Langit dan Bumi

 Pentigraf 

(Ummi Mujahidah)


"Assalamualaikum, Bumi." Seseorang menyapaku. Tanpa sempat kupikir, refleks kujawab,

"Waalaikumsalam, Langit."

"Ah, benar kan, ini kamu. Masih ingat dialog itu?" Dia tertawa riang.

Aku menatapnya dengan dada berdegup kencang. Bagaimana aku bisa lupa, itu dialog rutin kita dulu. Dan biasanya setelah itu, kita tak terpisahkan lagi seharian.


"Ada waktu buat kita ngobrol?" Dia menatapku penuh harap. Hatiku berteriak setuju. Tapi akalku menolak mantap.

"Maaf, suamiku menunggu," jawabku pelan. Kulirik dia terlihat kecewa.

"Aku pergi dulu. Assalamualaikum ...." Dalam hati kulanjutkan, "... Langit."

"Waalaikumusalaam, Bumi," jawabnya bergetar.


Setetes air memaksa keluar dari mataku. Dulu kau selalu menganggapku bumi, yang selalu ada di setiap usai penjelajahanmu. Dan aku selalu menganggapmu langit, yang selalu menaungi dalam tiap suka dukaku. Satu hal yang tak pernah kita sadari, bahwa langit dan bumi tak mungkin bersatu.


Ummi Mujahidah nama pena untuk Nurlaela Siti Mujahidah. Mengabdi di SMPN 3 Limbangan sejak tahun 1997 hingga kini. Penggagas buletin sekolah "The Pioneer", pernah membimbing WJLRC SMPN 3 Limbangan, koordinator literasi sekolah.

Tulisan yang sudah dibukukan berupa antologi cerpen tunggal berjudul "Diary Ummi Mujahidah". Beberapa tulisannya tersebar di HU Pikiran Rakyat, Majalah Guneman, dan Majalah Kandaga. Tercatat juga sebagai anggota Tim Editor Majalah Guneman.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Langit dan Bumi"

Post a Comment