Guru Matematika

 


Oleh : Lidip


Sekian lama menjadi guru matematika, tidak henti memotivasi siswaku untuk menyukai pelajaran matematika. Reward dan funishmen, menghiasi kegiatan belajar mengajar di kelas. “Harus berani salah”, “Jangan takut mencoba”, “Hanya orang yang berilmu yang bisa melihat”, “Setiap soal ada jawabannya, kecuali salah soalnya” rangkaian kata seperti itu, seringkali aku dengungkan untuk menyemangati mereka dalam mengahadapi kesulitan belajar matematika. “Berlatih menyelesaikan soal-soal matematika, sangat bermanfaat, agar kelak dewasa sudah terlatih menghadapi persoalan hidup”. “Matematika jika benar, maka benar dari segala sudut pandang, artinya persoalan matematika, bisa diselesaikan dengan banyak cara, jadi bisa dicek kebenarannya juga dengan berbagai cara”. Begitulah kira-kira upayaku dalam menyemangati mereka.


Dulu, saat teknologi komunikasi belum secanggih sekarang, dimana gadget belum terlalu menyita perhatian mereka para siswa. Aku seringkali dibuat kagum dengan koleksi buku matematika yang dimiliki siswaku. Karena dulu aku memang mengajar di sekolah favorit, dimana daya dukung orang tua siswa sangat mumpuni. Sehingga sarana dan fasilitas belajar siswa kami sangat memadai. Mereka seringkali penasaran dengan soal-soal matematika yang mereka temukan di buku matematika koleksi khusus mereka. Hal ini membuatku harus mengimbanginya dengan lebih sering berlatih lagi menyelesaikan soal-soal pengayaan matematika, agar bisa menjawab soal luar biasa yang tiba-tiba mereka sodorkan. 


Sebagai guru matematika, aku membiasakan siswaku menjadi tutor sebaya bagi temannya. Selain melatih rasa percaya diri, juga untuk menumbuhkan empati mereka ketika melihat temannya menemui kesulitan. Satu hari, di sebuah kelas, siswa yang dikenal pintar mengacungkan tangan setelah aku membuka pertemuan dengan menyampaikan salam dan motivasi. Dia punya soal yang menurutnya sangat sulit diselesaikan. Seperti biasa aku menyuruhnya menuliskan soal tersebut di papan tulis. Setelah aku lihat soalnya, aku sedikit tegang, sebab soal itu kemarin menjadi bahan diskusi kami para guru, dan belum kami temukan jawaban yang dirasa pas. Aku mencoba menenangkan diri, bagaimana pun seorang guru harus menguasai keadaan. Aku persilahkan semuanya memperhatikan soal tersebut. Seperti biasa aku janjikan coklat silverqueen bagi yang bisa membantu menyelesaikan soal itu, sambil aku katakana, soal ini memang tingkat kesulitannya tinggi. Sejenak hening, membuat suasana sedikit mencekam, semua tertarik untuk mencoba. Aku pun mencoba lagi mengorat ngoret hasil diskusi kemarin. 


Seorang siswa mengacungkan tangan, aku persilahkan maju. Baru setengahnya, dia menyerah. Aku tawarkan lagi pada yang lainnya untuk menyempurnakan. Satu orang lagi mengacungkan tangannya, aku persilahkan maju. Memperhatikan mereka menyelesaikan soal dengan caranya, menginspirasiku. Dan aku mulai menemukan titik terang. Diam-diam kuselesaikan oret-oretanku, dan berhasil kutemukan jawabannya. Kulihat di depan papan tulis, siswa ke dua mematung, walau disemangati teman-temannya, akhirnya dia menyerah. Soal sudah dia selesaikan sampai 90%. Aku tawarkan lagi pada temannya yang lain, aku bilang, selangkah lagi akan ketemu jawabannya, sebab ini sudah 90%. Tidak ada seorang pun yang bersedia maju lagi, mereka semua menatapku penuh harap. Baiklah anak-anak, aku harus menunjukkan jawabannya yang tepat. Terima kasih sudah menginspirasi gurumu ini, batinku.  Aku selesaikan soal itu, dan siswaku serentak bertepuk tangan dengan gembira dan menampakkan kekagumannya pada sosok guru didepan mereka ini. Aku berikan coklat silverqueen pada siswa yang sudah mencoba menyelesaikan soal tadi. Walaupun harus dibagi 2, mereka tetap bahagia.

Mereka tidak tau, diam-diam tadi, keringat dinginku mengalir cukup  deras.



Indramayu, 14 Juni 2020.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Guru Matematika"

Post a Comment