Kandas

Oleh Enang Cuhendi

 

Sore itu rintik hujan semakin deras.  Aku terpaksa harus menepi di emper sebuah toko.  Perjalanan ini tidak mungkin kulanjutkan. Baju dan celana basah kuyup.  Kasihan sekali sepedaku sedari tadi kupaksa tadi terus melaju menembus hujan,  kalau manusia mungkin sudah kedinginan.

 

Sambil menahan dingin,  pikiranku melayang. Memikirkan aneka hal yang enak-enak, sekedar untuk mengobati rasa dingin. Sampai pada bayangan semangkok baso dengan kuah hangat yang gurih di lidah.  Tiap sendoknya mampu menetralisir rasa dingin dalam tubuh.  Sambal pedasnya mampu menghidupkan kembali mata yang sudah lelah. Ah, semangkok baso. Itulah yang asa ku sore ini.

 

Terlihat dari jauh ada bayangan kotak berjalan menembus derasnya hujan.  Semakin lama semakin terlihat. Oh, ternyata abang baso dengan gerobaknya yang sedang mencari tempat berteduh.  Ia pun mendekat dan semakin dekat denganku. Setelah mengucap salam, ia memarkir gerobak tidak jauh dariku.  Tangannya mulai beraksi mengeringkan bajunya. Hatiku girang menyambut kedatangannya. Bukan senang melihat ia kehujanan,  tapi ini saatnya impianku bisa terlaksana.  Secepat kilat pertanyaan terlontar dari mulutku.   Si Abang pun menjawab,  "Oh,  maaf De,  basonya habis,  makanya saya hujan-hujanan karena ini mau pulang." Kandas dan akhirnya  kembali kunikmati dinginnya hujan diiringi musik keroncong yang sedang konser di perut.

 

Cicalengka, 22 September 2020


Pentigraf #6

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kandas"

Post a Comment