Eva, Aku, dan Lupus


Oleh Nita Herniawati,  S.Pd.

Guru SMP Darul Hikam Kota Bandung



“Teteh ... Teteh .…” Terdengar suara melengking memanggil namaku. 

”Heum, pada siang hari panas  begini, mau apa nih, si cantik Eva, teriak-teriak,“ gumamku.

”Sini, Va, masuk,” jawabku karena tanggung lagi nyuapin si kecil, anakku, yang masih berusia delapan bulan.

Terdengar pintu gerbang berderit dan suara langkah mendekat. Tidak lama kemudian pintu depan pun terbuka. “Hai, tetehku, lagi sibuk, ya?” celotehnya sambil datang menghampiri. Tangannya membawa mangkuk yang aroma makanannya sudah tercium sejak dia masuk.

“Nih, Teh, kubawakan sambal duren. Pagi ini badanku berasa segar, Teh. Alhamdulillah. Aku pengen masak makanan khas daerahku biar si Kang Asep tambah semangat makannya,” katanya sambil senyum-senyum sendiri.

“Aku mau Teteh coba juga, nih, tapi jangan dimakan sama kamu, ya, anak kecil …. Eh, kok kamu makan sambil ngantuk-ngantuk gitu, De,” goda Eva sambil mencubit pipi anakku, Falih, yang sedang kusuapi makan.

“Wah, alhamdulillah. Nuhun, Va,“ jawabku sambil meraih mangkuk di tangannya. Tercium bau khas sambal duren yang menyengat dan kuletakkan di meja. Kulihat dia duduk di kursi menyender dan memejamkan matanya. Kuperhatikan dia tambah kurus belakangan ini … mukanya pucat dan ruam merah di pipinya pun semakin jelas terlihat.

“Sebentar, Va, Teteh tidurkan dulu Falih, ya,” kataku sambil membawa anakku ke kamar. 

Okay, Teh,” jawabnya, ”Tidur nyenyak, ya, De.”

Sekilas kulihat dia mengambil bantal kursi dan menyandarkan kepalanya. Tubuhnya agak merosot membuat posisi duduknya sedikit terbaring. Sepuluh menit sudah akhirnya lelap juga anakku. Ketika ke luar kamar, kulihat Eva sudah tertidur pula di kursi. “Ya ampun, Va ….” Kupandangi wajahnya dan kubiarkan dia pun semakin lelap dengan posisi seperti itu di kursi. Tidak tega aku membangunkannya. Aku duduk di sampingnya dengan perlahan.

Teringat perkenalan kami setahun yang lalu. Aku ketemu Eva di rumah sakit saat aku sedang berobat. Kebetulan pula dia tinggal bersebarangan denganku. Saat itu Eva baru lima bulan  pindah ke daerah tempat tinggalku. Karena jarang ke luar rumah, aku justru mengenalnya di rumah sakit. Eva dan Asep, suaminya, baru tinggal sebulan di Bandung. Awalnya mereka tinggal di Riau. Asep bekerja di perusahaan kayu dan bertemu sampai mempersunting Eva di sana. Kini, karena tugas kerja Asep pindah kembali ke Bandung yang merupakan tempat kelahirannya, Eva pun harus turut suaminya ini merantau ke sini. Terpisah dari orang tua dan kakak juga adiknya. Sampai akhirnya bertemu dan berkenalan denganku.

Eva  menganggap aku sebagai kakaknya sendiri karena usia kami terpaut dua tahun. Bermula dari sini pula, kami bisa lebih dekat bukan hanya sebagai tetangga ataupun teman, tetapi sudah bagaikan saudara sendiri. Aku dan Eva ditakdirkan sama-sama mengidap penyakit Lupus yang mungkin bagi sebagian orang terdengar asing namanya. 

Aku sendiri didiagnosa mengidap penyakit ini ketika berusia 23 tahun. Ya, tiga tahun yang lalu karena sering pusing dan sakit sendi yang tak tertahankan, aku pun mulai berobat. Waktu itu yang merawatku dr. Deni. Beliau saat itu menjelaskan panjang lebar tentang sakit yang kuderita tetapi aku tidak terlalu memedulikannya. Hanya menyampaikan kata setuju ketika beliau menyarankan agar aku tetap datang untuk pemeriksaan kesehatan setiap dua minggu sekali. 

Obat-obatan yang kukonsumsi pun semakin banyak dan aku hanya berpikir ini mungkin salah satu proses penyembuhan yang sedang dilakukan dokter. Sampai akhirnya aku mengetahui apa sebenarnya sakit Lupus setelah beberapa kali keluar masuk RS karenaa harus dirawat dengan gejala sakit yang selalu datang tiba-tiba. Demam tinggi dan lemas. Ya, Lupus (Odapus) adalah suatu penyakit yang menyerang sistem imunitas di mana jaringan yang ada di dalam tubuh dianggap sebagai benda asing. Lupus sendiri tergolong penyakit berbahaya yang cukup banyak merenggut nyawa seseorang. Bahkan penyakit ini setara dengan penyakit kanker yang bisa berdampak pada kematian. 

Aku sempat syok waktu mengetahui positif mengidap penyakit ini. Tetapi semua kukembalikan pada yang Maha Pemberi Takdir. Segala sesuatu sudah ada yang mengaturnya tinggal kita yang menjalani sabar dan ikhtiar. Apalagi dengan dukungan yang diberikan keluarga dan suami membuat aku semakin percaya diri siap menjalani hari-hari dan bersahabat dengan Si Lupus ini.

Begitu pula dengan Eva, adik baru ini. Bedanya, Eva mengetahui mengidap penyakit ini sejak dia di bangku SMP. Kalau dibandingkan denganku memang Eva tergolong Odapus yang lebih berat. Si Lupus ini bukan hanya menyerang organ-organ dalamnya tetapi juga kulitnya yang membuat pipinya memiliki ruam-ruam merah dan tampak jelas karena dia memiliki kulit yang putih bersih. Dengan kondisi seperti ini, Eva memang tidak kuat bepergian jauh. Dia akan cepat letih dan ruam di wajahnya akan semakin memerah saat terkena sinar matahari. Oleh karena itu, ke mana pun dia pergi selalu membawa payung. Sampai kujuluki perempuan berpayung.

Eva bercerita dengan antusias bagaimana dia menghadapi Lupus ini sepanjang hidupnya. Saat pertama kali kami bertemu, sepertinya dia merasa ada teman senasib yang bisa diajak curhat kapan pun. Sharing soal obat ataupun keluhan-keluhan lain yang sering dirasakannya. Eva pun sering keluar masuk rumah sakit untuk menjalani rawat inap. Obat-obatan yang dikonsumsinya pun mulai dari dosis rendah sampai tinggi sudah dia konsumsi untuk mengendalikan Si Lupus yang bersarang di tubuh mungilnya itu. 

Ternyata Allah pun memperlihatkan bahwa ada orang lain yang lebih berat penderitannya dari diriku. Ini aku syukuri dan setiap saat, semampuku, memberikan dukungan pada Eva yang memang setiap hari kesehatannya semakin menurun. Tetapi dengan semangat juangnya yang tinggi pula untuk bisa sembuh, dia selalu tampak ceria. Bahkan tiga minggu yang lalu dia berteriak histeris  serta memelukku erat saat menyampaikan berita bahwa sungguh sebuah keajaiban Eva dinyatakan positif hamil. Dia mengandung anak pertamanya. Masyaallah, itulah kekuasaan Allah yang tidak bisa diperkirakan oleh akal manusia. Meskipun Odapus (orang dengan Lupus) didiagnosa sangat kecil kemungkinan untuk mempunyai keturunan. Ketika Allah berkehendak, maka terbuktilah kuasa-Nya itu.

Entah kenapa aku sangat menyayangi dia. Setiap kali dia datang untuk curhat selalu kudengarkan dan kuberikan dukungan agar selalu kuat sekaligus menguatkan diriku sendiri. Sedih kalau harus melihat dia terbaring lemas berhari-hari apalagi dengan kehamilannya ini. Tetapi begitulah, Eva  juga selalu membuat orang bahagia juga seperti pagi ini yang tiba-tiba datang ke rumah dengan membawakanku sambal duren buatannya. Apa pun yang dia buat dan kelebihan, pasti selalu dikirimkannya ke rumahku sambil bercerita berbagai hal serta kebahagiaannya menjalani kehamilannya ini.

Tiba-tiba bantal kursi terjatuh karena dia terbangun. Sambil tersipu  Eva berkata, “Ih, Teteh, enak banget aku tertidur begini, haha.” Tawanya lepas. 

”Ketularan De Falih ini adiknya,” sambil mengelus perutnya. Aku tersenyum sambil mengelus perutnya juga.

“Sehat, ya, kamu bayi, nanti ada temen main tuh, Kakak Falihnya,“ kataku.  

“Amin, Teh, meskipun kok aku merasa tambah letih setiap hari. Eh, tapi alhamdulillah ketika ke sini, datang ke rumah Teteh, merasa segar, nih. Semoga seterusnya, ya, Teh. Doakan aku  terus, ya,“ katanya.

“Selalu, adikku. Kita akan selalu saling mendoakan. Insyaallah kita harus yakin suatu saat Allah akan ambil kembali penyakit yang diberikan pada kita ini,“ jawabku. 

“Amin, Teh. Asal jangan Allah ambil nyawaku sekarang, ya, Teh. Aku belum siap, nih, masih mau hidup lama bersama akangku tercinta dan mengasuh serta membesarkan anakku ini,“ katanya sambil menunjuk perutnya. 

“Hus!” Kutaruh jariku di depan bibirnya. Aku tersenyum dan memeluk Eva dengan erat. 

“Bisa, Sayang. Kamu dan Teteh pasti bisa  melalui cobaan ini,” bisikku di telinganya.



Ditulis oleh Nita Herniawati

Sarijadi, 24 Agustus 2020

Edit oleh O.K.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Eva, Aku, dan Lupus"

Post a Comment