Oleh: Lidip


#Pentigraf 2


Aku masih tidak percaya dengan berita duka yang kubaca  di portal berita online pagi ini, dalam headline news. Halaman iklan pun nyaris penuh dengan ungkapan turut berduka cita dari berbagai kalangan. Tidak mengherankan karena dia adalah pengusaha kaya yang sangat populѐr, nyaris sepopulѐr artis-artis bekѐn di tanah air. Kutatap nanar buah hati kami yang masih tertidur pulas penuh kedamaian. Usianya yang belum genap empat tahun, pasti belum memahami apa yang terjadi dengan hidupnya. Maafkan ibumu Nak, entah bagaimana harus menjelaskannya padamu tentang hal ini. Kepergian ayahmu yang cukup mendadak menyisakan pilu di relung kalbu. Bagaimana pula menanggung beban ini, hanya berdua saja. Berita-berita itu, sama sekali tidak menuliskan kita sebagai orang yang terkait dengan ayahmu, Nak. Mereka hanya tau, almarhum meninggalkan seorang istri dan empat orang putra putri yang telah dewasa.

Masih kuingat jelas, pertemuan kembali dengannya, saat aku diutus oleh perusahaanku untuk menghadiri sebuah seminar bisnis, lima tahun yang lalu. Tidak kusangka, lelaki yang nyaris berhasil aku lupakan sekian lama, muncul tanpa sengaja saat coffee break. Aku mengakui, kehadirannya dihadapanku masih membuatku seperti terkena aliran listrik yang mampu membuat jantungku berdegup kencang. Aku mencoba menghindar, dengan berusaha diam-diam, pergi ke toilet di hotel berbintang, tempat berlangsungnya seminar itu. Namun rupanya dia masih mengenaliku, dia menyusul langkahku yang sedikit tergesa. “Esti, Esti!, Kaukah itu?" Nampak dia terbelalak seolah tidak percaya. Beberapa pasang mata melihat kearah kami. Aku merasa gugup, hampir tidak bisa mengendalikan diri. Kami nyaris sampai di depan toilet wanita, ketika dia berhasil menyusulku. Dia mencengkram bahuku dengan kuat, tatapannya itu, masih selembut dulu. Dia yang ternyata menjadi salah seorang narasumber pemateri di seminar bisnis tersebut, tampil mendadak menggantikan pembicara yang lain, aku tidak begitu memperhatikan penjelasan panitia tentang hal ini.

Hampir seperempat abad yang lalu, ketika aku terpaksa meninggalkannya, karena orangtuaku tidak menyetujui hubungan kami. Dia berhasil membuatku bertahan menyendiri dalam harapan dan keputus asaan. Orangtuaku pindah tugas, jauh ke luar pulau Jawa, membawaku dengan kepingan hati yang tertinggal di ibu kota negara ini. Pertemuan kembali di seminar saat itu disusul dengan pertemuan-pertemuan berikutnya, sampai kami memutuskan menikah siri, dan aku ikhlas tinggal di sebuah kota, menjadi istri yang tersimpan. Aku sebagai anak tunggal yang sudah lama ditinggal orangtuaku yang meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat, nyaris hidup sebatang kara, seperti sudah terbiasa hidup dalam sunyi. Kini dia meninggalkan kami dalam duka yang juga sunyi, tanpa ucapan duka dari handai tolan. Kecuali beberapa sahabat dekatku, yang tau ini. Mereka baru saja mengirimkan pesan turut berduka melalui WA, sebentar siang mereka akan datang mengunjungi kami. Aku masih terisak dan masih tidak percaya akan kenyataan ini.

 

Indramayu, 10 Juni 2020.

Tentang Penulis

Lidip atau Lilis Yuningsih, S.Pd., M.M,  kepala SMPN Satap 1 Lelea, kecamatan Lelea, kabupaten Indramayu. Pernah mendapat tugas menjadi kepala sekolah DPK di SMP IT Mutiara Irsyady Pekandangan Jaya Indramayu. Selain mengajar juga menjadi penyiar di Radio Cnde FM, Indramayu. Mengasuh acara Obrolan Hati, setiap Rabu malam, pukul 20.00 sampai dengan pukul 22.00.

Penulis bisa dihubungi via email yuningsihlilis@gmail.com , WA 085 63 481 5 381, 085224223574.




 

 




 



Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Duka Dalam Sunyi"