Ngahodhod

 Oleh Wijaya 


Dingin itu berkah, malam ini tidak seperti biasanya. Selin si putih dan sipit kesayangan si sulung tampak gelisah, tidak seperti malam-malam yang telah berlalu. Suaranya terdengar ringkih, seakan menahan sesuatu yang sangat berat. Rumahnya yang berdinding kawat diameter 3 mm dan berukuran 50 x 90 cm tidak lagi menjadi tempat yang nyaman. Intonasinya seakan menunggu kehadiran yang didambanya.


Malam ini, memang berbeda. Selain rintik-rintik air membasahi tanah yang seakan-akan berlomba-lomba untuk menggapainya. Hembusan angin terpotret dari goyangan dedaunan yang seakan-akan menampilkan harmonisasi gerakan tematis. Sementara kegelapan semakin menyelimuti, sambil sesekali terdengar suara kodok yang berpesta di dalam lubang yang terisi air. Hmm...ada apa malam ini terasa panjang?, semua suara berpadu seakan ingin menyampaikan sebuah pesan penting.


Meskipun hujan terus mengguyur tanah merah di samping rumah. Nampak pepohonan terlihat gembira dan bersegera menyimpan air di akar-akarnya yang menghunjam bumi. Kembali lagi si Selin terdengar bersuara kencang, meronta-ronta. Ngahodhod di atas peraduannya. Ternyata, menunggu kehadiran pejantan yang dapat memberikannya keturunan. Seandainya Selin bisa bicara, "rindu itu berat, biar Selin si kucing cantik saja yang merasakan".


Rangkasbitung, 23 September 2020. Sambil menemani anak ke tiga membersihkan sepeda.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ngahodhod"

Post a Comment