Lagu Untuk Melati

(Oleh : Lidip)

#Pentigraf

 

Perjalanan malam kali ini tak terhindarkan lagi. Agar tidak sepi, sambil ngecek modulasi, aku putar gelombang radio tempatku bekerja. Di daerah Sumedang suara Bang Ray, rekan penyiar seniorku, terdengar begitu jelas. Bang Ray sedang kirim-kirim lagu dan menyapa pendengarnya sambil tidak lupa mengingatkan protocol Covid-19. Sebelum memutar lagu, sebuah nama dia sapa dengan mesra (entah atau ini hanya perasaanku saja yang sedikit terganggu cemburu), “Hai melati, sudah bobo belum, ‘Lagu Luar Biasa’, dari Admesh Kamaleng segera Bang Ray putar untuk kamu ya”. Beberapa kali mendengarkan Bang Ray siaran, pasti terucap nama Melati secara khusus. Aku mencoba menepis rasa cemburu yang terbersit di hatiku. “Siapa aku?”, aku membatin.

Bang Ray adalah penyiar paling senior, baik usia maupun pengalamannya sebagai penyiar. Dia adiknya direktur sekaligus sebagai kabag siaran, di radio milik keluarganya ini. Siaran hanya malam Minggu saja, acara Musik Pengantar Mimpi Anda (MPMA). Namun, diantara kami, acara dia yang paling tinggi ratingnya. Mungkin karena selain suaranya yang oke, wawasan pengetahuan umum dan wawasan tentang lagu juga paling luas. Sering kali aku lihat di mejanya, ada kiriman makanan dari fans setianya. Bang Ray kalau sedang mengudara, memang ramah dan penuh perhatian, namun kalau tidak sedang mengudara, cenderung cuek dan serius. Aku sebagai orang baru dan boleh dibilang paling yunior, merasa agak segan padanya. Padahal aku menjadi penyiar pun diminta olehnya, melalui serangkaian tes, tes pengetahuan umum, juga tes vocal. Selain itu usia kami bertaut 9 tahun, aku baru 22, dia sudah 31 tahun.

Siang ini ada miting yang dipimpin direktur kami. Selesai miting Bang Ray memanggilku, “Rea, bisa tidak nemenin Bang Ray ke Diskominfo?”. Aku mengangguk, kebetulan jadwal kuliah virtualku, malam. Sesuai protocol Covid aku duduk di belakang, dan Bang Ray pegang kemudi. Suasana kaku dan beku, begitulah Bang Ray kalau tidak sedang mengudara. Aku pun tak berani memulai percakapan.”Rea, Bang Ray kan sedang mencari calon istri nih, kira-kira, kamu mau tidak jadi istri abang?". Aku, gelagapan, menerima pinangan model absurd seperti ini. Agak gugup aku menjawab, “Bukannya abang sudah punya calon?", “Lantas Melati yang sering abang kirimin lagu itu, siapa?”. Nah lho, dia jadinya tau, diam-diam aku suka mendengarkan dia siaran. Mukaku memerah menyadari hal itu. Menurutnya, Melati yang dia maksud adalah aku. Jadi sebetulnya, dia bukan mencari penyiar saat itu, namun mencari calon istri.

 

Tentang Penulis

Lidip atau Lilis Yuningsih, S.Pd., M.M,  kepala SMPN Satap 1 Lelea, kecamatan Lelea, kabupaten Indramayu. Pernah mendapat tugas menjadi kepala sekolah DPK di SMP IT Mutiara Irsyady Pekandangan Jaya Indramayu. Selain mengajar juga menjadi penyiar di Radio Cnde FM, Indramayu. Mengasuh acara Obrolan Hati, setiap Rabu malam, pukul 20.00 sampai dengan pukul 22.00.

Penulis bisa dihubungi via email yuningsihlilis@gmail.com , WA 085 63 481 5 381, 085224223574.


 



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lagu Untuk Melati"

Post a Comment