GADIS KUCIR KUDA

 


Oleh Lina Herlina

Rinduku yang telah mendesakku untuk berada di tempat ini. Kalau dihitung jarak tempuh dari tempatku ke sini memerlukan ratusan kilo meter. Demi kamu, gadis idamanku ku tinggalkan segala urusan kerjaanku di Ibu Kota. Waktu singkat telah mempertemukanku dengannya dalam media sosial. Temankulah yang telah menambahkanku dalam grup whatsapp sekolah kita. Begitu bahagianya aku bisa menemukanmu. Meskipun saat itu kamu telah berkali-kali menolakku dan bahkan cenderung tak pernah memperhatikanku. Kamu yang begitu populer di kalangan anak-anak SMP ternama di kota kecil ini. Seorang gadis cantik berkucir kuda dengan sederet prestasi yang diraihnya. Aktivis OSIS yang digandrungi cowok-cowok keren ini, bahkan tak akan melirik sedikit pun pada seorang siswa naif yang sangat pendiam dan tergolong di bawah rata-rata.

Saat ku hubungi lewat whatsapp pribadi, kamu begitu berbeda dengan dulu. Sekarang begitu wellcome dan enak diajak untuk bercengkrama. Chatingan demi chatingan berlangsung terus hingga beberapa pekan berlangsung. Memang hanya obrolan ringan dan sederhana terkait keluarga masing-masing dan aktivitas kita sekarang. Tapi ini membuatku serasa melambung di awan. Aku mulai tahu keadaan dan kebiasaanmu, hingga alamat tempat tinggalmu sekarang. Kegiatan rutinku sekarang adalah selalu mengintip status whatsappmu dan foto profilmu. Tapi sayang fotomu yang selalu ku nantikan tak pernah muncul di hadapanku. Kamu selalu menunjukkan sisi lain dari wajah dan kehidupanmu. Hobbymu terhadap alam dan fotografi yang kerap kamu tunjukkan di medsos. 

Sambil terkantuk-kantuk ku tunggu kamu di depan gerbang komplek. Menurut kebiasaan yang aku serap, jam segini kamu akan keluar dari gerbang komplek dan menunggu angkutan kota di halte depan. Tak muluk yang ku inginkan hanya melepas rindu dengan melihatmu secara langsung. Meski aku tak dapat menyapamu, tak mengapa. Beberapa saat ku lihat seseorang keluar dari gerbang komplek tersebut. Dan ... deg, dadaku terasa berdenyut keras. Kenapa yang keluar dari sana ibunya atau ... neneknya kali. Seorang ibu paruh baya, yang memakai seragam pemda dengan anggun berpantofel, mengenakan kaca mata dan menenteng tas kerjanya berdiri di hadapanku tengah menunggu angkot. Kemana gadis energik dengan kucir kuda itu? Aku terbatu-batuk saking kagetnya hingga hampir terlepas kaca mata plus minusku. Ku pandangi wajahku dibalik spion alpardku. Berapa puluh tahun kita tak bertemu gadis kucir kuda?

(Penulis adalah seorang guru mata pelajaran PAIBP di SMPN 3 Limbangan Kabupaten Garut).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "GADIS KUCIR KUDA"

Post a Comment